Senin, 26 Oktober 2015

Gelombang dan Semalam Tanpamu_



Satu-satunya yang terpikir olehku adalah kamu telah memutuskan sesuatu-entah apa, setelah pertemuan terakhir kita. Itulah kenapa kamu mendiamkanku. Yah, aku mencoba sadar diri dengan memberimu waktu untuk siap mengatakannya padaku. Bukan! Sebenarnya akulah yang butuh waktu untuk menyiapkan diriku sendiri tentang apapun yang akan kamu katakan nanti. Itupun jika masih ada dialog yang akan mempertemukan kita lagi.

Aku kelimpungan.

Sampai mataku tertumbuk pada sebuah buku yang telah lama berderet di rak koleksi, tapi bahkan sampul plastiknya belum kubuka. Entahlah. Aku menjadi begitu sombong pada rinduku sendiri. Rindu pada buku-buku yang menyita habis perhatianku tanpa perduli pada apapun. Aku mendekati buku dengan cover hitam yang tak tebal itu. Ku taksir ada sekitar 400-500 halaman. Ada gambar, eh, entahlah. Simbol mungkin- di bagian depannya. Berwarna orange keemasan. Simbol yang dengan sekali melihat mampu membuatku memvisualisasikan dalam kepala seperti apa wujudnya dalam alam yang masih kupijak.

Saat itu pukul setengah delapan malam, setelah aku menidurkan Rain.

Kemampuan membacaku jauh berkurang semenjak Rain menyedot habis perhatianku hanya untuknya. Beberapa buku yang coba ku baca malah berakhir naas di tangannya kena kencing, sobek atau bahkan menjadi lauk dalam mangkuk buburnya. Untuk aku yang melihat halaman buku dilipat-lipat saja sudah jengkel setengah mati, lebih bijak aku memilih ulang waktu tidur Rain yang mungkin bisa kupakai untuk membaca.

Malam ini.

Aku mau membaca lagi.

Seketika aku terkesima menyadari diriku sendiri telah berada pada dimensi yang berbeda begitu mulai membaca. Aku kenal perasaan ini, aku karib dengan kecanduan ini. Perasaan menggebu, meletup-letup seperti aku akan mati besok. Jadi buku ini harus kurampungkan sekarang. Sekarang!

Tidak, bukan seperti itu!

Aku hanya terlena. Tersihir masuk pada setiap lini ceritanya. Meninggalkan tubuhku dan menjelma sosok tak terlihat dalam cerita.

Aku jatuh hati, Hujanku....

Sumpah!

Entah pada apa. Tapi, maaf-aku sanggup melupakanmu. Ketika kutengok jam dinding yang menunjuk angka diantara empat dan lima. Buku itu habis kubaca. Meski untuk ukuran jatuh hati, itu waktu yang terlalu lama. Harusnya aku bisa membaca lebih cepat dari itu. Meski membacaku harus diinterupsi-dengan ikhlas, ketika Rain bangun untuk sekedar menyusu atau panggilan alamku yang tak lagi bisa ku tahan.

Aku jatuh hati padanya, Hujanku....

Gelombang.

Ishtar.

Bintang Jatuh.

Si Jaga Portibi.

Oh, demi langit! Entah karena ini euforia pertama kalinya aku kembali membaca atau otakku sudah orgasme padanya-mereka. Tapi aku benar-benar menyukai rasa ini (Ingin terus seperti ini, selamanya). Meskipun begitu habis cerita, aku kembali mengingatmu. Bahkan beberapa saat menciptakan sosok imaginer gabungan citramu yang kusimpan dan penokohan yang kusimpan dari cerita.

Inilah serangan fajarku, Hujanku....

Bulu halus di tengkukku menegak. Seperti merasakanmu dan dia-mereka, sedang mencumbuku. Menciumiku lewat sisa-sisa cerita yang mampu ku rangkai kembali. Aku sampai ingin buru-buru menelponmu, entah untuk apa. Kamu juga tak akan terlalu antusias pada ceritaku. Padaku yang sedang jatuh hati, lagi.

Sumpah, lagi!

Terpujilah yang menciptakan makhluk-makhluk itu begitu abstrak tak tersentuh. Hingga aku bisa menikmatinya seperti apapun yang kubutuhkan. Yang meramu mimpi basahku ketika fajar dan membuat kursorku berlari begitu kencang, berkelip sebentar kemudian kembali berlari.

Sungguh.

Aku merindukan disiksa seperti ini.

Kamu pasti sudah membacanya, kan?

Kadang aku menangkap arah pembicaraanmu yang mulai nyleneh. Bertanya ini itu seolah aku ini ensiklopedia atau kamus berjalan. Tapi aku juga sering seperti itu. Dengan tak tahu waktu bertanya pada seseorang yang kupikir akan sanggup meladeniku.

Baiklah.

Aku harus tidur. Sebelum Rain bangun dan duniaku diambil alih olehnya-dengan ikhlas. Sampai kapan kamu mau mendiamkanku?

Ditulis pada pagi,
Setelah jatuh hati
Jumat, 23 Oktober 2015

Senin, 19 Oktober 2015

Alarm Sisa Kemarin_



Hari ini aku bangun lebih cepat dari alarm yang ku pasang semalam. Meskipun pada akhirnya lebih memilih berlama-lama di depan cermin. Menatap entah apa. Tak tahu mencari yang bagaimana. Tapi aku tak juga menemukan keyakinan untuk bertemu denganmu.

Bukan.

Bukan tentang keseriusanku untuk menemuimu yang kamu sebut sebagai “kok dungaren”.
 
Yah. Aku tak yakin kamu bersedia menemuiku dengan segala keterbatasan yang mungkin sudah lama kamu tinggalkan. Keterbatasan yang mengerdilkan diriku sendiri dihadapanmu. Meskipun pada akhirnya dengan tak tahu diri aku toh tetap pergi menemuimu.

Sepanjang jalan tak lepas kupegangi jantungku. Takut kalau-kalau jatuh tak kuat menahan detaknya yang begitu kencang. Kau tahu? Bertemu denganmu selalu menjadi kencan pertama untukku. Memikirkannya saja membuatku tak bisa tidur. Aku selalu takut bangun kesiangan seperti biasa. Merencanakan ini itu untuk kubicarakan denganmu. Memilih baju yang akan kupakai. Sapaan pertama yang akan kuucapkan begitu melihatmu. Ah, memalukan! Meskipun pada akhirnya aku bahkan tak perduli dengan apapun yang sudah kupikirkan begitu bertemu denganmu.

Yah, aku ingin bertemu denganmu. Itu saja.

Berlama-lama menatapmu.
Merasakan detak jantungmu.
Napasmu.

Aku merasa semakin tak pantas denganmu. Begitu piciknya pikiranku untuk bisa denganmu. Memilikimu.
Rasanya bintangpun tak sejauh itu untuk digapai. Tapi untuk denganmu, sampai bintang itu mampu kugapai rasanya aku tak pernah bisa membuat diriku pantas denganmu.

Laki-laki muda yang dulu pernah mengatakan padaku bagaimana jika pada akhirnya ia hanya akan menjadi kuli, apakah aku tetap ingin bersamanya? Laki-laki yang aku melarangnya merokok jika bukan dengan uangnya sendiri. Laki-laki yang bahkan membuat satu candaan saja tak bisa karena begitu serius dengan hidupnya.

Entahlah.

Tapi itu memang laki-laki yang sama yang pagi ini membuatku terbangun pada pagi yang melangut oleh alarm sisa kemarin. Tergopoh-gopoh ke kamar mandi dan mencuci muka. Tak henti-henti merutuki diri karena aku pikir ini hari Jumat. Namun ketika aku menatap kaca dan menemukan sepasang mata yang balik menatap, mata itu bilang hari ini sudah kemarin.
Kalau kamu mau tahu. Kemarin aku bangun lebih cepat dari alarm yang ku pasang malam sebelumnya. Meskipun pada akhirnya lebih memilih berlama-lama di depan cermin. Menatap entah apa. Tak tahu mencari yang bagaimana. Tapi aku tak juga menemukan keyakinan untuk bertemu denganmu.

Maaf.

Maaf karena perempuan tak tahu diri ini begitu berani memintamu untuk bertemu dengannya. Terimakasih

Ditulis pada pagi setelah bertemu.
Sabtu, 17 Oktober 2015

Selasa, 13 Oktober 2015

Karma dan Mention Menjelang Pagi_



Apalagi yang harus aku takutkan tentang karma? Bukannya aku sedang menjalaninya? Memikirkanmu seumur hidup tanpa pernah bisa menyentuhmu. Apa ada lagi yang bisa membuatku takut?

