“Sudah 5 kali kamu melupakan ulang tahunku” kata perempuan itu.
Lelaki itu hanya diam. Dia ingin berkata "Aku tidak pernah melupakan ulang tahunmu. Aku hanya tidak bisa melakukan apa-apa, tidak juga mengatakanya". Tapi itu sudah tidak penting lagi, jadi lelaki itu tetap diam. Setelah beberapa menit baru bicara.
“Tahun ini aku datang---”
“Jangan pergi lagi” segera potong perempuan itu.
Lelaki itu diam lagi. Dia teringat masa yang entah berapa kali dia mendatangi perempuan itu, sebentar, kemudian pergi lagi. Dia mengerti akan kepedihan yg dirasakan kekasihnya. Tapi setiap kali dia berkata, “Aku mengerti kepedihan yang kamu rasakan”, perempuan itu akan menjawab dgn jawaban yg sama “Tidak, kamu tidak pernah mengerti. Kamu tidak akan pergi lagi jika kamu mengerti”. Akhirnya lelaki itu pun percaya, bahwa dia tidak mengerti. Semengerti apapun dia, itu masih jauh dari apa yang sebenarnya dirasakan perempuan itu.
“Aku tidak tahu” jawab lelaki itu.
“Jangan pergi lagi” perempuan itu tetap meminta.
“Jangan pergi lagi” dan lagi.
Mereka berdua terdiam. Kemudian perempuan itu bicara.
“Apa kamu masih memintaku menunggu kali ini?”
“Tidak” jawab lelaki itu.
“Apa kamu masih memintaku utk mengingatmu?”
“Tidak”
“Apa kamu masih memintaku utk merindukanmu?”
“Tidak”
“Apa kamu masih----?”
“Tidak”
Mereka terdiam lagi. Kemudian lelaki itu berkata: “Aku tidak meminta apapun darimu. Aku tahu. Jadilah apapun yang kamu mau. Lakukan apapun yang kamu inginkan. Aku tetap.”
Suasana hening beberapa saat. Lelaki itu kemudian mengambil sebuah bingkisan dari tasnya.
“Aku punya kado untukmu” kata lelaki itu sambil menyerahkan kadonya.
Dilihatnya perempuan itu tersenyum. Tersenyum. Dan memeluk bingkisan itu, dan tetap tersenyum.
“Silakan dibukaaaa...” kata lelaki itu dengan ramah.
“Apa tahun depan aku akan mendapatkan kado lagi?” tanya perempuan itu dengan senyum masih merekah diwajahnya.
“Itu tidak bisa dipastikan, sayang...”
“kalo begitu aku tidak akan membukanya” kata perempuan itu sambil memalingkan wajahnya.
“Lihat saja tahun depan” lelaki itu mencoba membujuk.
Perempuan itu hanya tersenyum.
“Tahun depan kan masih lamaaaaaaa” tambah lelaki itu.
“Kalau begitu biar kubuka tahun depan saja” kata perempuan itu dengan senyum yang merajuk.
“Sudahh, buka sajaa...” kata lelaki itu.
Perempuan itu tidak menjawab, dan tetap hanya tersenyum saja.
“Buka yaaa?” bujuk lelaki itu lagi.
“Kamu sebenarnya tau apa yang bisa membuatku membuka kado ini” kata perempuan itu dengan senyum yg sungguh, terlihat semakin manja kali ini.
“Hmmmm… Baiklah, tahun depan...” kata lelaki itu.
Lelaki itu hanya diam. Dia ingin berkata "Aku tidak pernah melupakan ulang tahunmu. Aku hanya tidak bisa melakukan apa-apa, tidak juga mengatakanya". Tapi itu sudah tidak penting lagi, jadi lelaki itu tetap diam. Setelah beberapa menit baru bicara.
“Tahun ini aku datang---”
“Jangan pergi lagi” segera potong perempuan itu.
Lelaki itu diam lagi. Dia teringat masa yang entah berapa kali dia mendatangi perempuan itu, sebentar, kemudian pergi lagi. Dia mengerti akan kepedihan yg dirasakan kekasihnya. Tapi setiap kali dia berkata, “Aku mengerti kepedihan yang kamu rasakan”, perempuan itu akan menjawab dgn jawaban yg sama “Tidak, kamu tidak pernah mengerti. Kamu tidak akan pergi lagi jika kamu mengerti”. Akhirnya lelaki itu pun percaya, bahwa dia tidak mengerti. Semengerti apapun dia, itu masih jauh dari apa yang sebenarnya dirasakan perempuan itu.
“Aku tidak tahu” jawab lelaki itu.
“Jangan pergi lagi” perempuan itu tetap meminta.
“Jangan pergi lagi” dan lagi.
Mereka berdua terdiam. Kemudian perempuan itu bicara.
“Apa kamu masih memintaku menunggu kali ini?”
“Tidak” jawab lelaki itu.
“Apa kamu masih memintaku utk mengingatmu?”
“Tidak”
“Apa kamu masih memintaku utk merindukanmu?”
“Tidak”
“Apa kamu masih----?”
“Tidak”
Mereka terdiam lagi. Kemudian lelaki itu berkata: “Aku tidak meminta apapun darimu. Aku tahu. Jadilah apapun yang kamu mau. Lakukan apapun yang kamu inginkan. Aku tetap.”
Suasana hening beberapa saat. Lelaki itu kemudian mengambil sebuah bingkisan dari tasnya.
“Aku punya kado untukmu” kata lelaki itu sambil menyerahkan kadonya.
Dilihatnya perempuan itu tersenyum. Tersenyum. Dan memeluk bingkisan itu, dan tetap tersenyum.
“Silakan dibukaaaa...” kata lelaki itu dengan ramah.
“Apa tahun depan aku akan mendapatkan kado lagi?” tanya perempuan itu dengan senyum masih merekah diwajahnya.
“Itu tidak bisa dipastikan, sayang...”
“kalo begitu aku tidak akan membukanya” kata perempuan itu sambil memalingkan wajahnya.
“Lihat saja tahun depan” lelaki itu mencoba membujuk.
Perempuan itu hanya tersenyum.
“Tahun depan kan masih lamaaaaaaa” tambah lelaki itu.
“Kalau begitu biar kubuka tahun depan saja” kata perempuan itu dengan senyum yang merajuk.
“Sudahh, buka sajaa...” kata lelaki itu.
Perempuan itu tidak menjawab, dan tetap hanya tersenyum saja.
“Buka yaaa?” bujuk lelaki itu lagi.
“Kamu sebenarnya tau apa yang bisa membuatku membuka kado ini” kata perempuan itu dengan senyum yg sungguh, terlihat semakin manja kali ini.
“Hmmmm… Baiklah, tahun depan...” kata lelaki itu.