Hidup
dan menyaksikan orang-orang yang kia cintai satu-persatu mati itu seperti
menikmati kesialan karena berumur tua. Terlebih ketika yang mati tak berumur
lebih tua atau setidaknya sama dengan kita. Seharusnya masih banyak yang bisa
mereka nikmati. Tapi entahlah, kematian itu selalu adil dan tak pernah salah
memilih-mungkin.
Aku
juga pernah berharap tentang kematian seseorang untuk bisa denganmu. Jahatnya.
Tapi aku memang pernah memikirkannya. Membayangkan saat kami menua dan
tinggalah aku yang hidup sendiri, kemudian aku bisa mencarimu dengan sisa
umurku pun pernah terpikir. Tapi saat itu mungkin kamu sedang menikmati hari
tuamu juga. Di sebuah rumah kecil dengan halaman yang luas. Memandangi
perempuan yang mungkin sudah kamu nikahi juga. Dan aku? Hama saja.
Rasanya
baru kemarin aku jatuh hati denganmu. Tapi raga ini sudah kalah pada kerentaan.
Hati berusia muda yang terjebak dalam tubuh tua yang pasti akan mati. Sementara
waktu terlalu jujur untuk berbohong bahwa cinta masa muda itu baru saja
kemarin. Tak jarang aku menyalahkanmu. Seharusnya hidupku bisa lebih baik dari
ini. Tapi aku juga selalu membantahnya sendiri. Kamu sudah disana. Aku yang
terlalu pengecut.
Berbulan-bulan
aku ada disana. Di rumah. Berharap bisa merubah sesuatu. Tapi hingga hari aku
menulis ini di rumah yang lain, tak ada yang bisa ku rubah. Oh ya, aku menulis
ini di bis.
Kau
mungkin tak tahu itu tempat tidurku. Tapi aku senang kau berada disana. Tentang mengapa kau memilihnya aku
pun tak tahu. Tapi itu memang tempat tidurku.
Matamu.
Hidungmu.
Dadamu.
Jari-jari
tanganmu.
Kakimu.
Kamu.
Tak
cukup bagiku menikmatimu seperti ini. Kau, apa kau tak bisa berkali-kali lagi
mencumbuku? Melumat habis bibirku dengan tatapanmu yang tanpa ampun?
Tanganmu
bergerak ketika kupikir kau akan mendekapku seperti biasanya. Tapi kau tak juga
mau melihatku. Matamu beralih tiap kali aku sengaja menatapmu. Untuk sekedar
beradu pandang. Untuk sekedar mencari tahu kemana hilangnya perempuanku selama
ini.
Baiklah.
Aku
menyerah.
Kau
mungkin sedang tak ingin denganku.
Ciumlah
aku jika kau mau.
Meski di
bibirmu masih tersisa bekas kopinya.
Sementara
Rain di sisi lain tanganku, aku berada satu jam dari kotamu. Entah sampai
kapan, aku mencoba.
Jatuh
cintalah, Hujanku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar