Senin, 13 Januari 2014

Just Rain...



Hari itu saya mengawali pagi dengan sangat buruk, payah lebih tepatnya. Dengan kondisi badan yang masih sempoyongan karena beberapa hari sakit dan pusing, saya nekad jalan-jalan dengan sepeda lipat yang nganggur di rumah. Paginya mendung dan dingin karena semalam hujan deras. Tapi saya suka, pagi yang cerah itu hanya kebutuhan bagi mereka yang karib dengan kata rajin.
Benar saja, ketika saya mengayuh beberapa meter saja dari rumah kepala sudah mulai kliyengan. Tapi saya memaksa, toh itu hanya jalan desa yang sepi. Tak jadi masalah jika tiba-tiba saya ambruk, tinggal berdiri lagi. Tapi masalahnya jadi beda ketika saya kliyengan tepat di atas jembatan sungai yang membelah kampung. Teori jatuh tinggal bangun lagi yang saya pikirkan jadi tidak relevan. Hahahahaha
Saya jatuh dan masuk ke sungai yang debit airnya sedang naik karena hujan. Antara percaya dan tidak, antara malu dan meringis menahan sakit akhirnya saya bangkit juga. Dengan kemampuan berenang saya yang jauh dari kata lumayan saja, jatuh ke sungai itu hal yang patut saya khawatirkan. Tapi kekhawatiran itu jadi tidak berarti ketika menyadari ternyata sudah banyak orang yang berkumpul di TKP. Bwahahahaha
Saya sendiri tidak bisa mengenali mereka satu per satu. Yang pertama karena saya sendiri sudah susah mengendalikan badan, kepala berat dan ngilu-ngilu di badan. Yang kedua, yah karena saya orang baru di lingkungan itu. Tidak banyak orang yang saya hafal namanya sekalipun mungkin beberapa kali saya pernah bertemu.
Ada yang menuntun saya. Ada yang mengangkat sepeda dari sungai. Ada yang berlari-lari sekedar ingin tahu dan ada beberapa yang mengantar saya pulang. Sebenarnya saya merasa bisa berjalan pulang sendiri. Tapi rupanya mereka membaca gemetar di kaki saya yang untuk berdiri saja sudah sempoyongan.
Singkatnya,
Setelah sampai rumah badan saya semakin panas dan nyeri di pinggang semakin parah. Akhirnya saya pun mengamini ketika malamnya di bawa ke dokter. Doa saya cuma satu, jangan sampai opname.
Tapi rupanya saya di bawa ke dokter lain, dokter yang bukan dokter yang mengobati orang sakit. Halah!
Setelah antri dari jam 4 sore, saya baru ketemu dokternya jam setengah 10 malam. Huft!
Aneh rasanya ketika berada di ruangan dokter itu. Tapi saya hanya pasrah ketika asisten dokternya mulai mengoles gel ke perut saya dan beberapa saat kemudian dokternya mulai melakukan sesuatu. Ada alat seperti alat cukur yang dioperasikan di bagian perut saya yang tadi sudah diberi gel dingin. Kemudian perhatian saja sepenuhnya tertuju pada layar yang memproyeksikan perut saya secara digital.
Saya tak pernah menyangka akan sampai pada fase ini sekalipun telah lama menginginkannya. Ajaib rasannya melihatnya sekecil itu, hanya sebesar kacang almond. Dia bahkan tak bergerak atau sekedar tersenyum pada saya, hanya berada disana dan begitu saja. Tapi dia mampu mengaduk-aduk perasaan saja. Mencubit saya untuk sekedar mengingatkan kembali bahwa saya adalah perempuan. Bukan, saya selalu sadar bahwa saya adalah perempuan. Tapi ini perempuan yang istimewa, lebih istimewa dari biasanya.
Saya sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang saya lihat di layar. Tapi pada pertemuan kami yang pertama itu, saya tak mampu mengatakan apapun. Hanya mampu menatapnya meskipun ingin sekali mendekapnya erat-erat seperti takut ia akan diambil oleh sesuatu. Dokter bilang usianya baru sekitar lima atau enam minggu. Bisa-bisa dia remuk jika saja saya bisa memeluknya seperti apa yang saya bayangkan tentang pelukan itu.
Apa dia bisa merasakannya?
Bahwa saya begitu menginginkannya, sejak pertemuan pertama kami.
Bahwa begitu banyak orang yang mencintai dan menaruh perhatian pada keberadaanya.
Dia boleh saja benih Hujan ataupun Kemarau, saya tak perduli. Saya hanya menginginkannya! Dengan jalan ini ataupun yang lebih buruk dari ini, dia akan hidup dalam diri saya.
Saya tahu Hujan tak menginginkannya. Tapi saya sanggup melepaskan apapun buat dia. Karena dia bukan fiksi-fiksi yang selama ini saya ciptakan. Bukan cerita fiktif yang saya bangun diantara Kemarau panjang semacam oase untuk melepas dahaga batin saya. Karena dia adalah Hujan Kedua.
Yah, saya memanggilnya seperti ketika merapal mantra untuk memanggil Hujan.
It is inside me,
Rain...

There is no better than being called Mom_

Ditulis pada pertemuan pertama saya dengan Rain
Senin, 06 Januari 2014