Satu-satunya
yang terpikir olehku adalah kamu telah memutuskan sesuatu-entah apa, setelah
pertemuan terakhir kita. Itulah kenapa kamu mendiamkanku. Yah, aku mencoba
sadar diri dengan memberimu waktu untuk siap mengatakannya padaku. Bukan!
Sebenarnya akulah yang butuh waktu untuk menyiapkan diriku sendiri tentang
apapun yang akan kamu katakan nanti. Itupun jika masih ada dialog yang akan
mempertemukan kita lagi.
Aku
kelimpungan.
Sampai
mataku tertumbuk pada sebuah buku yang telah lama berderet di rak koleksi, tapi
bahkan sampul plastiknya belum kubuka. Entahlah. Aku menjadi begitu sombong
pada rinduku sendiri. Rindu pada buku-buku yang menyita habis perhatianku tanpa
perduli pada apapun. Aku mendekati buku dengan cover hitam yang tak tebal itu.
Ku taksir ada sekitar 400-500 halaman. Ada gambar, eh, entahlah. Simbol
mungkin- di bagian depannya. Berwarna orange keemasan. Simbol yang dengan
sekali melihat mampu membuatku memvisualisasikan dalam kepala seperti apa
wujudnya dalam alam yang masih kupijak.
Saat
itu pukul setengah delapan malam, setelah aku menidurkan Rain.
Kemampuan
membacaku jauh berkurang semenjak Rain menyedot habis perhatianku hanya
untuknya. Beberapa buku yang coba ku baca malah berakhir naas di tangannya kena
kencing, sobek atau bahkan menjadi lauk dalam mangkuk buburnya. Untuk aku yang
melihat halaman buku dilipat-lipat saja sudah jengkel setengah mati, lebih
bijak aku memilih ulang waktu tidur Rain yang mungkin bisa kupakai untuk
membaca.
Malam ini.
Aku mau
membaca lagi.
Seketika
aku terkesima menyadari diriku sendiri telah berada pada dimensi yang berbeda
begitu mulai membaca. Aku kenal perasaan ini, aku karib dengan kecanduan ini.
Perasaan menggebu, meletup-letup seperti aku akan mati besok. Jadi buku ini
harus kurampungkan sekarang. Sekarang!
Tidak,
bukan seperti itu!
Aku
hanya terlena. Tersihir masuk pada setiap lini ceritanya. Meninggalkan tubuhku
dan menjelma sosok tak terlihat dalam cerita.
Aku
jatuh hati, Hujanku....
Sumpah!
Entah
pada apa. Tapi, maaf-aku sanggup melupakanmu. Ketika kutengok jam dinding yang
menunjuk angka diantara empat dan lima. Buku itu habis kubaca. Meski untuk
ukuran jatuh hati, itu waktu yang terlalu lama. Harusnya aku bisa membaca lebih
cepat dari itu. Meski membacaku harus diinterupsi-dengan ikhlas, ketika Rain
bangun untuk sekedar menyusu atau panggilan alamku yang tak lagi bisa ku tahan.
Aku
jatuh hati padanya, Hujanku....
Gelombang.
Ishtar.
Bintang
Jatuh.
Si Jaga
Portibi.
Oh,
demi langit! Entah karena ini euforia pertama kalinya aku kembali membaca atau
otakku sudah orgasme padanya-mereka. Tapi aku benar-benar menyukai rasa ini
(Ingin terus seperti ini, selamanya). Meskipun begitu habis cerita, aku kembali
mengingatmu. Bahkan beberapa saat menciptakan sosok imaginer gabungan citramu
yang kusimpan dan penokohan yang kusimpan dari cerita.
Inilah
serangan fajarku, Hujanku....
Bulu
halus di tengkukku menegak. Seperti merasakanmu dan dia-mereka, sedang
mencumbuku. Menciumiku lewat sisa-sisa cerita yang mampu ku rangkai kembali.
Aku sampai ingin buru-buru menelponmu, entah untuk apa. Kamu juga tak akan
terlalu antusias pada ceritaku. Padaku yang sedang jatuh hati, lagi.
Sumpah,
lagi!
Terpujilah
yang menciptakan makhluk-makhluk itu begitu abstrak tak tersentuh. Hingga aku bisa
menikmatinya seperti apapun yang kubutuhkan. Yang meramu mimpi basahku ketika
fajar dan membuat kursorku berlari begitu kencang, berkelip sebentar kemudian
kembali berlari.
Sungguh.
Aku
merindukan disiksa seperti ini.
Kamu pasti
sudah membacanya, kan?
Kadang aku
menangkap arah pembicaraanmu yang mulai nyleneh. Bertanya ini itu seolah aku
ini ensiklopedia atau kamus berjalan. Tapi aku juga sering seperti itu. Dengan tak
tahu waktu bertanya pada seseorang yang kupikir akan sanggup meladeniku.
Baiklah.
Aku harus
tidur. Sebelum Rain bangun dan duniaku diambil alih olehnya-dengan ikhlas. Sampai
kapan kamu mau mendiamkanku?
Ditulis pada pagi,
Setelah jatuh hati
Jumat, 23 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar