Jumat, 19 Februari 2016

Perempuan Mata Biji Salak_



Aku memang tak pernah paham dengan konsep ikatan batin yang selalu dibicarakan banyak orang, pun bagaimana ia bekerja. Nyatanya aku memang bukan seperti orang punya ikatan batin yang entah bagaimana dikategorikan menjadi kuat dan biasa saja. Okelah, ikatan darah aku tahu. Tapi ikatan yang satu ini rasanya begitu abstrak untuk diverbalkan karena tiap kepala punya konsep yang berbeda. Rain denganku? Kami memang punya hubungan darah, tapi enahlah untuk ikatan batin. Ya, kalau itu untuk kedekatan emosional. Bagaimana tidak, kami tak pernah berpisah sejak pertama kali kami memulai semuanya. Membangun apapun hal itu disebut detik demi detik, satu persatu.

Banyak orang yang asing bagi Rain datang dan mencoba membangun apapun diantara mereka untuk merebut hati Rain. Hal itu jarang berhasil dan lebih sering gagal. Mau tak mau semua itu membuaku menarik garis bawah pada pernyataan bahwa Rain tak mudah tertarik pada orang-orang baru. Tapi rupanya pernyataan itu tak mempan pada manusia ajaib satu ini.

Perempuan supel bermata coklat ini rupanya sudah menarik hati Rain. Terhitung dua kali mereka bertemu, tapi Rain bahkan sudah memintanya menemani mandi. Tak sampai enam jam mereka bertemu dan perempuan ini mampu membuat sudut mata Rain berair waktu melihatnya pergi bersama bus malam ke arah barat.

Rain....

Biyung tak tahu apa artinya perempuan ini buat kamu, Le. Tapi perempuan ini satu-satunya orang yang masih memperlakukan biyung dengan waras. Mendengarkan ocehan biyung yang paling ngawur sama seriusnya dengan materi kuliah. Kalau kamu mau tahu, sedikit banyak perempuan ini bisa bercerita dengan benar tentang biyung. Kamu bisa mencarinya nanti.

Dia seperti hujan yang selalu dirindukan, Rain. Bahkan namamu punya kemiripan dengannya. Itupun baru biyung tahu belakangan, saat diam-diam biyung merindukannya. Menyebut namanya berulang-ulang serupa merapal mantra pemanggil hujan.

Bicarakan apa saja dengannya, Le. Maka kamu akan tahu bagaimana isi kepalanya. Bahkan ketika tak ada yang ingin kamu bicarakan, dia akan tetap datang jika kamu memintanya. Kalau biyung laki-laki, biyung tak mau menikah dengannya. Tapi mungkin seumur hidup biyung bersedia menghabiskan waktu dengannya. Nanti, kalau kamu ketemu sama dia. Jadilah dirimu sendiri. Hati perempuan ini begitu luas sampai kamu tak akan bisa mengukurnya. Dia akan menerimamu sebaik dia menerima biyung. Orang yang selalu bisa biyung andalkan.

Temui dia, Le!

Wresthi Kinanthi_



Ditulis pada Minggu, 17 Desember 2015
Setelah sebuah pernikahan sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar