Hari itu saya mengawali pagi dengan sangat buruk,
payah lebih tepatnya. Dengan kondisi badan yang masih sempoyongan karena
beberapa hari sakit dan pusing, saya nekad jalan-jalan dengan sepeda lipat yang
nganggur di rumah. Paginya mendung dan dingin karena semalam hujan deras. Tapi saya
suka, pagi yang cerah itu hanya kebutuhan bagi mereka yang karib dengan kata
rajin.
Benar saja, ketika saya mengayuh beberapa meter saja
dari rumah kepala sudah mulai kliyengan. Tapi saya memaksa, toh itu hanya jalan
desa yang sepi. Tak jadi masalah jika tiba-tiba saya ambruk, tinggal berdiri
lagi. Tapi masalahnya jadi beda ketika saya kliyengan tepat di atas jembatan
sungai yang membelah kampung. Teori jatuh tinggal bangun lagi yang saya
pikirkan jadi tidak relevan. Hahahahaha
Saya jatuh dan masuk ke sungai yang debit airnya
sedang naik karena hujan. Antara percaya dan tidak, antara malu dan meringis
menahan sakit akhirnya saya bangkit juga. Dengan kemampuan berenang saya yang
jauh dari kata lumayan saja, jatuh ke sungai itu hal yang patut saya khawatirkan.
Tapi kekhawatiran itu jadi tidak berarti ketika menyadari ternyata sudah banyak
orang yang berkumpul di TKP. Bwahahahaha
Saya sendiri tidak bisa mengenali mereka satu per
satu. Yang pertama karena saya sendiri sudah susah mengendalikan badan, kepala
berat dan ngilu-ngilu di badan. Yang kedua, yah karena saya orang baru di
lingkungan itu. Tidak banyak orang yang saya hafal namanya sekalipun mungkin
beberapa kali saya pernah bertemu.
Ada yang menuntun saya. Ada yang mengangkat sepeda
dari sungai. Ada yang berlari-lari sekedar ingin tahu dan ada beberapa yang
mengantar saya pulang. Sebenarnya saya merasa bisa berjalan pulang sendiri. Tapi
rupanya mereka membaca gemetar di kaki saya yang untuk berdiri saja sudah sempoyongan.
Singkatnya,
Setelah sampai rumah badan saya semakin panas dan
nyeri di pinggang semakin parah. Akhirnya saya pun mengamini ketika malamnya di
bawa ke dokter. Doa saya cuma satu, jangan sampai opname.
Tapi rupanya saya di bawa ke dokter lain, dokter yang
bukan dokter yang mengobati orang sakit. Halah!
Setelah antri dari jam 4 sore, saya baru ketemu
dokternya jam setengah 10 malam. Huft!
Aneh rasanya ketika berada di ruangan dokter itu. Tapi
saya hanya pasrah ketika asisten dokternya mulai mengoles gel ke perut saya dan
beberapa saat kemudian dokternya mulai melakukan sesuatu. Ada alat seperti alat
cukur yang dioperasikan di bagian perut saya yang tadi sudah diberi gel dingin.
Kemudian perhatian saja sepenuhnya tertuju pada layar yang memproyeksikan perut
saya secara digital.
Saya tak pernah menyangka akan sampai pada fase ini
sekalipun telah lama menginginkannya. Ajaib rasannya melihatnya sekecil itu,
hanya sebesar kacang almond. Dia bahkan tak bergerak atau sekedar tersenyum
pada saya, hanya berada disana dan begitu saja. Tapi dia mampu mengaduk-aduk
perasaan saja. Mencubit saya untuk sekedar mengingatkan kembali bahwa saya
adalah perempuan. Bukan, saya selalu sadar bahwa saya adalah perempuan. Tapi ini
perempuan yang istimewa, lebih istimewa dari biasanya.
Saya sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang saya
lihat di layar. Tapi pada pertemuan kami yang pertama itu, saya tak mampu
mengatakan apapun. Hanya mampu menatapnya meskipun ingin sekali mendekapnya
erat-erat seperti takut ia akan diambil oleh sesuatu. Dokter bilang usianya
baru sekitar lima atau enam minggu. Bisa-bisa dia remuk jika saja saya bisa
memeluknya seperti apa yang saya bayangkan tentang pelukan itu.
Apa dia bisa merasakannya?
Bahwa saya begitu menginginkannya, sejak pertemuan
pertama kami.
Bahwa begitu banyak orang yang mencintai dan menaruh
perhatian pada keberadaanya.
Dia boleh saja benih Hujan ataupun Kemarau, saya tak
perduli. Saya hanya menginginkannya! Dengan jalan ini ataupun yang lebih buruk
dari ini, dia akan hidup dalam diri saya.
Saya tahu Hujan tak menginginkannya. Tapi saya sanggup
melepaskan apapun buat dia. Karena dia bukan fiksi-fiksi yang selama ini saya
ciptakan. Bukan cerita fiktif yang saya bangun diantara Kemarau panjang semacam
oase untuk melepas dahaga batin saya. Karena dia adalah Hujan Kedua.
Yah, saya memanggilnya seperti ketika merapal mantra
untuk memanggil Hujan.
It is inside me,
Rain...
There is no better than being called Mom_
Ditulis pada pertemuan pertama saya
dengan Rain
Senin, 06 Januari 2014