Senin, 19 Oktober 2015

Alarm Sisa Kemarin_



Hari ini aku bangun lebih cepat dari alarm yang ku pasang semalam. Meskipun pada akhirnya lebih memilih berlama-lama di depan cermin. Menatap entah apa. Tak tahu mencari yang bagaimana. Tapi aku tak juga menemukan keyakinan untuk bertemu denganmu.

Bukan.

Bukan tentang keseriusanku untuk menemuimu yang kamu sebut sebagai “kok dungaren”.
 
Yah. Aku tak yakin kamu bersedia menemuiku dengan segala keterbatasan yang mungkin sudah lama kamu tinggalkan. Keterbatasan yang mengerdilkan diriku sendiri dihadapanmu. Meskipun pada akhirnya dengan tak tahu diri aku toh tetap pergi menemuimu.

Sepanjang jalan tak lepas kupegangi jantungku. Takut kalau-kalau jatuh tak kuat menahan detaknya yang begitu kencang. Kau tahu? Bertemu denganmu selalu menjadi kencan pertama untukku. Memikirkannya saja membuatku tak bisa tidur. Aku selalu takut bangun kesiangan seperti biasa. Merencanakan ini itu untuk kubicarakan denganmu. Memilih baju yang akan kupakai. Sapaan pertama yang akan kuucapkan begitu melihatmu. Ah, memalukan! Meskipun pada akhirnya aku bahkan tak perduli dengan apapun yang sudah kupikirkan begitu bertemu denganmu.

Yah, aku ingin bertemu denganmu. Itu saja.

Berlama-lama menatapmu.
Merasakan detak jantungmu.
Napasmu.

Aku merasa semakin tak pantas denganmu. Begitu piciknya pikiranku untuk bisa denganmu. Memilikimu.
Rasanya bintangpun tak sejauh itu untuk digapai. Tapi untuk denganmu, sampai bintang itu mampu kugapai rasanya aku tak pernah bisa membuat diriku pantas denganmu.

Laki-laki muda yang dulu pernah mengatakan padaku bagaimana jika pada akhirnya ia hanya akan menjadi kuli, apakah aku tetap ingin bersamanya? Laki-laki yang aku melarangnya merokok jika bukan dengan uangnya sendiri. Laki-laki yang bahkan membuat satu candaan saja tak bisa karena begitu serius dengan hidupnya.

Entahlah.

Tapi itu memang laki-laki yang sama yang pagi ini membuatku terbangun pada pagi yang melangut oleh alarm sisa kemarin. Tergopoh-gopoh ke kamar mandi dan mencuci muka. Tak henti-henti merutuki diri karena aku pikir ini hari Jumat. Namun ketika aku menatap kaca dan menemukan sepasang mata yang balik menatap, mata itu bilang hari ini sudah kemarin.
Kalau kamu mau tahu. Kemarin aku bangun lebih cepat dari alarm yang ku pasang malam sebelumnya. Meskipun pada akhirnya lebih memilih berlama-lama di depan cermin. Menatap entah apa. Tak tahu mencari yang bagaimana. Tapi aku tak juga menemukan keyakinan untuk bertemu denganmu.

Maaf.

Maaf karena perempuan tak tahu diri ini begitu berani memintamu untuk bertemu dengannya. Terimakasih

Ditulis pada pagi setelah bertemu.
Sabtu, 17 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar