Jumat, 29 Juli 2016

Jalan Pulang (2): Janji Pisang Sore Ini



Melon.

Dulu ini salah satu buah favoritnya, selain anggur merah. Melihatnya mengunyah, menyesap kemudian menelannya. Menggunyah, menyesap kemudian menelannya lagi hampir tanpa jeda sepertinya ini memang masih menjadi buah favoritnya.

Ada tai mata di tiap-tiap pelupuknya yang ikut bergerak-gerak tiap kali ia menguyah. Kelopaknya tipis sampai urat-urat yang seperti berwarna biru kehijauan terlihat menyembul di baliknya. Sekitar kelopak itu sudah cekung berwarna kemerahan seperti kulit bayi iritasi. Itulah kenapa taik matanya tidak bisa sembarangan saya bersihkan.

Mata itu meminta untuk potongan melon kedua.

Tapi saya belum lagi lupa.

Beberapa hari kemarin ada yang menuruti keinginannya untuk terus makan sampai akhirnya semua yang dimakannya kembali dimuntahkan. Kondisinya memburuk setelah itu.

Alhasil saya terpaksa menggeleng.

Sepertinya ia paham dan mengalihkan pandangan ke arah lain sebelum beberapa menit kemudian mengabaikan saya dan tertidur.

Kuku-kukunya panjang.

Jari-jari tangannya yang sebelah kanan terlihat lebih panjang daripada yang sebelah kiri, menurut saya. Meskipun hanya saya yang merasa seperti itu.

Bulan kemarin perempuan ini masih bawel. Ia bisa meriakkan apapun yang ia mau. Permintaan, perintah bahkan makian. Tidak pernah terbesit sedikitpun bahwa hari ini tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya yang pedas seperti masa silam. Dialog kami hanya sebatas tatapan mata dan beberapa sentuhan kecil.

Ia masih mengingat saya, kadang. Entah kapan terakhir kali saya dipanggil. Tapi dia masih selalu ingat kamu, Le. Memanggilmu Ken...

***

Saya bangun dengan napas terengah dan meraih ponsel di bawah bantal. Menekan beberapa nomer dengan tergesa. Nada tersambung meraung dari telpon seberang. Baru setelah beberapa kali berdering ada suara perempuan di seberang menyahut. Parau khas bangun tidur. Tapi ketegasan menjawabnya menandakan ia siaga.

“Nyapo?”


“Aku ngimpi.”


“Opo?”


“Emak njaluk dulang gedhang.”


“Yo engko lek wonge tangi.”


Saya menutup telpon dan menengok ke arah jam dinding. Pukul dua dini hari.

Janji. Entah ada apa dengan kata itu sampai ketika ia diucapkan segalanya menjadi bergaransi. Sebenarnya ini hanya tentang janji untuk sebuah “kencan” (?), dengan seorang perempuan. Ketika pagi menyuapinya melon, saya berjanji untuk sebuah pisang di sore hari. Saya ingkar itu hal biasa, sebenarnya. Tapi ketika janji itu saya buat dengan seorang perempuan tua yang hampir mati. Masalah kami hanya soal waktu sempit yang dimilikinya. Walaupun yang abu-abu dalam diri saya sebenarnya tak pernah yakin perempuan ini bisa mati.

Tunggu...

Kencan kita dan pisang itu pasti terlaksana.

Tapi kamu harus menunggu.

Saya cuma dua hari.

Juli 2016
Di suatu tempat yang jauh dari sebuah janji kencan.

Jumat, 22 Juli 2016

Sambal Banteng dan Berkecambahnya Kepongahan_



Saya suka pedas entah sejak kapan. Kalau diingat dulu bahkan jika ingin makan bakso dengan rasa pedas saya hanya berani mengambil kuah sambal tanpa bijinya. Itupun tak lebih dari sepucuk sendok.

Sekarang? Jangan ditanya! 
Sehari tanpa pedas laksana sewindu tanpamu bwahaha

Beberapa hari yang lalu saya sempat mengikuti iklan dari seorang teman yang mempromosikan dagangan barunya. Sambal. Saya tergoda karena dia lihai mengaduk resep dalam kata. Iming tentang rasio cabai dan daging yang digunakan satu dibanding satu. Satu kilo cabai dan satu kilo daging. Tampilan dagangannya juga lumayan. Jadilah saya pesan dua botol. Sebotolnya berisi kurang lebih dua ratus gram dengan harga tiga puluh ribu.

Beberapa hari kemudian sambal itu datang.

Tanpa menunggu lama langsung saya panaskan-karena memang begitu saran penjualnya. Kemudian tanpa apapun (nasi, tempe, lauk dan sejenisnya)langsung saya coba. Hal pertama yang terpanggil di kepala saya adalah mie ayam Pak Setu. Hahaha entahlah bagaimana saya bisa merasakan mie ayam Pak Setu di dalam sambal itu. Mungkin karena saya mencium aroma minyak wijen. Saya memang bukan koki handal atau ahli kuliner. Tapi aroma minyak wijen yang dicampur saat makanan masih terlalu panas aromanya sedikit “aneh” di hidung saya. Tak puas mencobanya dengan “tangan kosong”, saya campur sedikit nasi panas.

Pedes? Iya.

Enak? Biasa aja.

Hahaha

Saya mengklaim bisa memasak sambal yang sama dengan rasa yang lebih enak. Hahaha sungguh!

Rasa memang tidak universal.

Tapi kesombongan dimana saja akan jadi omong kosong kalau tidak dibuktikan.

Kamu boleh coba. Sambal yang ini kuncinya selain ada di rasio cabai dan dagingnya, adalah terasi hahaha. Saya yakin bin yakin sekali.

Tiba-tiba saya ingin menciummu, dengan masih kepedasan yang nggak pedas-pedas amat. Ups!

Kamu mau? Sambelnya.
Juni, 2016

Patah Hati dan Bertunas



Seandainya ada laki-laki seperti Alfa Sagala, saya nggak mau membayangkannya sebagai siapapun. Tidak fisik dan karakternya. Kecakapannya dalam banyak hal dan betapa imaginer sosoknya.

Dan fuck, Dee melenyapkannya dalam Intelegensi Embun Pagi!

Tapi tak Ada Alfa, Gio atau Bodhi boleh juga. Hehehe geleman...

Saya akui keberadaan novel-novel Supernova sebelumnya sangat menolong Dee untuk membuat setiap karakter utamanya begitu kuat. Lima belas tahun untuk enam seri. Penceritaan detailnya juga mampu membuat pembacanya mendapat gambaran fisik tokohnya. Meski demikian, Intelejensi Embun Pagi, ceritanya masih jauh dari si Sulung Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh yang mengusung pokok bahasan yang lebih berat (yang membuat saya sukses kecewa ketika difilmkan). Untuk buku yang katanya penutup dari seri Supernova ini terlalu...terlalu...apa ya. Sederhana, sepertinya sejauh ini kata yang paling mewakili.

Entah sejak bab yang mana saya seperti bisa membaca pola loncatan-loncatan alurnya yang dibuat mirip seperti anak-anak sungai yang bertemu menjadi satu di Sianjur Mula-Mula. Disitu juga Dee memang unjuk gigi dalam kemahirannya membuat setiap hal dalam ceritanya tidak ada yang “mubadzir”. Dari awal saya baca setiap tokoh, tempat, benda bahkan pengaturan waktu tidak ada yang sia-sia. Maksud saya diciptakan kemudian dihilangkan begitu saja. Bahkan tokoh-tokoh yang sebelumnya bukan siapa-siapa disulap menjadi salah satu soko Supernova.

Well.

Bagi yang sedikit lemot sudah pasti harus nyanding kelima buku sebelumnya untuk memanggil kembali ingatan tentang hal-hal dan tokoh yang dibangunkan lagi.

Bukan kapasitas saya untuk menilai bagus atau tidaknya buku ini. Tapi kalau boleh, Dee seharusnya melanjutkan Supernova ini. Tentu dengan suguhan yang lebih cantik, seperti saat Dee menciptakan galaksinya sendiri dengan si Supernova sebagai orbitnya.

Who are you, Supernova?

How could it be?

This quest should be no longer about you.


April 2016

Rabu, 20 Juli 2016

Jalan Pulang: Dialog



 Mak...

Aku tahu sampai kapan pun Emak tidak akan pernah membaca ini. Tapi biar saja, aku tetap ingin menulisnya. Sekedar untuk mengurangi akumulasi setiap kesedihan yang tidak pernah mampu aku katakan.

Rain, kau tahu nak? Biyungmu ini hanya pernah menikmati ASI selama sepuluh bulan. Itu pun masih dengan susu formula dan segala macam makanan yang sudah biyung makan sejak hari pertama biyung lahir. Mungkin itu juga sebabnya biyung sakit-sakitan. Biyung dititipkan pada beberapa perempuan yang semuanya hebat. Perempuan yang pertama mengajarkan biyung banyak hal sepele yang kemudian hari menjadi hal yang seringkali biyung pergunakan. Merebus jantung pisang biar tidak ungu, makan dengan “bondo luwe” bukannya “bondo duwe”, mencuci baju di bagian lipatan-lipatannya, jalan-jalan rahasia untuk pulang saat kecil dan banyak hal lain yang masih biyung pergunakan hingga saat ini. Biyung memanggil perempuan ini seperti kamu memanggil biyung dan tak ada satu pun yang berbeda kecuali biyung memang bukan putri kandungnya, itu saja. Bukan hal yang besar.

Perempuan yang kedua ini juga tak akan pernah biyung lupakan sampai kapanpun.

Dia perempuan yang culas, Rain. Dengan kebaya dan kain jarit serta konde kecil dari rambut sambung. Ingatan itu memang kabur beberapa, tapi ada juga yang masih biyung ingat. Saat biyung digendong-gendong, disuapi, dibentak. Rasanya semua itu baru kemarin, Le....

Biyung sering berpikir kalau perempuan kedua ini akan terus seperti itu selamanya. Anggaplah potraitnya dalam ingatan biyung selalu seperti itu. Tuanya juga akan selalu tua yang seperti itu, tidak pernah bertambah. Masa mudanya pun biyung tak tahu seperti apa. Bahkan biyung pernah berpikir bahwa sejak dilahirkan perempuan kedua ini sudah seperti itu.

Tapi sekarang perempuan itu sudah renta. Tubuhnya kalah oleh usia, rambutnya tersisa beberapa yang semuanya keperakan dan gigi-giginya sudah tanggal semua. Biyung juga tidak bisa menjelaskan seperti apa rasanya melihatnya seperti itu. Apa biyung akan menua dan sendirian seperti itu, Rain? Biyung sering mendapatinya  tiba-tiba “lupa”, menyeret-nyeret tubuhnya yang sudah lumpuh di lantai. Semenit biyung lihat ia di kasur, menit berikutnya ia sudah di lantai ruang tamu. Kadang di ruang tengah. Kadang di tempat parkir. Kalau ia sudah “lupa” seperti itu, biyung dan orang-orang di rumah sering mengangkatnya dan mendudukannya di kursi agar tak kemana-mana. Tapi itu tak mengurangi apapun dari “lupa”nya kecuali geraknya.

Sedikitpun tak pernah terpikir bagaimana rasanya hidup tanpa mampu mengingat apapun seperti itu, Rain. Hidup dengan belas kasih. Jika biyung tua dan tak lagi mampu mengingatmu, untuk apa Le? Apa kamu juga akan membentak biyung jika biyung tak lagi bisa menjadi seperti yang kamu mau?

Berak yang ada di rambut. Nasi yang tumpah dikasur bersama kencing. Diapers yang dilepas paksa dan semua isinya tumpah. Omongan ngelantur dan maki-maki. Apa kamu akan membentak biyung untuk hal-hal seperti itu, Le?

Kau tahu nak? Kemarin kami duduk berdua menantang matahari pukul 10.00 siang. Teriknya menyengat kulit, tapi kami tetap duduk berdua disana. Biyung terus bicara banyak hal, bercerita ini itu. Dia mendengarkan, entah paham atau tidak. Mulutnya sibuk mengunyah makanan yang biyung suapkan. Awalnya satu jam pertama dia menarik-narik lengan biyung karena biyung pikir memang sudah terlalu panas. Tapi biyung bergeming dan terus bercerita. Tentang kamu, tentang anak-anaknya, cucu dan cicitnya, kebun dan tanahnya yang disana disitu, makanan ini itu sampai akhirnya satu jam selanjutnya biyung yang kelelahan. Biyung menyerah, ini bukan kali pertamanya merajuk seperti itu pada biyung. Kemudian biyung bertanya kalah padanya, apa yang dia inginkan?

Hanya satu yang dia katakan, pulang.

Dia ingin pulang.

Hanya pulang.

Mak....

Iki aku Mak. Sampean lali a? Cah cilik sing sampean gendong-gendong. Sampean rumat nganti gedhe. Sampean cewok’i. Iki aku Mak...

Sampean arep ngendi maneh? Lha iki lak omah to. Kuwi lemari, jendelo, kasur, kamare sampean kabeh. Wes meneng kene wae, dolanan karo Tole kuwi. Tole wes semunu gedhine opo ora pengen nggendong?

“Aku terno muleh ae.”

Muleh ngendi?

“Muleh nang omah.”

Sebuah rumah untuk pulang saat tua nanti. Would you, Rain?_


Ditulis pada pertengahan bulan ketiga 2016
Rumah dan orang-orang yang ingin pulang.