SENANG rasanya
mendengarmu bercerita tentang banyak hal, apapun yang mampu kamu katakan pada
saya. Seperti ketika tahun lalu kamu bilang pada saya kamu suka sama band
legendaris Dream Theater. Kamu kirim beberapa lagunya untuk saya. SPIRIT CARRIES ON, I WALK BESIDE YOUdan satu yang paling kamu suka. OCTAVARIUM.
Kamu dan saya
pernah menghabiskan semalaman untuk membahas lagu itu. Kata-katanya dan sekian
banyak makna yang kamu dan saya ciptakan dengan hipotesa-hipotesa yang ngawur
dan serius. Apapun, tapi saya menyukainya.
Terlebih ketika
tahun lalu Dream Theater sambang ke Indonesia, ke Jakarta. Kamu dan saya
sepakat itu adalah kesempatan langka. Saya juga bersikukuh kamu harus nonton. Rugi,
kalau sampai kamu nggak nonton. Kapan lagi Dream Theater ke Indonesia,
merasakan euforianya secara langsung. LIVE!
Pikiranmu pun
tak jauh beda dengan saya. Bukan hal yang meranirk ditebak memang. Yang menarik
adalah ternyata kamu memutuskan untuk tidak berangkat, fuck! Padahal saya
berharap bisa mendengar ceritamu, suka cita dalam kata-katamu. Saya juga
lupa kenapa kamu batal berangkat waktu
itu. Itu sudah tahun lalu...
Tahun ini,
Ketika kamu dan
saya kembali dipertemukan dalam keadaan yang berbeda musik yang kamu dengarkan
pun ternyata juga sudah berbeda. Entah bagaimana awalnya kamu dan saya
membicarakan musik-musik ajaib ini. Kamu bilang sama saya kalau kamu menyesal
tak mengenalnya dari dulu, musik-musik ini. Banyak sekali yang kamu ceritakan
tentang musik-musik ini, saya suka mendengarnya. Ceritamu.
Ludwig Van
Beethoven
Wolfgang Amadeus
Mozart
Joseph Haydn
Dan semua
composer yang kamu dengar, yang kamu ceritakan. Saya juga mendengarnya sejak
beberapa waktu terakhir. Meski hanya mendengarnya dan tidak sepiawai kamu
menceritakannya, tapi saya kenal dengan symphony-symphony yang kita bicarakan. Mulai
dari Moonligt Sonata dan Fur Elise yang sudah kapalan di kuping banyak orang, iklan
yang awalnya mirip dengan A Little Night Music, keceriaan dalam The Magic Flute
yang pernah kamu kirimkan pada saya sampai dengan The Ninth Symphony; the
amazing Ode To Joy.
Dan tentang yang
satu itu, si Lacrimosa. Kamu bahkan menjadikan judulnya sebgai status di
Whatsapp-mu selama berhari-hari. Kamu juga bilang nama tokoh perempuan yang
sedang saya garap sekarang mungkin cocok jika namanya diganti menjadi Constanze,
padahal saya jelas-jelas bilang karakter perempuan ini berdarah biru. Hahahahaha.
Atau tentang anjing-anjing kita, kamu bilang namanya Wolfie, stands for
Wolfgang Amadeus Mozart. Hahahahaha
Hingga akhirnya
pada satu hari di bulan kesebelas tahun ini pekerjaan menuntutmu untuk bertugas
di Jakarta selama beberapa minggu, dan hari-hari selanjutnya di kota besar itu
adalah nol besar untukmu. Hari-hari dimana yang kamu ceritakan adalah
kebosanan, jenuh dan lagi-lagi bosan.
Tapi ada saat
dimana saya seperti menemukan semangatmu kembali. Ketika saat itu kamu
mengirimkan sebuah foto. Foto dengan kualitas rendah dan terkesan asal motret
saja. Tapi dari foto itu saya bisa melihat sudut pandangmu, dimana kamu duduk
saat itu. Menyenangkan mendengarmu bercerita bahwa kamu menemukan konser musik
klasik di Jakarta. Kamu bilang pergi ke konser itu lebih enak sendiri. Selain itu tak ada
kata-ka yang mampu kamu pakai untuk melukisnya dalam perasaanmu. Saya senang
mendengarnya...
Suatu saat nanti
kamu harus kembali ke tempat itu untuk nonton konser musik-musik ajaib itu,
meski kamu bilang kamu nggak suka Jakarta. Saya mendukung J
Bahkan mimpi-mimpimu
untuk pergi ke Austria atau Vienna, saya yakin kamu bisa kesana. Seperti saya
yakin kamu akan kembali.
Musik-musik
ajaib itu seperti jalan yang akan membawamu pulang suatu saat nanti kita akan
pulang Hujanku...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar