Rupanya
sudah dua tahun lalu. Ketika saya dan kamu sengaja melambat-lambatkan pagi
meringkuk dalam selimut. Dan saya tak mungkin lupa pada pertanyaanmu saat itu.
“Kalo
kamu pacar saya, apa kamu bakal ngijinin saya nonton konsernya?”.
Saya
juga ingat waktu itu rasanya ingin tertawa jumpalitan, tapi saya menahannya
setengah mampus demi menghormati “keseriusan” pertanyaanmu.
“Ya
iyalah! Bukan pacarmu saja saya kepengen banget kamu berangkat nonton. Gila aja!
Dream Theater ke Indonesia??? Kapan lagi sayang??”
Saya
baru ngeh kalau obrolan itu sudah dua tahun lalu saat saya secara kebetulan
membaca status teman di media sosial tentang konser kedua Dream Theater tanggal
26 Oktober mendatang. Tangan saya langsung gatal ingin menelponmu, seperti dua
tahun lalu bibir saya gatal terus-terusan memintamu berangkat nonton. Dengan harapan
meski tak ada disana denganmu, kamu akan membawa pulang euforianya dalam cerita
yang pasti akan saya tuliskan juga. Meskipun akhirnya setelah bujukan panjang
saya , kamu memutuskan untuk tidak berangkat. Dengan alasan yang tak pernah
saya tahu hingga saat ini.
Keinginan
untuk menelponmu rontok saat itu juga mengingat kamu yang sudah tak lagi
perduli apapun tentang saya. Meskipun demikian saya masih saja berlama-lama
memandangi layar ponsel, menaik turunkan deretan chat-chat terakhir kamu dan
saya. Hingga saya sampai pada keputusan untuk menuliskan harapan panjang itu
menjadi sekalimat pendek pada status whatsapp.
Entahlah,
kamu paham yang saya maksud atau tidak. Tapi saya yakin kamu akan membacanya. Benar-benar
yakin!
Saya
bahkan sudah berpikir untuk mengirimkan tiketnya ke alamat kantormu yang masih
saya simpan semenjak paketan terakhir yang saya kirim untukmu. Tapi kamu pasti
tahu saya yang mengirimkannya untukmu, meskipun beberapa alternatif juga sudah
saya pikirkan. Tapi kamu bukan laki-laki bodoh. Kamu akan dengan mudah
mengetahui siapa yang mengirimkan tiket tu untukmu.
Hujanku....
Setahun
yang lalu, hari ini, sembilan hari sebelum arak-arakan panjang itu. Saya masih
denganmu dan saling bertanya-tanya tentang hidup yang kamu dan saya jalani. Kenapa
begini dan kenapa begitu.
Sembilan
hari sebelum arak-arakan panjang itu, jika saya tak pernah mengatakannya
padamu. Mungkin saat ini tak ada luka yang saya buat dan tak mampu saya obati
di hidup kamu.
Rindu?
Ya!
Rindu
yang sama yang tidak akan pernah tertebus oleh apapun.
Terimakasih
masih mengingat saya.
Terimakasih
untuk sepotong chat semalam yang tak mampu saya balas.
“Semoga
kamu juga selalu baik-baik saja....”
Selasa, 14 Oktober 2014
08:40