Laki-laki itu aku kenal semenjak kecil. Putri sulungnya bahkan seusia dengan adikku. Sementara putra bungsunya sering sekali ku gendong sewaku kecil, kala itu aku masih di sekolah dasar. Hubungan kami baik. Dia juga laki-laki yang menurut cerita kebanyakan orang baik.
Hingga hari itu semuanya berubah. Laki-laki yang mulanya juga kupikir baik ini melakukan satu hal yang tidak pernah bisa kumaafkan. Hal sepele, tapi diracik dengan begitu pahit lewat mulutnya yang kelewat batas. Aku jarang tersinggung, cenderung tak terlalu perduli malah. Tapi entah bagaimana hari itu dia sudah menyakitiku. Keluargaku.
Meskipun demikian, ibuku tak pernah bisa menolak permintaan tolongnya. Mulutnya tetap saja kelewat batas. Tapi aku tak ingin memposisikan ibuku pada keadaan serba salah antara tetap menjaga hubungan baik dengannya atau menjaga perasaanku.
Aku tak punya magic seperti nenek sihir yang mampu mengutuk orang dengan mantra-mantra ajaibnya. Tapi sejak hari dimana aku disakiti dan dibuat menyingkir dari orang-orang yang ketika itu tak melepaskan pandangan dari pertengkaran kami, aku tak pernah bisa lunak pada kebencianku sendiri pada laki-laki itu. Keyakinanku bahwa suatu saat putrinya akan berada diposisiku dan merasakan sakit yang sama atau bahkan lebih dari yang aku rasakan rupanya bereaksi pada alam.
Kejadian itu sudah bertahun lalu. Tapi hingga beberapa bulan pada malam aku diberitahu bahwa laki-laki itu meninggal tanpa mendapat pertolongan. Aku tetap tidak memaafkannya. Biar benciku dibawanya mati. Laki-laki itu sudah meninggal dan sama sekali tak butuh maaf dariku. Maaf tak akan terlalu berguna untuk yang sudah mati, itupun jika memang kehidupan seelah mati memang benar ada.
Sudah. Benciku selesai.
Meskipun demikian yang orang sebut sebagai karma itu mungkin tetap saja bekerja seperti seharusnya. Aku tidak membenci putrinya, sama sekali tidak. Dia sudah seperti adikku. Tapi alam bekerja dengan cara yang berbeda. Seperti aku kuat menghadapi sakit yang sudah ditabur oleh laki-laki itu, putrinya pun akan kuat menghadapi ini.
Jangan pernah merasa tenang ketika kamu tahu telah menyakiti seseorang atau sesuatu. Mungkin tidak terjadi padamu. Tapi alam merekam semua yang kamu lakukan. Dan karma itu-jika memang ada, dia akan mencari celah diantaranya untuk mendekatimu. Tiba-tiba kamu akan terkejut tanpa punya kesempatan untuk mengelak ketika kamu telah berada di dalam pusarannya.
Setiap manusia punya rasa takut. Ada yang bisa mengendalikannya, ada yang tidak. Aksi dan reaksi itu selalu ada. Karma, atau apapun itu kamu menyebutnya. Hanya bagian dari reaksi atas aksi yang sudah dilakukan. Tidak melulu buruk, banyak yang baik. Tapi kalau kamu berpikir semuanya selesai setelah kamu mendapatkan karmamu, kamu nol besar. Karena sikapmu pada karma itu, aksimu menentukan reaksi selanjutnya yang akan terjadi. Itu semua seperti mata rantai yang tak pernah putus.
Entahlah.
Meski membencinya, laki-laki itu memberiku banyak pelajaran. Berbulan lalu dia meninggal, baru malam ini kamu membuatku sadar akan datang reaksi yang kamu sebut sebagai karma itu suatu saat padaku. Kalaupun ada yang tak memaafkanku hingga aku mati, semoga itu bukan kamu.

Ditulis pada pagi yang angkanya kamu benci
Selasa, 13 Oktober 2015

Kamis, 08 Oktober 2015

Tidak Dulu_


Beberapa hari ini aku bingung, meski tak bingung-bingung amat, tapi cukup bingung. Ada tawaran rumah menarik. Aku mendapat informasi itu dari temanku. Dia sudah beli rumah di perumahan baru itu. Dan memang harganya tergolong murah, tempatnya oke, angsurannya terjangkau.

Berkali-kali teman ku menyarankan untuk membeli saja rumah itu, untuk masa depan katanya, untuk investasi kata yg satunya, untuk persiapan nikah, anak istrimu nanti, untuk uang-uang lebih yg daripada tak digunakan, dan untuk-untuk yg lain...

Dan aku jadi bingung. Aku ragu untuk beli, juga ragu untuk tidak beli. Kalo melihat penghasilanku sekarang, memang harga segitu takkan memberatkanku. Dan setelah kupikir-pikir justru disitu awal masalahnya, karena aku sanggup membeli. Seandainya harganya mahal dan diluar jangkauanku tentu dengan mudah aku berkata ”tidak”.

