Hari ini
aku bangun lebih cepat dari alarm yang ku pasang semalam. Meskipun pada
akhirnya lebih memilih berlama-lama di depan cermin. Menatap entah apa. Tak tahu
mencari yang bagaimana. Tapi aku tak juga menemukan keyakinan untuk bertemu
denganmu.
Bukan.
Bukan tentang
keseriusanku untuk menemuimu yang kamu sebut sebagai “kok dungaren”.
Yah. Aku
tak yakin kamu bersedia menemuiku dengan segala keterbatasan yang mungkin sudah
lama kamu tinggalkan. Keterbatasan yang mengerdilkan diriku sendiri
dihadapanmu. Meskipun pada akhirnya dengan tak tahu diri aku toh tetap pergi
menemuimu.
Sepanjang
jalan tak lepas kupegangi jantungku. Takut kalau-kalau jatuh tak kuat menahan
detaknya yang begitu kencang. Kau tahu? Bertemu denganmu selalu menjadi kencan
pertama untukku. Memikirkannya saja membuatku tak bisa tidur. Aku selalu takut
bangun kesiangan seperti biasa. Merencanakan ini itu untuk kubicarakan
denganmu. Memilih baju yang akan kupakai. Sapaan pertama yang akan kuucapkan
begitu melihatmu. Ah, memalukan! Meskipun pada akhirnya aku bahkan tak perduli
dengan apapun yang sudah kupikirkan begitu bertemu denganmu.
Yah,
aku ingin bertemu denganmu. Itu saja.
Berlama-lama
menatapmu.
Merasakan
detak jantungmu.
Napasmu.
Aku merasa
semakin tak pantas denganmu. Begitu piciknya pikiranku untuk bisa denganmu. Memilikimu.
Rasanya
bintangpun tak sejauh itu untuk digapai. Tapi untuk denganmu, sampai bintang
itu mampu kugapai rasanya aku tak pernah bisa membuat diriku pantas denganmu.
Laki-laki
muda yang dulu pernah mengatakan padaku bagaimana jika pada akhirnya ia hanya
akan menjadi kuli, apakah aku tetap ingin bersamanya? Laki-laki yang aku
melarangnya merokok jika bukan dengan uangnya sendiri. Laki-laki yang bahkan
membuat satu candaan saja tak bisa karena begitu serius dengan hidupnya.
Entahlah.
Tapi itu
memang laki-laki yang sama yang pagi ini membuatku terbangun pada pagi yang melangut oleh alarm sisa
kemarin. Tergopoh-gopoh ke kamar mandi dan mencuci muka. Tak henti-henti
merutuki diri karena aku pikir ini hari Jumat. Namun ketika aku menatap kaca
dan menemukan sepasang mata yang balik menatap, mata itu bilang hari ini sudah
kemarin.
Kalau kamu
mau tahu. Kemarin aku bangun lebih cepat dari alarm yang ku pasang malam
sebelumnya. Meskipun pada akhirnya lebih memilih berlama-lama di depan cermin. Menatap
entah apa. Tak tahu mencari yang bagaimana. Tapi aku tak juga menemukan keyakinan
untuk bertemu denganmu.
Maaf.
Maaf karena
perempuan tak tahu diri ini begitu berani memintamu untuk bertemu dengannya. Terimakasih
Ditulis pada pagi setelah bertemu.
Sabtu, 17 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar