Aku memang tak pernah paham dengan konsep ikatan batin yang selalu
dibicarakan banyak orang, pun bagaimana ia bekerja. Nyatanya aku memang bukan
seperti orang punya ikatan batin yang entah bagaimana dikategorikan menjadi
kuat dan biasa saja. Okelah, ikatan darah aku tahu. Tapi ikatan yang satu ini
rasanya begitu abstrak untuk diverbalkan karena tiap kepala punya konsep yang
berbeda. Rain denganku? Kami memang punya hubungan darah, tapi enahlah untuk
ikatan batin. Ya, kalau itu untuk kedekatan emosional. Bagaimana tidak, kami
tak pernah berpisah sejak pertama kali kami memulai semuanya. Membangun apapun
hal itu disebut detik demi detik, satu persatu.
Banyak orang yang asing bagi Rain datang dan mencoba membangun
apapun diantara mereka untuk merebut hati Rain. Hal itu jarang berhasil dan
lebih sering gagal. Mau tak mau semua itu membuaku menarik garis bawah pada
pernyataan bahwa Rain tak mudah tertarik pada orang-orang baru. Tapi rupanya pernyataan
itu tak mempan pada manusia ajaib satu ini.
Perempuan supel bermata coklat ini rupanya sudah menarik hati Rain.
Terhitung dua kali mereka bertemu, tapi Rain bahkan sudah memintanya menemani
mandi. Tak sampai enam jam mereka bertemu dan perempuan ini mampu membuat sudut
mata Rain berair waktu melihatnya pergi bersama bus malam ke arah barat.
Rain....
Biyung tak tahu apa artinya perempuan ini buat kamu, Le. Tapi
perempuan ini satu-satunya orang yang masih memperlakukan biyung dengan waras. Mendengarkan
ocehan biyung yang paling ngawur sama seriusnya dengan materi kuliah. Kalau
kamu mau tahu, sedikit banyak perempuan ini bisa bercerita dengan benar tentang
biyung. Kamu bisa mencarinya nanti.
Dia seperti hujan yang selalu dirindukan, Rain. Bahkan namamu punya
kemiripan dengannya. Itupun baru biyung tahu belakangan, saat diam-diam biyung
merindukannya. Menyebut namanya berulang-ulang serupa merapal mantra pemanggil
hujan.
Bicarakan apa saja dengannya, Le. Maka kamu akan tahu bagaimana isi
kepalanya. Bahkan ketika tak ada yang ingin kamu bicarakan, dia akan tetap
datang jika kamu memintanya. Kalau biyung laki-laki, biyung tak mau menikah
dengannya. Tapi mungkin seumur hidup biyung bersedia menghabiskan waktu
dengannya. Nanti, kalau kamu ketemu sama dia. Jadilah dirimu sendiri. Hati
perempuan ini begitu luas sampai kamu tak akan bisa mengukurnya. Dia akan
menerimamu sebaik dia menerima biyung. Orang yang selalu bisa biyung andalkan.
Temui dia, Le!
Wresthi Kinanthi_
Ditulis pada Minggu, 17 Desember 2015
Setelah sebuah pernikahan sahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar