Pintunya memang tertutup, Ma. Tapi aku tak pernah
menguncinya……
Apa salah jika mengharap Mama masuk dan melihatku
seperti ini? Iya Ma, anak perempuanmu yang tiga hari lagi akan menikah sedang
menangis. Hatinya terluka……
Lihatlah Ma,
Anakmu jatuh hati pada laki-laki yang bukan mempelai
prianya.
Bacalah airmatanya, karena bibirnya tak lagi mampu
berkata. Tidak untuk menyakitimu Ma……
Ma,
Mungkin terlambat mengatakan ini padamu. Bahwa aku
tak ingin berada disana bersama mempelaiku. Kami berbeda Ma, meski terlambat ku
katakan padamu……
Mempelaiku ini pria yang baik, sangat baik. Tapi aku
tak bisa Ma, meski terlambat ku katakan padamu……
Ketika undangan telah disebar, ketika pelaminan
sudah berdiri dalam tenda-tenda pernikahanku.
Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tahu tanpa
harus mengatakannya, Ma? Aku tak sanggup menyakitimu. Tidak akan pernah!
Rasanya perih tak mampu membaginya denganmu…….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar