Selasa, 14 Oktober 2014

Last year, 9 days before_



Rupanya sudah dua tahun lalu. Ketika saya dan kamu sengaja melambat-lambatkan pagi meringkuk dalam selimut. Dan saya tak mungkin lupa pada pertanyaanmu saat itu.
“Kalo kamu pacar saya, apa kamu bakal ngijinin saya nonton konsernya?”.
Saya juga ingat waktu itu rasanya ingin tertawa jumpalitan, tapi saya menahannya setengah mampus demi menghormati “keseriusan” pertanyaanmu.
“Ya iyalah! Bukan pacarmu saja saya kepengen banget kamu berangkat nonton. Gila aja! Dream Theater ke Indonesia??? Kapan lagi sayang??”
Saya baru ngeh kalau obrolan itu sudah dua tahun lalu saat saya secara kebetulan membaca status teman di media sosial tentang konser kedua Dream Theater tanggal 26 Oktober mendatang. Tangan saya langsung gatal ingin menelponmu, seperti dua tahun lalu bibir saya gatal terus-terusan memintamu berangkat nonton. Dengan harapan meski tak ada disana denganmu, kamu akan membawa pulang euforianya dalam cerita yang pasti akan saya tuliskan juga. Meskipun akhirnya setelah bujukan panjang saya , kamu memutuskan untuk tidak berangkat. Dengan alasan yang tak pernah saya tahu hingga saat ini.
Keinginan untuk menelponmu rontok saat itu juga mengingat kamu yang sudah tak lagi perduli apapun tentang saya. Meskipun demikian saya masih saja berlama-lama memandangi layar ponsel, menaik turunkan deretan chat-chat terakhir kamu dan saya. Hingga saya sampai pada keputusan untuk menuliskan harapan panjang itu menjadi sekalimat pendek pada status whatsapp.
Entahlah, kamu paham yang saya maksud atau tidak. Tapi saya yakin kamu akan membacanya. Benar-benar yakin!
Saya bahkan sudah berpikir untuk mengirimkan tiketnya ke alamat kantormu yang masih saya simpan semenjak paketan terakhir yang saya kirim untukmu. Tapi kamu pasti tahu saya yang mengirimkannya untukmu, meskipun beberapa alternatif juga sudah saya pikirkan. Tapi kamu bukan laki-laki bodoh. Kamu akan dengan mudah mengetahui siapa yang mengirimkan tiket tu untukmu.
Hujanku....
Setahun yang lalu, hari ini, sembilan hari sebelum arak-arakan panjang itu. Saya masih denganmu dan saling bertanya-tanya tentang hidup yang kamu dan saya jalani. Kenapa begini dan kenapa begitu.
Sembilan hari sebelum arak-arakan panjang itu, jika saya tak pernah mengatakannya padamu. Mungkin saat ini tak ada luka yang saya buat dan tak mampu saya obati di hidup kamu.
Rindu?
Ya!
Rindu yang sama yang tidak akan pernah tertebus oleh apapun.
Terimakasih masih mengingat saya.
Terimakasih untuk sepotong chat semalam yang tak mampu saya balas.
“Semoga kamu juga selalu baik-baik saja....”

Selasa, 14 Oktober 2014
08:40

Tidak ada komentar:

Posting Komentar