Tapi hari ini aku sdh mendapatkan jawabanku, dan jawabanya: tidak, aku tidak beli. Saat ini rumah tidak penting bagiku. Aku tak terlalu membutuhkannya. Kos 2x3m masih cukup. Biar yg lain saja yg lebih membutuhkannya yg beli, aku, tidak dulu.

Aku tak bermaksud menyampaikan jawabanku itu, tp jika nanti temanku masih bertanya, tentu akan kujawab: “tidak”

Dan kalo temanku nanti masih berkata: tapi ini baik utk investasi, mumpung harganya murah, untuk masa depan....
Maka jawabanku: siapa yg tau tentang masa depan, masa yang belum tentu aku bisa sampai kesana. Biarlah masa depan datang, yang sekarang ya sekarang, dan sekarang aku tak membutuhkan rumah itu.
Dan tentang “murah” yg selalu bersifat relativ itu, kupikir aku tak perlu menjelaskannya. Harga yang sepuluh kali rumah itupun, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan menjadi tergolong murah bagiku.

Dan kalo temanku juga menyangkut pautkan rumah dgn perempuan, pernikahan, akan ku katakan: Aku tidak akan menikah dgn perempuan yg hanya krn aku tidak punya rumah, dia tdk jadi mau menikah dgnku. Dan aku tak khawatir, kalau memang semua perempuan seperti itu pun, itu tak jadi masalah, tak perlu memaksakan menikah jika memang tak ada perempuan yg layak untuk dinikahi.

Sebenarnya itu masalah yang sederhana, dan aku merasa bodoh hanya karena hal kecil itu sempat membuatku bingung selama beberapa hari, meski tak bingung-bingung amat.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Still Nothing_



Hidup dan menyaksikan orang-orang yang kia cintai satu-persatu mati itu seperti menikmati kesialan karena berumur tua. Terlebih ketika yang mati tak berumur lebih tua atau setidaknya sama dengan kita. Seharusnya masih banyak yang bisa mereka nikmati. Tapi entahlah, kematian itu selalu adil dan tak pernah salah memilih-mungkin.
Aku juga pernah berharap tentang kematian seseorang untuk bisa denganmu. Jahatnya. Tapi aku memang pernah memikirkannya. Membayangkan saat kami menua dan tinggalah aku yang hidup sendiri, kemudian aku bisa mencarimu dengan sisa umurku pun pernah terpikir. Tapi saat itu mungkin kamu sedang menikmati hari tuamu juga. Di sebuah rumah kecil dengan halaman yang luas. Memandangi perempuan yang mungkin sudah kamu nikahi juga. Dan aku? Hama saja.
Rasanya baru kemarin aku jatuh hati denganmu. Tapi raga ini sudah kalah pada kerentaan. Hati berusia muda yang terjebak dalam tubuh tua yang pasti akan mati. Sementara waktu terlalu jujur untuk berbohong bahwa cinta masa muda itu baru saja kemarin. Tak jarang aku menyalahkanmu. Seharusnya hidupku bisa lebih baik dari ini. Tapi aku juga selalu membantahnya sendiri. Kamu sudah disana. Aku yang terlalu pengecut.
Berbulan-bulan aku ada disana. Di rumah. Berharap bisa merubah sesuatu. Tapi hingga hari aku menulis ini di rumah yang lain, tak ada yang bisa ku rubah. Oh ya, aku menulis ini di bis.

Kau mungkin tak tahu itu tempat tidurku. Tapi aku senang kau berada  disana. Tentang mengapa kau memilihnya aku pun tak tahu. Tapi itu memang tempat tidurku.
Matamu.
Hidungmu.
Dadamu.
Jari-jari tanganmu.
Kakimu.
Kamu.
Tak cukup bagiku menikmatimu seperti ini. Kau, apa kau tak bisa berkali-kali lagi mencumbuku? Melumat habis bibirku dengan tatapanmu yang tanpa ampun?
Tanganmu bergerak ketika kupikir kau akan mendekapku seperti biasanya. Tapi kau tak juga mau melihatku. Matamu beralih tiap kali aku sengaja menatapmu. Untuk sekedar beradu pandang. Untuk sekedar mencari tahu kemana hilangnya perempuanku selama ini.
Baiklah.
Aku menyerah.
Kau mungkin sedang tak ingin denganku.
Ciumlah aku jika kau mau.
Meski di bibirmu masih tersisa bekas kopinya.

Sementara Rain di sisi lain tanganku, aku berada satu jam dari kotamu. Entah sampai kapan, aku mencoba.
Jatuh cintalah, Hujanku....