Selasa, 13 Oktober 2015

Karma dan Mention Menjelang Pagi_



Apalagi yang harus aku takutkan tentang karma? Bukannya aku sedang menjalaninya? Memikirkanmu seumur hidup tanpa pernah bisa menyentuhmu. Apa ada lagi yang bisa membuatku takut?

Laki-laki itu aku kenal semenjak kecil. Putri sulungnya bahkan seusia dengan adikku. Sementara putra bungsunya sering sekali ku gendong sewaku kecil, kala itu aku masih di sekolah dasar. Hubungan kami baik. Dia juga laki-laki yang menurut cerita kebanyakan orang baik.
Hingga hari itu semuanya berubah. Laki-laki yang mulanya juga kupikir baik ini melakukan satu hal yang tidak pernah bisa kumaafkan. Hal sepele, tapi diracik dengan begitu pahit lewat mulutnya yang kelewat batas. Aku jarang tersinggung, cenderung tak terlalu perduli malah. Tapi entah bagaimana hari itu dia sudah menyakitiku. Keluargaku.
Meskipun demikian, ibuku tak pernah bisa menolak permintaan tolongnya. Mulutnya tetap saja kelewat batas. Tapi aku tak ingin memposisikan ibuku pada keadaan serba salah antara tetap menjaga hubungan baik dengannya atau menjaga perasaanku.
Aku tak punya magic seperti nenek sihir yang mampu mengutuk orang dengan mantra-mantra ajaibnya. Tapi sejak hari dimana aku disakiti dan dibuat menyingkir dari orang-orang yang ketika itu tak melepaskan pandangan dari pertengkaran kami, aku tak pernah bisa lunak pada kebencianku sendiri pada laki-laki itu. Keyakinanku bahwa suatu saat putrinya akan berada diposisiku dan merasakan sakit yang sama atau bahkan lebih dari yang aku rasakan rupanya bereaksi pada alam.
Kejadian itu sudah bertahun lalu. Tapi hingga beberapa bulan pada malam aku diberitahu bahwa laki-laki itu meninggal tanpa mendapat pertolongan. Aku tetap tidak memaafkannya. Biar benciku dibawanya mati. Laki-laki itu sudah meninggal dan sama sekali tak butuh maaf dariku. Maaf tak akan terlalu berguna untuk yang sudah mati, itupun jika memang kehidupan seelah mati memang benar ada.
Sudah. Benciku selesai.
Meskipun demikian yang orang sebut sebagai karma itu mungkin tetap saja bekerja seperti seharusnya. Aku tidak membenci putrinya, sama sekali tidak. Dia sudah seperti adikku. Tapi alam bekerja dengan cara yang berbeda. Seperti aku kuat menghadapi sakit yang sudah ditabur oleh laki-laki itu, putrinya pun akan kuat menghadapi ini.
Jangan pernah merasa tenang ketika kamu tahu telah menyakiti seseorang atau sesuatu. Mungkin tidak terjadi padamu. Tapi alam merekam semua yang kamu lakukan. Dan karma itu-jika memang ada, dia akan mencari celah diantaranya untuk mendekatimu. Tiba-tiba kamu akan terkejut tanpa punya kesempatan untuk mengelak ketika kamu telah berada di dalam pusarannya.
Setiap manusia punya rasa takut. Ada yang bisa mengendalikannya, ada yang tidak. Aksi dan reaksi itu selalu ada. Karma, atau apapun itu kamu menyebutnya. Hanya bagian dari reaksi atas aksi yang sudah dilakukan. Tidak melulu buruk, banyak yang baik. Tapi kalau kamu berpikir semuanya selesai setelah kamu mendapatkan karmamu, kamu nol besar. Karena sikapmu pada karma itu, aksimu menentukan reaksi selanjutnya yang akan terjadi. Itu semua seperti mata rantai yang tak pernah putus.
Entahlah.
Meski membencinya, laki-laki itu memberiku banyak pelajaran. Berbulan lalu dia meninggal, baru malam ini kamu membuatku sadar akan datang reaksi yang kamu sebut sebagai karma itu suatu saat padaku. Kalaupun ada yang tak memaafkanku hingga aku mati, semoga itu bukan kamu.

Ditulis pada pagi yang angkanya kamu benci
Selasa, 13 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar