Senin, 21 Oktober 2013

Hujan Telah Membawanya, Hatiku...


Tenda-tenda pengantin telah didirikan.
Keramaian akan segera tercipta dalam sekejap saja.
Tapi Hujan telah membawa hatiku kepada tanah-tanah di kota kau puisi.
Yang tinggal adalah ranggas jati dan langkah-langkah lindan dalam sebuah arak-arakan panjang.
Senja pun tak tahu bagaimana hari akan usai.
Selamat pagi Yang Terkasih, Hujanku…
Betapa inginnya aku denganmu, menghabiskan sepanjang hidup bukan hanya dengan cinta.
Ampuni aku sayang, Hujanku…
Tak henti-hentinya bibir ini merapalkan mantra-mantra kerusakan.
Bermunajat tentang sebuah kehidupan lagi denganmu.
Tapi bangkai ini tak lagi punya daya setelah hatinya kau bawa.
Milikmu semuanya sayang…
Tapi tidak dengan raga hampa ini, mungkin belum.
Tak tahu malu hati ini meminta,
Bersabarlah Hujanku, sayangku…
Jejak-jejakmu telah memetakan jalan pulang untukku.
Aku akan pulang
Aku pasti pulang padamu, Hujanku…

Sehari sebelum arak-arakan panjang.
09:24

Sabtu, 19 Oktober 2013

Masuk Ma, aku tak pernah menguncinya...


Pintunya memang tertutup, Ma. Tapi aku tak pernah menguncinya……
Apa salah jika mengharap Mama masuk dan melihatku seperti ini? Iya Ma, anak perempuanmu yang tiga hari lagi akan menikah sedang menangis. Hatinya terluka……
Lihatlah Ma,
Anakmu jatuh hati pada laki-laki yang bukan mempelai prianya.
Bacalah airmatanya, karena bibirnya tak lagi mampu berkata. Tidak untuk menyakitimu Ma……
Ma,
Mungkin terlambat mengatakan ini padamu. Bahwa aku tak ingin berada disana bersama mempelaiku. Kami berbeda Ma, meski terlambat ku katakan padamu……
Mempelaiku ini pria yang baik, sangat baik. Tapi aku tak bisa Ma, meski terlambat ku katakan padamu……
Ketika undangan telah disebar, ketika pelaminan sudah berdiri dalam tenda-tenda pernikahanku.
Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tahu tanpa harus mengatakannya, Ma? Aku tak sanggup menyakitimu. Tidak akan pernah!
Rasanya perih tak mampu membaginya denganmu…….

Jumat, 18 Oktober 2013

Kamar


Kamar adalah rumah, di dalam rumah. Tempat dimana saya menjadi diri saya. Mendengarkan The Magic Flute yang kamu kirimkan ke handphone saya beberapa hari lalu. Tempat saya menghindari keriuhan sebuah pesta pernikahan yang hanya tinggal beberapa hari saja, tak sampai seminggu.
Pernikahan yang saya maksud ini adalah gambling yang saya katakan padamu, meski kamu menyangkalnya mentah-mentah. Kamu tak setuju jika saya mempertanyakan harapan seperti apa yang mampu dijanjikan sebuah pernikahan sampai begitu banyak orang menganggapnya begitu agung. Saya katakan padamu jika pernikahan hanya sebuah perjudian dimana dengan modal sedikit mungkin; biasanya cinta, saya bertaruh untuk untuk mendapatkan pasangan, mas kawin, keturunan, janji-janji, seks, pembantu, sopir dan banyak lagi.
Saya mengerti penolakanmu, tapi saya tak sedang jatuh hati pada laki-laki bodoh_meski menikahi laki-laki yang tak sepintar kamu.
Apa yang harus saya katakan, sayang?
Yah, saya sama sekali tidak sedang berusaha membuatmu berpikir dengan sudut pandang saya. Saya hanya butuh kamu, seperti kamar ini.
Kamu yang membiarkan saya menjadi apapun, membuat saya nyaman. Saya jatuh cinta pada itu darimu. Dan seperti kamar ini, saya tak menceritakan apapun tapi kamu tahu_seharusnya kamu tahu.
Pernikahan ini bukan apapun untuk saya, tapi kamu.