Rabu, 09 September 2015

Selamat Ulang Tahun :P



Hai....
How do you feel?
Gimana rasanya membaca ini?
Aku berusaha menyembunyikan ini beberapa tahun terakhir. Mati-matian berusaha untuk tetap waras dengan menulis. Karena waktu 24 jam seperti tak pernah cukup. Banyak sekali buku-buku yang aku tinggalkan sama sekali belum tersentuh dan tulisan-tulisan yang belum terdokumenasikan disini. Atau bahkan hanya menguap begitu saja dari kepala.
Aku sendiri juga nggak tau kenapa menulis seperti ini. Lebih mudah bicara denganmu lewat chat-chat panjang kita. Tapi bahkan kata “panjang” itu ak cukup panjang sehingga harus ku sambung disini. Karena aku juga tak pernah dengan sadar mengetahui bahwa aku masih waras atau tidak.
Sebenarnya ini baru akan jadi kadomu beberapa tahun lagi. Seelah cukup banyak tulisan dan “rupa” yang pantas untuk kamu lihat. Tapi aku takut waktuku tak banyak lagi. Atau waktumu untukku yang nggak lagi ada.
Yah!
Seperti inilah keadaan “rumahku”. Rumah Hujan yang selalu dirahasiakan. Tapi dengan kecanggihan isi otakmu, sepertinya menemukan rumah ini menjadi hal yang sangat mudah. Bahakan dalam beberapa chat kita ada hal yang sudah lama kubahas tapi dengan tiba-tiba kamu membahas kembali seolah kamu sudah membacanya disini. Atau memang kamu sudah membacanya ya?
Setelah hari ini mungkin rasa ingin tahumu tentang ini akan hilang. Tapi aku akan terus menulis untuk sekedar tetap waras.
Sesekali “pulanglah” kemari, tengok aku dan bawakan “menu sahur”. “Kuncinya” kutinggalkan di atas kertas bertuliskan peta pulang ke rumah ini.
Selamat ulang tahun ya...
Aku sedang memutar Kau Puisi, dari tadi.

Belum Juga Tenggelam_



Cemburuku yang terakhir belum juga padam,
Sudah kau tambah lagi dengan yang ini.
***
Panjang sungguh kemarau yang ini, dan kering-kering mulai menggersang, hujan tak juga sudi datang menengok, gerimis pun tidak.
Hujan, sudah hilangkah kau dari musim? Bila mendung saja tak ada kau tampakkan, harus ku apakan kegersangan ini?
Yang kudapati tak bisa lain hanya fatamorgana, dan setiap detik-detik nyata adalah kemarau. Dan detik-detik itu sungguh panjang. Dan semakin lama semakin jelas, apapun kutemui, dimanapun detik-detik itu juga yang kudapati.
Lagi-lagi yang terpikir adalah, siapakah sahaya ini hingga berharap kau merindukanku?
Dalam harap kehadiran embun ini, aku bicara pada diriku sendiri:
Hai diriku, kau menuntut bulan di siang hari. Mengertilah, dan katakan ini padanya: siapapun, atau apapun yang kau rindukan, semoga kau selalu berbahagia dengan itu
***
Telah kuceburkan diriku dalam perelaan, meski belum juga tenggelam.

Belum Juga Tenggelam
Tulisan Hujan
Pada sisa-sisa malam
Dipagi yang masih gelap
27 Agustus 2015
Hujanku....
Apalagi yang kau cemburui dari kehidupan palsu perempuan ini?
Bukankah segalanya telahmenjadi jelas bagimu ketika selaksa rindu ini hanya kamu anggap bualan. Sederet kata yang lantas kamu kira kebohongan hanya karena aku tak juga bisa mewujudkannya seperti yang kamu inginkan.
Aku tahu ini sudah lebih dari setahun yang kuminta darimu. Dan hari-hari setelah itu menjadi semakin berat buatku. Aku merasa menjadi perempuan paling tamak yang tak mampu melepasmu ataupun lepas darinya. Aku menjadi perempuan tak punya hati yang membuiarkanmu sendiri disana sementara kebersamaan kami diikat oleh kebohongan.
Aku masih saja pengecut!
Masih saja perempuan yang sering bermimpi, tanpa punya keberanian untuk bangun dan menghadapi.
Apalagi? (sebenarnya) yang bisa dicemburui dari kepura-puraan ini, Hujanku? Memikirkannya saja badan ini sudah gemetar, ketakuan setengah mati. Tapi toh aku harus tetap bertanya.
Apa sebaiknya aku melepasmu?
Dan tak pernah mengganggu hidupmu (lagi)?
Karena aku tak punya apapun. Bahkan pembenaran pun tidak. Jadi apalagi yang bisa kuberikan padamu, Hujanku? Aku tak mau menipumu. Aku memang tak punya apapun.
Ditulis pada 28 Agustus 2015
Dalam ketakutan_



Banyak keajaiban yang saya saksikan sejak kehadiran Rain dalam hidup saya. Satu-persatu takjub iu tak ada alpanya menyita perhatian saya.
Seperti sehari yang lalu.
Hari pertama di bulan September. Bulan yang selalu membuat saya menjadi lebih sentimentil. Saya sedang membaca beberapa buku fabel milik Rain ketika tiba-tiba Rain sudah duduk di samping saya dengan wajah khas bayi bangun tidur. Alangkah terkejutnya saya, kagum lebih tepatnya. Mengetahui laki-laki kecil ini bisa bangun sendiri, turun dari tempat tidurnya dan langsung mencari saya.
Tak henti-henti saya ciumi pipinya. Memujinya, meskipun tak berlebihan. Lebih dari itu saya bangga pada diri saya sendiri.
Rain memang sudah jago naik turun kursi, tempat tidur dan tempat-tempat yang bisa dijangkaunya. Saya tak pernah terlalu khawatir ketika dia mengambil mainannya sendiri di kasur atau asyik dengan krupuknya di atas kursi sambil leyeh-leyeh. Sementara orang-orang meneriakinya dengan kalimat-kalimat kekhawatiran, saya hanya bilang “ Hati-hati yaaa...” dengan suara lantang yang kata “ya”nya di panjangkan. Kemudian orang-orang itu redam khawatirnya ketika Rain menyahut “yaaaa” dengan “ya” yang dipanjangkan juga. Setelah itu saya tinggal mengawasinya saja dari jauh sambil sesekali memintanya hati-hati. Kalau dia butuh saya, dia pasti memanggil “tcaaaaa....tcaaaaa...”. orang-orang akan memprotes caranya memanggil saya. Tapi saya suka dipanggil seperti itu olehnya. Saya memang Biyungnya, tapi dia boleh memanggil saya seperi itu. Suatu saat dia juga akan tahu. Saya hanya ingin dihormati dengan secangkir kopi yang kami minum berdua dengan tangannya merangkul pundak saya. Bukan dengan tetek bengek peraturan ala patriarkal yang seperti itu. Kami akan menghabiskan waktu berdua dengan bercerita. Itu saja, saya ingin jadi temannya juga.
Rain juga suka sekali bermain tanah. Saya senang melihatnya bermain. Tak jarang saya juga ikut berkotor-kotor ria. Saya penasaran dengan yang sedang dikerjakannya. Saya sering diolok karena itu. Dibilang nggak bisa ngurus anak lah apalah. Palingan saya cuma senyum. Biar saja Rain berkotor-kotor. Bermain tanah sepuasnya. Kelak saat dia dewasa mungkin tak ada lagi waktu yang kami miliki untuk seperti itu atau tanahnya yang sudah tak ada. Hahahaha
Dan saya bangga pada diri saya sendiri unuk semua yang saya banggakan dari Rain.
Karena jauh-jauh hari sebelum dia “fasih” naik turun tempat tidur dan kursi, saya mengajarinya untuk turun dari tempatnya dengan posisi kaki yang didahulukan. Kami pernah jatuh bersama. Tertawa. Kemudian mencoba lagi. Bukan hanya sekali dua.
Ahh sudahlah. Tak ada habisnya bercerita tentang Rain. Suatu saat mungkin dia juga akan membaca tulisan ini. Saya tak mau membuatnya jadi malu karena saya terlalu banyak bercerita sementara kekasihnya turut membaca di sisinya. Hahahaha
Le...
Semoga Biyung masih punya waktu sama kamu.
Jangan lupa untuk bahagia ya.

Ditulis pada Rabu, 02 September 2015

Enjoy It, Love_



Apa yang tidak ada itu pasti pernah ada sebelumnya?

Kalau tidak bagaimana kita bisa mengerti, merasakan bahwa sesuatu itu ada atau tidak ada?

Apa ada sesuatu antara ada dan tidak ada?

Apa yang tidak ada hanya bisa dibuktikan bila sesuau itu pernah ada?

Bagaimana cara membuktikan sesuatu yang tidak ada?

Selamat datang Hujanku....
Selamat menikmati pertanyaan-pertanyaan yang dulu juga pernah saya pertanyakan. Membuat saya pontang-panting berseteru dengan pikiran saya sendiri. Semoga kamu menikmatinya juga. Saya, tidak akan pernah bisa memberi jawaban apapun. Kamu harus mencarinya sendiri, bahkan jika itu selamanya. Pertanyaan-pertanyaan ini yang akan membawamu membaca lebih banyak lagi.

Selamat bersenang-senang.
Ditulis pada jumat, 14 Agustus 2015
Setelah omong kosong,
Yang berat.

Selamat Ulang Tahun Rain_



Hari ini, setahun yang lalu....
Laki-laki ini untuk pertama kalinya datang dalam kehidupan saya. Mulai mengacaukan jadwal hidup saya. Saya tidak lagi bisa menikmati malam-malam dengan tumpukan buku dan secangkir kopi, tidak pula bisa menikmati terbangun dengan matahari yang sudah pas di ubun-ubun. Hahahahaha
Tapi entahlah...
Pada saat itu pula saya mulai jatuh hati padanya. Pada matanya. Pada lesung pipit di pipi kanannya. Pada sembilan helai “rambut emas” yang selalu tumbuh lebih panjang dari yang lain. Pada jari-jarinya. Pada senyumnya. Pada caranya merajuk. Pada....semua darinya.
Terkadang mata kami saling beradu untuk beberapa saat sebelum perhatiannya tertuju pada yang lain dan mulai mengabaikan saya. Saya cemburu setengah mati. Saya benci ada selain saya yang mencuri perhatiannya. Tapi kemudian saya dibuatnya terpingkal dengan lambaian tangannya yang “aneh” agar saya tetap dengannya.
Hari ini, setahun yang lalu....
Saya merasakan sakit yang entahlah seperti apa. Dalam kesakitan itu saya masih sempat membawa serta novel Dunia Sophie di ranjang Rumah Sakit. Meski tak lagi mampu membacanya saya hanya berharap pelukan itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang tak lagi mampu saya tahan. Saya tak akan terlalu berlebihan dengan ini. Bukan hanya saya yang pernah merasakan pastinya. Dan hari ini, setahun yang lalu nyawa saya dan laki-laki ini dipertaruhkan. Untuk pertama kalinya jantungnya tak lagi berdetak di bawah jantung saya.
Tubuhnya kecil saat itu. Pucat dan membiru. Saya sendiri tak mampu mendengar apapun ketika itu, bahkan suara tangisnya...
Dan detik ini kami meringkuk dalam selimut yang sama. Menikmati malam, dengannya saja. Dia teman yang menyenangkan....
Saya berusaha menulis tenang kami. Tapi rupanya begitu banyak di antara kami yang tak bisa diverbalkan. Yah, beginilah jadinya...
Saya hanya sanggup memandangi wajahnya sambil sesekali menoleh pada monitor. Sekian detiknya lagi saya kembali menoleh padanya, kalau-kalau dia terganggu dengan suara saya terbatuk atau barangkali ada serangga yang mengganggunya.
Rain...
Baru setahun yang lalu laki-laki ini menyita habis perhatian saya. Saya masih punya seumur hidup yang bisa Rain minta kalau dia mau.
Sungguh. Saya tidak pernah mengajarkan Rain untuk selalu menjadi pemenang dalam setiap kompetisi. Saya hanya Biyungnya yang ingin mengajarinya untuk bahagia dan mencintai semesta. Rain memang baru satu tahun beberapa menit yang lalu. Tapi saya yakin dia akan perlahan belajar hingga nanti pada saanya Rain dewasa, dia akan menghargai setiap hal yang dimilikinya dan berbahagia dalam hidup yang dipilihnya. Karena Rain bukan saya! Sulit memang menanamkan itu pada cara saya mendidiknya. Mengingat Rain dikelilingi oleh lingkungan yang tidak terlalu membuat saya dengan mudah menerapkan cara didik yang seperti itu.
Menjadi orang baik itu harus! Tapi kalau Rain pintar itu bonus saja untuk saya dan Rain :D
Rain nggak harus bersaing dengan siapapun kecuali dengan dirinya sendiri. Saya pun juga nggak akan sibuk membanding-bandingkan dia dengan siapa atau apapun. Saya cuma ingin Rain bahagia, menikmati apapun yang dipilihnya dengan bertanggung jawab.
Selamat ulang tahun, Le...
Biyung selalu berharap untuk segala kebaikan buat kamu. Segala harap yang disemogakan oleh seorang ibu kepada anaknya. Biyung hanya bisa jadi perempuan yang selalu ada di sisimu sampai suatu saat nanti kamu memutuskan untuk tidak lagi membutuhkan Biyung.
Selamat ulang tahun, Rain. Jangan lupa untuk selalu bahagia ya, Le...
Jangan lupa untuk selalu berbagi dan mencintai semesta.

July, 31st 2015
I love you
for a thousand years.