Cemburuku
yang terakhir belum juga padam,
Sudah
kau tambah lagi dengan yang ini.
***
Panjang
sungguh kemarau yang ini, dan kering-kering mulai menggersang, hujan tak juga
sudi datang menengok, gerimis pun tidak.
Hujan,
sudah hilangkah kau dari musim? Bila mendung saja tak ada kau tampakkan, harus
ku apakan kegersangan ini?
Yang
kudapati tak bisa lain hanya fatamorgana, dan setiap detik-detik nyata adalah
kemarau. Dan detik-detik itu sungguh panjang. Dan semakin lama semakin jelas,
apapun kutemui, dimanapun detik-detik itu juga yang kudapati.
Lagi-lagi
yang terpikir adalah, siapakah sahaya ini hingga berharap kau merindukanku?
Dalam
harap kehadiran embun ini, aku bicara pada diriku sendiri:
Hai
diriku, kau menuntut bulan di siang hari. Mengertilah, dan katakan ini
padanya: siapapun, atau apapun yang kau rindukan, semoga kau selalu berbahagia
dengan itu
***
Telah
kuceburkan diriku dalam perelaan, meski belum juga tenggelam.
Belum Juga Tenggelam
Tulisan Hujan
Pada sisa-sisa malam
Dipagi yang masih gelap
27 Agustus 2015
Hujanku....
Apalagi
yang kau cemburui dari kehidupan palsu perempuan ini?
Bukankah
segalanya telahmenjadi jelas bagimu ketika selaksa rindu ini hanya kamu anggap
bualan. Sederet kata yang lantas kamu kira kebohongan hanya karena aku tak juga
bisa mewujudkannya seperti yang kamu inginkan.
Aku tahu
ini sudah lebih dari setahun yang kuminta darimu. Dan hari-hari setelah itu
menjadi semakin berat buatku. Aku merasa menjadi perempuan paling tamak yang
tak mampu melepasmu ataupun lepas darinya. Aku menjadi perempuan tak punya hati
yang membuiarkanmu sendiri disana sementara kebersamaan kami diikat oleh
kebohongan.
Aku
masih saja pengecut!
Masih
saja perempuan yang sering bermimpi, tanpa punya keberanian untuk bangun dan
menghadapi.
Apalagi?
(sebenarnya) yang bisa dicemburui dari kepura-puraan ini, Hujanku?
Memikirkannya saja badan ini sudah gemetar, ketakuan setengah mati. Tapi toh aku
harus tetap bertanya.
Apa
sebaiknya aku melepasmu?
Dan tak
pernah mengganggu hidupmu (lagi)?
Karena
aku tak punya apapun. Bahkan pembenaran pun tidak. Jadi apalagi yang bisa
kuberikan padamu, Hujanku? Aku tak mau menipumu. Aku memang tak punya apapun.
Ditulis pada 28 Agustus
2015
Dalam ketakutan_
Banyak
keajaiban yang saya saksikan sejak kehadiran Rain dalam hidup saya.
Satu-persatu takjub iu tak ada alpanya menyita perhatian saya.
Seperti
sehari yang lalu.
Hari
pertama di bulan September. Bulan yang selalu membuat saya menjadi lebih
sentimentil. Saya sedang membaca beberapa buku fabel milik Rain ketika
tiba-tiba Rain sudah duduk di samping saya dengan wajah khas bayi bangun tidur.
Alangkah terkejutnya saya, kagum lebih tepatnya. Mengetahui laki-laki kecil ini
bisa bangun sendiri, turun dari tempat tidurnya dan langsung mencari saya.
Tak
henti-henti saya ciumi pipinya. Memujinya, meskipun tak berlebihan. Lebih dari
itu saya bangga pada diri saya sendiri.
Rain
memang sudah jago naik turun kursi, tempat tidur dan tempat-tempat yang bisa
dijangkaunya. Saya tak pernah terlalu khawatir ketika dia mengambil mainannya
sendiri di kasur atau asyik dengan krupuknya di atas kursi sambil leyeh-leyeh.
Sementara orang-orang meneriakinya dengan kalimat-kalimat kekhawatiran, saya
hanya bilang “ Hati-hati yaaa...” dengan suara lantang yang kata “ya”nya di
panjangkan. Kemudian orang-orang itu redam khawatirnya ketika Rain menyahut
“yaaaa” dengan “ya” yang dipanjangkan juga. Setelah itu saya tinggal
mengawasinya saja dari jauh sambil sesekali memintanya hati-hati. Kalau dia butuh
saya, dia pasti memanggil “tcaaaaa....tcaaaaa...”. orang-orang akan memprotes
caranya memanggil saya. Tapi saya suka dipanggil seperti itu olehnya. Saya
memang Biyungnya, tapi dia boleh memanggil saya seperi itu. Suatu saat dia juga
akan tahu. Saya hanya ingin dihormati dengan secangkir kopi yang kami minum
berdua dengan tangannya merangkul pundak saya. Bukan dengan tetek bengek
peraturan ala patriarkal yang seperti itu. Kami akan menghabiskan waktu berdua
dengan bercerita. Itu saja, saya ingin jadi temannya juga.
Rain
juga suka sekali bermain tanah. Saya senang melihatnya bermain. Tak jarang saya
juga ikut berkotor-kotor ria. Saya penasaran dengan yang sedang dikerjakannya.
Saya sering diolok karena itu. Dibilang nggak bisa ngurus anak lah apalah. Palingan
saya cuma senyum. Biar saja Rain berkotor-kotor. Bermain tanah sepuasnya. Kelak
saat dia dewasa mungkin tak ada lagi waktu yang kami miliki untuk seperti itu
atau tanahnya yang sudah tak ada. Hahahaha
Dan
saya bangga pada diri saya sendiri unuk semua yang saya banggakan dari Rain.
Karena
jauh-jauh hari sebelum dia “fasih” naik turun tempat tidur dan kursi, saya
mengajarinya untuk turun dari tempatnya dengan posisi kaki yang didahulukan.
Kami pernah jatuh bersama. Tertawa. Kemudian mencoba lagi. Bukan hanya sekali
dua.
Ahh
sudahlah. Tak ada habisnya bercerita tentang Rain. Suatu saat mungkin dia juga
akan membaca tulisan ini. Saya tak mau membuatnya jadi malu karena saya terlalu
banyak bercerita sementara kekasihnya turut membaca di sisinya. Hahahaha
Le...
Semoga
Biyung masih punya waktu sama kamu.
Jangan
lupa untuk bahagia ya.
Ditulis pada Rabu, 02
September 2015