Kamis, 12 Desember 2013

Musikmu Tahun Ini, Sama Denganku :)



SENANG rasanya mendengarmu bercerita tentang banyak hal, apapun yang mampu kamu katakan pada saya. Seperti ketika tahun lalu kamu bilang pada saya kamu suka sama band legendaris Dream Theater. Kamu kirim beberapa lagunya untuk saya. SPIRIT CARRIES ON,  I WALK BESIDE YOUdan satu yang paling kamu suka. OCTAVARIUM.
Kamu dan saya pernah menghabiskan semalaman untuk membahas lagu itu. Kata-katanya dan sekian banyak makna yang kamu dan saya ciptakan dengan hipotesa-hipotesa yang ngawur dan serius. Apapun, tapi saya menyukainya.
Terlebih ketika tahun lalu Dream Theater sambang ke Indonesia, ke Jakarta. Kamu dan saya sepakat itu adalah kesempatan langka. Saya juga bersikukuh kamu harus nonton. Rugi, kalau sampai kamu nggak nonton. Kapan lagi Dream Theater ke Indonesia, merasakan euforianya secara langsung. LIVE!
Pikiranmu pun tak jauh beda dengan saya. Bukan hal yang meranirk ditebak memang. Yang menarik adalah ternyata kamu memutuskan untuk tidak berangkat, fuck! Padahal saya berharap bisa mendengar ceritamu, suka cita dalam kata-katamu. Saya juga lupa  kenapa kamu batal berangkat waktu itu. Itu sudah tahun lalu...
Tahun ini,
Ketika kamu dan saya kembali dipertemukan dalam keadaan yang berbeda musik yang kamu dengarkan pun ternyata juga sudah berbeda. Entah bagaimana awalnya kamu dan saya membicarakan musik-musik ajaib ini. Kamu bilang sama saya kalau kamu menyesal tak mengenalnya dari dulu, musik-musik ini. Banyak sekali yang kamu ceritakan tentang musik-musik ini, saya suka mendengarnya. Ceritamu.
Ludwig Van Beethoven
Wolfgang Amadeus Mozart
Joseph Haydn
Dan semua composer yang kamu dengar, yang kamu ceritakan. Saya juga mendengarnya sejak beberapa waktu terakhir. Meski hanya mendengarnya dan tidak sepiawai kamu menceritakannya, tapi saya kenal dengan symphony-symphony yang kita bicarakan. Mulai dari Moonligt Sonata dan Fur Elise yang sudah kapalan di kuping banyak orang, iklan yang awalnya mirip dengan A Little Night Music, keceriaan dalam The Magic Flute yang pernah kamu kirimkan pada saya sampai dengan The Ninth Symphony; the amazing Ode To Joy.
Dan tentang yang satu itu, si Lacrimosa. Kamu bahkan menjadikan judulnya sebgai status di Whatsapp-mu selama berhari-hari. Kamu juga bilang nama tokoh perempuan yang sedang saya garap sekarang mungkin cocok jika namanya diganti menjadi Constanze, padahal saya jelas-jelas bilang karakter perempuan ini berdarah biru. Hahahahaha. Atau tentang anjing-anjing kita, kamu bilang namanya Wolfie, stands for Wolfgang Amadeus Mozart. Hahahahaha
Hingga akhirnya pada satu hari di bulan kesebelas tahun ini pekerjaan menuntutmu untuk bertugas di Jakarta selama beberapa minggu, dan hari-hari selanjutnya di kota besar itu adalah nol besar untukmu. Hari-hari dimana yang kamu ceritakan adalah kebosanan, jenuh dan lagi-lagi bosan.
Tapi ada saat dimana saya seperti menemukan semangatmu kembali. Ketika saat itu kamu mengirimkan sebuah foto. Foto dengan kualitas rendah dan terkesan asal motret saja. Tapi dari foto itu saya bisa melihat sudut pandangmu, dimana kamu duduk saat itu. Menyenangkan mendengarmu bercerita bahwa kamu menemukan konser musik klasik di Jakarta. Kamu bilang pergi ke konser itu  lebih enak sendiri. Selain itu tak ada kata-ka yang mampu kamu pakai untuk melukisnya dalam perasaanmu. Saya senang mendengarnya...
Suatu saat nanti kamu harus kembali ke tempat itu untuk nonton konser musik-musik ajaib itu, meski kamu bilang kamu nggak suka Jakarta. Saya mendukung J
Bahkan mimpi-mimpimu untuk pergi ke Austria atau Vienna, saya yakin kamu bisa kesana. Seperti saya yakin kamu akan kembali.
Musik-musik ajaib itu seperti jalan yang akan membawamu pulang suatu saat nanti kita akan pulang Hujanku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar