Kamis, 08 Oktober 2015

Tidak Dulu_


Beberapa hari ini aku bingung, meski tak bingung-bingung amat, tapi cukup bingung. Ada tawaran rumah menarik. Aku mendapat informasi itu dari temanku. Dia sudah beli rumah di perumahan baru itu. Dan memang harganya tergolong murah, tempatnya oke, angsurannya terjangkau.

Berkali-kali teman ku menyarankan untuk membeli saja rumah itu, untuk masa depan katanya, untuk investasi kata yg satunya, untuk persiapan nikah, anak istrimu nanti, untuk uang-uang lebih yg daripada tak digunakan, dan untuk-untuk yg lain...

Dan aku jadi bingung. Aku ragu untuk beli, juga ragu untuk tidak beli. Kalo melihat penghasilanku sekarang, memang harga segitu takkan memberatkanku. Dan setelah kupikir-pikir justru disitu awal masalahnya, karena aku sanggup membeli. Seandainya harganya mahal dan diluar jangkauanku tentu dengan mudah aku berkata ”tidak”.

Tapi hari ini aku sdh mendapatkan jawabanku, dan jawabanya: tidak, aku tidak beli. Saat ini rumah tidak penting bagiku. Aku tak terlalu membutuhkannya. Kos 2x3m masih cukup. Biar yg lain saja yg lebih membutuhkannya yg beli, aku, tidak dulu.

Aku tak bermaksud menyampaikan jawabanku itu, tp jika nanti temanku masih bertanya, tentu akan kujawab: “tidak”

Dan kalo temanku nanti masih berkata: tapi ini baik utk investasi, mumpung harganya murah, untuk masa depan....
Maka jawabanku: siapa yg tau tentang masa depan, masa yang belum tentu aku bisa sampai kesana. Biarlah masa depan datang, yang sekarang ya sekarang, dan sekarang aku tak membutuhkan rumah itu.
Dan tentang “murah” yg selalu bersifat relativ itu, kupikir aku tak perlu menjelaskannya. Harga yang sepuluh kali rumah itupun, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan menjadi tergolong murah bagiku.

Dan kalo temanku juga menyangkut pautkan rumah dgn perempuan, pernikahan, akan ku katakan: Aku tidak akan menikah dgn perempuan yg hanya krn aku tidak punya rumah, dia tdk jadi mau menikah dgnku. Dan aku tak khawatir, kalau memang semua perempuan seperti itu pun, itu tak jadi masalah, tak perlu memaksakan menikah jika memang tak ada perempuan yg layak untuk dinikahi.

Sebenarnya itu masalah yang sederhana, dan aku merasa bodoh hanya karena hal kecil itu sempat membuatku bingung selama beberapa hari, meski tak bingung-bingung amat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar