Senin, 27 April 2015

Disiplin dan Jatuh Hati_



Nyanyian Cicada itu saya tulis beberapa tahun lalu, dua atau tiga tahun yang lalu sepertinya. Tapi cerita itu tak pernah selesai sampai saat ini. Yah, seperti cerita kamu dan saya yang entah bagaimana akan selesai.
Nyanyian Cicada bagi saya sendiri mengajarkan bahwa menulis itu bukan hanya tentang ide-ide cemerlang nan luar biasa yang muncul dengan sangat tak terduga. Ide-ide yang saya pikir tak pernah dipikirkan oleh orang lain yang juga sedang berpikir seperti yang saya pikir tentang mereka (hyes!).
Menulis itu juga tentang kedisiplinan. Bukan hanya upacara bendera yang punya. Sedangkan saya tak punya yang satu itu. Disiplin, cuk! Sepele to? Tapi huangelee cuk. Benar-benar salut pada penulis-penulis yang pada akhirnya berhasil menerbitkan tulisannya. Terlebih tulisan yang benar-benar punya kualitas. Bukan hanya sekedar bagus untuk dibaca tp juga menginspirasi untuk menulis.
Lah saya?
Membaca saja belum selesai, bagaimana mau menulis!
Saya bahkan tidak mampu mendisiplinkan diri saya sendiri. Dan pastinya Nyanyian Cicada yang begitu saya inginkan ya masih dalam ingin-ingin saja.
Saya tidak pernah melewatkan bagian itu, menulis dan jatuh hati pada salah satu tokohnya. Namanya Key, Mikeyla....
Saya jatuh hati padanya sejak saat pertama ia saya ciptakan. Petualangan-petualanganya, sikapnya, caranya bicara dan yang paling saya cintai cara berpikirnya. Meskipun saya tak benar-benar bisa memverbalkan karakter ini, tapi saya sudah kepincut duluan ketika memikirkanya. Seperti karakter lain di dalam sana yang juga sedang jatuh hati pada Key, perempuan dalam cerita.
Jadi sebenarnya yang saya tuliskan hanya tentang seorang laki-laki yang jatuh hati pada seorang tokoh dalam cerita, laki-laki yang terjebak dalam pikirannya sendiri yang tidak lagi mampu membedakan dunia nyata tempatnya berada dan dunia cerita tempat Key berada. Laki-laki yang memiliki segalanya dan memilih menghancurkanya demi untuk jatuh hati pada perempuan fiktif dalam cerita yang dibacanya saat SMP.
Suatu saat,
Key dan laki-laki ini harus menemukan cerita mereka. Iya, harus!
Dan saya harus disiplin supaya...........................
Duh sek! Anakku nangis_
#BBLLLAAARRRRR
Nulis blog saja empot-empotan.

Perempuan Pengecut_



Merindukan tumpukan buku-buku di atas kasur. Tertidur diantaranya dan terbangun dengan salah satunya menjadi yang pertama dilihat. Merindukan malam-malam yang tak pernah cukup untuk sekedar mengistirahatkan mata dari insomnia menahun. Merindukan perjalanan-perjalanan panjang tanpa tujuan dengan kereta terpagi yang bisa ditemui. Merindukan terbangun di pagi buta dan merasa kehilangan diri sendiri. Merindukan melamun dengan sadar saat menggosok gigi dan dihujat karena begitu lama di kamar mandi. Merindukan kaos oblong dan celana kolor, bra dan panty hitam tentunya. Merindukan motor. Merindukan dompet kosong dengan begitu banyak wish-list book. Perpustakaan. Merindukan duduk di bawah lampu jalan, berada di pusaran waktu yang berhenti di “saya”. Merindukan lagu Home-Michael Buble dan Society-Eddie Vedder diputar berulang-ulang di playlist selama berhari-hari. Merindukan berbicara pada kepul asap rokok dan alkohol.
Merindukan kota Kau Puisi,
Dan Hujan....
Yah!
Saya masih saja perempuan pengecut.
Kesempatan tidak pernah memilih pengecut yang bahkan tak punya nyali untuk menentukan hidupnya.
Merindukan suatu hari dimana namamu dan saya disebut secara bersamaan.
Selamanya