Kamis, 03 Juli 2014

Lara Hujan_



Ramai bunga berbaur dengan kilau emas cahaya di bilik-bilik kayu. Harumnya berterbangan memenuhi teduh hari dalam dekapan tenda-tenda sukacita. Ramai orang yang datang dan pergi seperti riang burung di pagi musim semi. Setiap mereka mengaitkan damai pada kalian.
Hari itu kamu menikah dengan dia. Aku sudah tidak mampu menahanmu lagi. Baru tadi malam kita berbicara, tentang mimpi-mimpi pada jalanan yang akan kita lalui, tentang kamu yang tidak menginginkan dia, hari ini kamu bersanding dengannya, dengan pendar-pendar cahaya. Obrolan kita semalam masih jelas aku mengingatnya, ini tidak lebih darisekedar sorak sorai untuk mengirimmu kembali padaku. Karena kamu akan pergi begitu saja, meninggalkan dia setelah pesta ini selesai.
“Ini hanya untuk orang tuaku, Hujanku... setelah ini aku akan datang padamu.” Ya, itu hanya bius.
Kamu melarangku datang, mungkin kamu tak sanggup melihatku, aku mungkin juga sama. Aku hanya melihat kalian dari tempat yang hanya bias-bias keramaian saja yang ada. Melihatmu bersanding dengan wajah itu, senyum itu. Ingin aku bakar saja rumahmu. Biarkan membara seperti api melahap pohon-pohon di gunung gersang.
Seandainya aku bisa
Akhirnya juga hanya rokok yang aku habiskan daritadi, hampir tak ada jeda kepul asap sejak aku datang.
“Apa kamu tidak mengingatku yank, aku seperti apa disini? Bagaimana kamu masih bisa tersenyum di sana?”
Jantungku terus berpacu dari tadi, meledak-ledak, keringat dingin, berkali-kali rokokku jatuh. Tanganku gemetar. Bumi ini serasa dihampar gempa dahsyat yang meratakan gunung. Bajuku sudah mulai basah, wajah ini begitu deras.
Bagaimana tidak, melihatmu seperti itu, bersanding dengannya. Belum lagi pada malam-malam kalian nanti. Pada hari-hari yang akan kalian lalui. Pada melati di ranjang kalian, pada wangi-wangi yang memenuhi kamar.
Aku nggak tahu bagaimana aku akan melewati itu, aku bahakana tidak tahu apa aku masih bisa sampai pada waktu itu. Rapuh jiwa ini terus meminta untuk segera mencukupkan hidup.
“Untuk apalagi aku hidup? Untuk apalagi Yank?” kata-kata itu terus mengalir sejak sembilan hari yang lalu.
Aku adalah kelam duka. Aku adalah rintih karang yang terbisukan dengan hantaman badai kesakitan. Aku adalah luka pada remang-remang hari yang tertelan gelap. Aku adalah sepenggal angin lara yang tersayat-sayat. Aku adalah serpih-serpih reruntuhan yang diabaikan waktu. Aku adalah sepenggal kata pada baris-baris puisi. Aku adalah rasa sakit yang meronta ketakutan pada manis kelam hidup yang akan usai.
***


Aku menemukannya ketika sorak sorai bumi mulai memudar, di tepi danau yang airnya merona menelan senja. Ketika kilau bunga sejati mulai mengembang pada beberapa ruang yang mulai terbebas, mengaromakan wangi-wangi yang masih tersisa dari kejam waktu sebelumnya.
Riang angin berebut menelisik helai-helai rambut yang dia biarkan terurai. Sepipih demi sepipih mengantarkan senja menjemput penuh bulan.
Hari sudah mulai gelap, hanya beberapaa serpih sinar bulan yang sampai di sini. Tapi entah,kali ini itu terabaikan. Gelap hari yang biasa menyeretku pulang tak sedikitpun terlihat. Mataku terpaku padanya, yang berdiri di tebing danau, di tempat yang tak biasa ditemukan orang. Menikmati pandangannya sepertijernih air di gunung perawan. Malam terus memenuhi sela-sela bebatuan, tak sedikitpun ruang yang dibiarkannya tercerahkan. Basah udara menelusup di antara tulang-tulang yang meletih, membawa dingin.
Dia, masih disana, seperti meluluh menjadi sandaransinar bulan yang kemudian berpendar ketika sampai padanya. Dia seperti mendengar lantunan melodi malam. Nyanyian sukacita angin dan riang sinar bulan.
Gemerisik air membawa pandanganku sejenak terlepas darinya....
Semakin gelap, sudah malam, waktunya pulang. Tapi aku masih tertuju padanya, masih ingin tetap disini melihat bagaiman dia begitu mencair. Setelah langkah pertama, aku berteriak.
“Hai, kamu ngapain disana?”
Dia terkejut, baru kali ini pandangannya teralihkan dari entah apa yang dia lihat sejak senja.
“Bunga di malam hari, hanya mereka yang terjaga yang dapat menikmatinya.”
Terdengar lembut. Kemudian dia tersenyum dan mengabaikanku lagi.
Aku tercengang, entah darimana dia mendapatkan kata-kata itu. Satu hal yang pasti, perempuan itu mencintai malam....

Dua puisi ini ditulis oleh Hujan,
Pada hari dimana hatinya terluka.
Ketika waktu tak pernah memihaknya_