Selasa, 12 Januari 2016

Lama Tak Menulis__

Semua tahu, menulis adalah kelebihannya. Tulisannya selalu berkarakter dan punya ciri khas. Aku suka membacanya. Tapi setelah peristiwa itu, dia berhenti menulis. Lama, dan sungguh lama tidak lagi menulis.

***

Tak terhitung sudah berapa kali aku meminta agar dia menulis lagi. Sudah berbagai metode aku terapkan, dengan memuji-muji, memberi semangat atau merendahkan agar dia melakukan pembuktian. Tapi semuanya gagal. 

Terakhir kami ketemu, beberapa bulan yang lalu, aku juga memintanya menulis. Waktu itu aku menerapkan metode welas-asih, tapi tetap tidak berhasil.

Malam itu kami sedang makan, di dekat penginapan. Jalanan tak begitu ramai. Suasana hening, dan menurutku ini sangat pas. Kami duduk berhadapan. Dia sedang menikmati sate kambing nya. Sejenak kuletakkan sendok dan garpuku, kulekatkan pandanganku padanya, dan dengan tatapan kasih, aku mulai bicara:

“Sudah lama benar tak ku baca tulisanmu, lebih lama dari kita tak bertemu. Selembar dua lembar pun tak ada, puisi apa lagi. 

Sudah tidak menuliskah kau? Tak adakah bahan untuk kau tulis sekarang? Sudah tak mampu lagi aku membuat kau menulis? 

Sudah tak boleh lagi kah ku baca tulisan-tulisan mu? Sudah tak percaya lagi padaku?

Tulis apa sajalah, tak apa meski bukan tentang aku, tak apa meski bukan karena aku, tak apa meski bukan untuk ku.

Tulisanmu yg paling tak kau suka pun pasti tetap bagus, biarlah aku baca. Tak ada tulisan mu yang tak kusuka.”

Cukup menyentuh, pikirku.

“Sudah lama aku tak baca buku”  

Jawaban yang singkat, dan tanpa sedikit pun menoleh ke arahku. Aku ingin menghela nafas, tapi kutahan. 

“Menulis, sayang..., bukan membaca. Itu hal yang berbeda.” jawabku selembut-lembutnya. 

Segera dia menhentikan makan, meletakkan sendok garpunya, dan menatap kearahku:

“Kau tak pernah mau baca, meski sudah sejak dulu aku minta, tak juga mau membaca sampai sekarang. Bacalah, buku, apa saja, nanti kau mengerti, tak bisa kau menulis tanpa membaca, tak bisa kau membaca tanpa tak menulis.”

“There is no treeless fruit!” (dengan nada yang agak tinggi).

Ungkapan pohon dan buah, rasanya memang tak asing. Tapi tidak seperti itu kalimatnya, yang tadi itu agak aneh. Aku ingin bertanya “apa kamu tidak keliru?”, tapi ini bukan waktu yang tepat. Tapi mungkin maksudmu, membaca itu pohon, menulis itu buahnya. Tak ada buah yang tak berpohon, takkan bisa ada buah jika tak ada pohonnya, takkan bisa ada tulisan jika tak membaca. Aku agak ragu, tapi sepertinya itu tafsiran yang paling tepat.

“Membacalah, kau akan suka, pasti. Tak kan bisa kau berhenti setelah bukumu yg pertama selesai. Takkan cukup pula setelah buku yang kedua, ketiga, keempat, dst. Tanpa kau sadari akan kau curi-curi waktumu untuk membaca, akan kau mimpikan cerita-cerita di buku itu, dan takkan rela kau jika sudah sampai pada halaman-halaman akhir, takkan rela kalau buku itu sudah mau habis“

Tampaknya akan jadi jawaban panjang.

“Dan kau akan sedih, karena kehabisan buku, dan kau takut, takut kalau tak ada buku-buku bagus lagi yang bisa kau baca.”

Memang cukup panjang, dan aku mulai sedikit menyesal dengan usahaku tadi. 

“Setelah itu kau akan menyesal, penyesalan yang dalam, karena baru sekarang mau membaca. Dan pertanyaan ‘kenapa tak dari dulu aku membaca?’ akan terus menghantuimu.”

Tampak masih ada cukup banyak yang ingin kau sampaikan. Tapi aku sudah tidak tertarik. Terpaksa kuberhentikan dgn cukup kasar.

“Oke!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar