Apalagi
yang harus aku takutkan tentang karma? Bukannya aku sedang menjalaninya? Memikirkanmu
seumur hidup tanpa pernah bisa menyentuhmu. Apa ada lagi yang bisa membuatku
takut?
Laki-laki
itu aku kenal semenjak kecil. Putri sulungnya bahkan seusia dengan adikku.
Sementara putra bungsunya sering sekali ku gendong sewaku kecil, kala itu aku
masih di sekolah dasar. Hubungan kami baik. Dia juga laki-laki yang menurut
cerita kebanyakan orang baik.
Hingga
hari itu semuanya berubah. Laki-laki yang mulanya juga kupikir baik ini
melakukan satu hal yang tidak pernah bisa kumaafkan. Hal sepele, tapi diracik
dengan begitu pahit lewat mulutnya yang kelewat batas. Aku jarang tersinggung,
cenderung tak terlalu perduli malah. Tapi entah bagaimana hari itu dia sudah
menyakitiku. Keluargaku.
Meskipun
demikian, ibuku tak pernah bisa menolak permintaan tolongnya. Mulutnya tetap
saja kelewat batas. Tapi aku tak ingin memposisikan ibuku pada keadaan serba
salah antara tetap menjaga hubungan baik dengannya atau menjaga perasaanku.
Aku tak
punya magic seperti nenek sihir yang mampu mengutuk orang dengan mantra-mantra
ajaibnya. Tapi sejak hari dimana aku disakiti dan dibuat menyingkir dari
orang-orang yang ketika itu tak melepaskan pandangan dari pertengkaran kami, aku
tak pernah bisa lunak pada kebencianku sendiri pada laki-laki itu. Keyakinanku
bahwa suatu saat putrinya akan berada diposisiku dan merasakan sakit yang sama
atau bahkan lebih dari yang aku rasakan rupanya bereaksi pada alam.
Kejadian
itu sudah bertahun lalu. Tapi hingga beberapa bulan pada malam aku diberitahu
bahwa laki-laki itu meninggal tanpa mendapat pertolongan. Aku tetap tidak
memaafkannya. Biar benciku dibawanya mati. Laki-laki itu sudah meninggal dan
sama sekali tak butuh maaf dariku. Maaf tak akan terlalu berguna untuk yang
sudah mati, itupun jika memang kehidupan seelah mati memang benar ada.
Sudah.
Benciku selesai.
Meskipun
demikian yang orang sebut sebagai karma itu mungkin tetap saja bekerja seperti
seharusnya. Aku tidak membenci putrinya, sama sekali tidak. Dia sudah seperti
adikku. Tapi alam bekerja dengan cara yang berbeda. Seperti aku kuat menghadapi
sakit yang sudah ditabur oleh laki-laki itu, putrinya pun akan kuat menghadapi
ini.
Jangan
pernah merasa tenang ketika kamu tahu telah menyakiti seseorang atau sesuatu.
Mungkin tidak terjadi padamu. Tapi alam merekam semua yang kamu lakukan. Dan
karma itu-jika memang ada, dia akan mencari celah diantaranya untuk mendekatimu.
Tiba-tiba kamu akan terkejut tanpa punya kesempatan untuk mengelak ketika kamu
telah berada di dalam pusarannya.
Setiap
manusia punya rasa takut. Ada yang bisa mengendalikannya, ada yang tidak. Aksi
dan reaksi itu selalu ada. Karma, atau apapun itu kamu menyebutnya. Hanya
bagian dari reaksi atas aksi yang sudah dilakukan. Tidak melulu buruk, banyak
yang baik. Tapi kalau kamu berpikir semuanya selesai setelah kamu mendapatkan
karmamu, kamu nol besar. Karena sikapmu pada karma itu, aksimu menentukan
reaksi selanjutnya yang akan terjadi. Itu semua seperti mata rantai yang tak
pernah putus.
Entahlah.
Meski
membencinya, laki-laki itu memberiku banyak pelajaran. Berbulan lalu dia meninggal,
baru malam ini kamu membuatku sadar akan datang reaksi yang kamu sebut sebagai
karma itu suatu saat padaku. Kalaupun ada yang tak memaafkanku hingga aku mati,
semoga itu bukan kamu.
Ditulis pada pagi yang angkanya kamu benci
Selasa, 13 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar