Sabtu, 03 Oktober 2015

Still Nothing_



Hidup dan menyaksikan orang-orang yang kia cintai satu-persatu mati itu seperti menikmati kesialan karena berumur tua. Terlebih ketika yang mati tak berumur lebih tua atau setidaknya sama dengan kita. Seharusnya masih banyak yang bisa mereka nikmati. Tapi entahlah, kematian itu selalu adil dan tak pernah salah memilih-mungkin.
Aku juga pernah berharap tentang kematian seseorang untuk bisa denganmu. Jahatnya. Tapi aku memang pernah memikirkannya. Membayangkan saat kami menua dan tinggalah aku yang hidup sendiri, kemudian aku bisa mencarimu dengan sisa umurku pun pernah terpikir. Tapi saat itu mungkin kamu sedang menikmati hari tuamu juga. Di sebuah rumah kecil dengan halaman yang luas. Memandangi perempuan yang mungkin sudah kamu nikahi juga. Dan aku? Hama saja.
Rasanya baru kemarin aku jatuh hati denganmu. Tapi raga ini sudah kalah pada kerentaan. Hati berusia muda yang terjebak dalam tubuh tua yang pasti akan mati. Sementara waktu terlalu jujur untuk berbohong bahwa cinta masa muda itu baru saja kemarin. Tak jarang aku menyalahkanmu. Seharusnya hidupku bisa lebih baik dari ini. Tapi aku juga selalu membantahnya sendiri. Kamu sudah disana. Aku yang terlalu pengecut.
Berbulan-bulan aku ada disana. Di rumah. Berharap bisa merubah sesuatu. Tapi hingga hari aku menulis ini di rumah yang lain, tak ada yang bisa ku rubah. Oh ya, aku menulis ini di bis.

Kau mungkin tak tahu itu tempat tidurku. Tapi aku senang kau berada  disana. Tentang mengapa kau memilihnya aku pun tak tahu. Tapi itu memang tempat tidurku.
Matamu.
Hidungmu.
Dadamu.
Jari-jari tanganmu.
Kakimu.
Kamu.
Tak cukup bagiku menikmatimu seperti ini. Kau, apa kau tak bisa berkali-kali lagi mencumbuku? Melumat habis bibirku dengan tatapanmu yang tanpa ampun?
Tanganmu bergerak ketika kupikir kau akan mendekapku seperti biasanya. Tapi kau tak juga mau melihatku. Matamu beralih tiap kali aku sengaja menatapmu. Untuk sekedar beradu pandang. Untuk sekedar mencari tahu kemana hilangnya perempuanku selama ini.
Baiklah.
Aku menyerah.
Kau mungkin sedang tak ingin denganku.
Ciumlah aku jika kau mau.
Meski di bibirmu masih tersisa bekas kopinya.

Sementara Rain di sisi lain tanganku, aku berada satu jam dari kotamu. Entah sampai kapan, aku mencoba.
Jatuh cintalah, Hujanku....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar