Rabu, 24 Februari 2016

Baiklah, Tahun Depan...

“Sudah 5 kali kamu melupakan ulang tahunku” kata perempuan itu.

Lelaki itu hanya diam. Dia ingin berkata "Aku tidak pernah melupakan ulang tahunmu. Aku hanya tidak bisa melakukan apa-apa, tidak juga mengatakanya". Tapi itu sudah tidak penting lagi, jadi lelaki itu tetap diam. Setelah beberapa menit baru bicara.
“Tahun ini aku datang---”

“Jangan pergi lagi” segera potong perempuan itu.

Lelaki itu diam lagi. Dia teringat masa yang entah berapa kali dia mendatangi perempuan itu, sebentar, kemudian pergi lagi. Dia mengerti akan kepedihan yg dirasakan kekasihnya. Tapi setiap kali dia berkata, “Aku mengerti kepedihan yang kamu rasakan”, perempuan itu akan menjawab dgn jawaban yg sama “Tidak, kamu tidak pernah mengerti. Kamu tidak akan pergi lagi jika kamu mengerti”.  Akhirnya lelaki itu pun percaya, bahwa dia tidak mengerti. Semengerti apapun dia, itu masih jauh dari apa yang sebenarnya dirasakan perempuan itu.

“Aku tidak tahu” jawab lelaki itu.
“Jangan pergi lagi” perempuan itu tetap meminta.
“Jangan pergi lagi” dan lagi.

Mereka berdua terdiam. Kemudian perempuan itu bicara.
“Apa kamu masih memintaku menunggu kali ini?”
“Tidak” jawab lelaki itu.

“Apa kamu masih memintaku utk mengingatmu?”
“Tidak”

“Apa kamu masih memintaku utk merindukanmu?”
“Tidak”

“Apa kamu masih----?”
“Tidak”

Mereka terdiam lagi. Kemudian lelaki itu berkata: “Aku tidak meminta apapun darimu. Aku tahu. Jadilah apapun yang kamu mau. Lakukan apapun yang kamu inginkan. Aku tetap.”

Suasana hening beberapa saat. Lelaki itu kemudian mengambil sebuah bingkisan dari tasnya.

“Aku punya kado untukmu” kata lelaki itu sambil menyerahkan kadonya.

Dilihatnya perempuan itu tersenyum. Tersenyum. Dan memeluk bingkisan itu, dan tetap tersenyum.

“Silakan dibukaaaa...” kata lelaki itu dengan ramah.

“Apa tahun depan aku akan mendapatkan kado lagi?” tanya perempuan itu dengan senyum masih merekah diwajahnya.

“Itu tidak bisa dipastikan, sayang...” 

“kalo begitu aku tidak akan membukanya” kata perempuan itu sambil memalingkan wajahnya. 

“Lihat saja tahun depan” lelaki itu mencoba membujuk.

Perempuan itu hanya tersenyum.

“Tahun depan kan masih lamaaaaaaa” tambah lelaki itu.

“Kalau begitu biar kubuka tahun depan saja” kata perempuan itu dengan senyum yang merajuk.

“Sudahh, buka sajaa...” kata lelaki itu.

Perempuan itu tidak menjawab, dan tetap hanya tersenyum saja.

“Buka yaaa?” bujuk lelaki itu lagi.

“Kamu sebenarnya tau apa yang bisa membuatku membuka kado ini” kata perempuan itu dengan senyum yg sungguh, terlihat semakin manja kali ini.

“Hmmmm… Baiklah, tahun depan...” kata lelaki itu.


Jumat, 19 Februari 2016

Kamu, Saya Arbitrer_



Jujur.

Saya tak pernah mampu membangun sebuah hubungan bahkan untuk sekedar devinisi imajiner yang sanggup diangan-angankan bahkan hampir setiap orang. Kemampuan atau sebutlah keberanian itu purna setelah hidup saya dijejali tentang pemahaman sebuah rasa yang dikonversi menjadi selembar kertas yang sama sekali tak sarat makna (untuk saya). Legalitasnya juga menghalalkan hal-hal yang tak sanggup dicerna oleh nalar menjadi begitu skeptis.

Saya sendiri terjebak di dalamnya.

Untuk kesalahan masa silam yang dosanya ditanggung hingga tua. Tak apa (sepertinya). Semua ini mengajarkan saya untuk selalu mencari celah menemukan kesenangan sendiri diantara begitu banyak pengertian yang tidak mampu saya telaah satu persatu.

Kamu.

Mungkin menjadi salah satu pengait hubungan yang satu sisinya saya retas. Entah apa atau siapa yang berada di ujung lainnya. Tapi saya memang tak mau menerterjemahkan apapun diantara kamu dan saya menjadi lingua yang dipahami oleh banyak orang, pun kode-kode yang menuntun pemahaman menuju arti itu sendiri.

Sebuah hubungan terbangun, terjalin. Tapi tak pernah terikat.

Seperti saya dan entah apa darimu yang tak pernah punya pola pasti, tapi hampir tak pernah runtuh.

Biar saja ya?

Biar saja seperti ini.

Keharusan begini begitu ini itu tak pernah membuat kamu dan saya lebih baik (nyatanya). Pun tak perlu mencatut kesamaan arti dari pengertian pikir yang lain. Menjadikannya patokan yang lantas mengecap kamu dan saya menjadi yang miring diantara mereka.

Bagaimana ini dinikmati dan dipelajari, itu saja.



Ditulis pada 19 Februari 2016
“Slow Dancing in A Burnin’ Room”

Being Affected_



Saya percaya itu.

Kalau sedikit banyak apapun yang saya baca akan mempengaruhi yang saya tulis. Meskipun proses kreatif yang terjadi pada saat pengolahan (sebutlah) data akan turut mengubah hasil menjadi seperti bagaimana karakter si empunya.

Gelombang (Dee Lestari)

Pulang (Tere Liye)

Selingkuh (Paulo Coelho)

Norwegian Wood (Haruki Murakami)

Go Set A Watchman (Harper Lee)

Kesatria Cahaya (Paulo Coelho)

Sempat membaca buku-buku ini dalam beberapa bulan terakhir. Dua yang teratas mengkontemplasikan cara pandang saya pada bagaimana sisi maskulin dari sebuah karater dibentuk dengan cara yang begitu berbeda.

Adalah Alfa dan Bujang, dua karaker utama dalam dua novel tersebut, yang sama-sama diceritakan sebagai putra daerah yang meninggalkan kampung memulai kehidupan baru di tempat yang juga sama sekali baru. Meskipun demikian penulisnya sama-sama memasukkan beberapa unsur kedaerahan untuk mencegah dua karaker ini tercerabut dari masa lalunya yang juga ihwal dari dimulainya cerita.

Bujang. Karakter yang dibentuk cerdas dalam hal strategi perempuran oleh penulisnya. Sedikit bumbu politik ekonomi dan lebih dominan  perannya dalam kelompok. Shadow economy (yang belum saya paham hingga saat ini) mendandani karakter Bujang ini menjadi laki-laki maskulin yang identik dengan adu otot, adu jotos. Pencitraan yang acap kali disebut dengan “cowok macho” bisa didapatkan dengan segala kekuatan fisik yang ditempel Bujang. Di dukung dengan penciptaan lingkungan khas mafia yang tak jauh-jauh juga dengan kekerasan.

Lain Bujang lain Alfa. Saya mencoba untuk objektif, meskipun saya pribadi menyukai laki-laki semacam karakter si Alfa ini. Alfa lekat dengan citra cerdas secara empirik dan emosional. Tak terlalu ada kekerasan (bahkan hampir tak ada). Sama sekali berbeda dengan tokoh sebelumnya. Alfa identik dengan mimpi, buku, seks (tak terlalu juga), gitar dan teori-teori. Tapi Dee menciptakan karakter maskulin dengan caranya sendiri. Maskulin yang menurut saya...PAS! tidak melulu otot begitu yang disematkan ketika yang disebut adalah laki-laki. Alfa cenderung cerdas secara intelektual. Saya suka!

Dan...

Ketika dihadapkan pada karakter maskulin yang saya bentuk sendiri. Dua tokoh di atas sedikit banyak mempengaruhi saya. Tapi entah bagaimana saya merasa karakter ini tak pernah cukup maskulin. Keterbatasan pengetahuan yang saya miliki juga membuatnya tak cukup seperti yang sya inginkan. Lagi-lagi saya berlari pada komparasi ini itu lagi, yang begini begitu lagi. Bagaimana cerita dan lingkungan yang saya bangun turut menempa karakter ini seperti yang saya mau.

Sepertinya saya harus lebih banyak membaca lagi! Fix!

Kau tahu? Hal paling menyenangkan dari menulis karangan adalah kau bisa menjadi siapapun yang kau mau. Dan menjadikan apa saja seperti kehendakmu. You’re the BOS!



Ditulis pada 13 Februari 2016
Setelah sebuah kontemplasi

ref(RAIN)_



Parit-parit kecilnya sudah mulai menemukan jalan untuk sebuah titik temu. Meski demikian tak juga bertemu pada sebuah kanal besar yang bermuara pada lautan yang sama dimana ide ini dimulai. Alurnya berubah satu-satu dan sungguh menabung jengah, sekaligus memberi harapan baru tentang sesuatu yang terasa begitu dekat tapi tak juga mampu digapai.

Tahun ini!

Yah! Seharusnya tahun ini mereka harus pulang ke rumah yang sama. Bertemu kemudian membicarakan semuanya. Melakukan tugas-tugas yang sudah aku kandungkan sejak hari pertama mereka diciptakan. Meskipun kali ini sama saja seperti pengulangan pada masa-masa sebelumnya, bau tengik pun sudah mulai terendus. Mereka harus tetap bertemu!


Aku masih saja kalah dengan angka itu!

Kalah pada pengulangan ketakutanku, diriku sendiri. Yang masih beterbangan di awang-awang dan belum mampu tertangkap menjadi bentuk solid yang juga bisa diejawantahkan oleh setiap kepala.

Baiklah, tak lagi ada alasan!

No more!

Ditulis pada 01 Januari 2016
Hari yang menampar

Perempuan Mata Biji Salak_



Aku memang tak pernah paham dengan konsep ikatan batin yang selalu dibicarakan banyak orang, pun bagaimana ia bekerja. Nyatanya aku memang bukan seperti orang punya ikatan batin yang entah bagaimana dikategorikan menjadi kuat dan biasa saja. Okelah, ikatan darah aku tahu. Tapi ikatan yang satu ini rasanya begitu abstrak untuk diverbalkan karena tiap kepala punya konsep yang berbeda. Rain denganku? Kami memang punya hubungan darah, tapi enahlah untuk ikatan batin. Ya, kalau itu untuk kedekatan emosional. Bagaimana tidak, kami tak pernah berpisah sejak pertama kali kami memulai semuanya. Membangun apapun hal itu disebut detik demi detik, satu persatu.

Banyak orang yang asing bagi Rain datang dan mencoba membangun apapun diantara mereka untuk merebut hati Rain. Hal itu jarang berhasil dan lebih sering gagal. Mau tak mau semua itu membuaku menarik garis bawah pada pernyataan bahwa Rain tak mudah tertarik pada orang-orang baru. Tapi rupanya pernyataan itu tak mempan pada manusia ajaib satu ini.

Perempuan supel bermata coklat ini rupanya sudah menarik hati Rain. Terhitung dua kali mereka bertemu, tapi Rain bahkan sudah memintanya menemani mandi. Tak sampai enam jam mereka bertemu dan perempuan ini mampu membuat sudut mata Rain berair waktu melihatnya pergi bersama bus malam ke arah barat.

Rain....

Biyung tak tahu apa artinya perempuan ini buat kamu, Le. Tapi perempuan ini satu-satunya orang yang masih memperlakukan biyung dengan waras. Mendengarkan ocehan biyung yang paling ngawur sama seriusnya dengan materi kuliah. Kalau kamu mau tahu, sedikit banyak perempuan ini bisa bercerita dengan benar tentang biyung. Kamu bisa mencarinya nanti.

Dia seperti hujan yang selalu dirindukan, Rain. Bahkan namamu punya kemiripan dengannya. Itupun baru biyung tahu belakangan, saat diam-diam biyung merindukannya. Menyebut namanya berulang-ulang serupa merapal mantra pemanggil hujan.

Bicarakan apa saja dengannya, Le. Maka kamu akan tahu bagaimana isi kepalanya. Bahkan ketika tak ada yang ingin kamu bicarakan, dia akan tetap datang jika kamu memintanya. Kalau biyung laki-laki, biyung tak mau menikah dengannya. Tapi mungkin seumur hidup biyung bersedia menghabiskan waktu dengannya. Nanti, kalau kamu ketemu sama dia. Jadilah dirimu sendiri. Hati perempuan ini begitu luas sampai kamu tak akan bisa mengukurnya. Dia akan menerimamu sebaik dia menerima biyung. Orang yang selalu bisa biyung andalkan.

Temui dia, Le!

Wresthi Kinanthi_



Ditulis pada Minggu, 17 Desember 2015
Setelah sebuah pernikahan sahabat.