Melon.
Dulu ini salah satu buah favoritnya, selain anggur
merah. Melihatnya mengunyah, menyesap kemudian menelannya. Menggunyah, menyesap
kemudian menelannya lagi hampir tanpa jeda sepertinya ini memang masih menjadi
buah favoritnya.
Ada tai mata di tiap-tiap pelupuknya yang ikut
bergerak-gerak tiap kali ia menguyah. Kelopaknya tipis sampai urat-urat yang
seperti berwarna biru kehijauan terlihat menyembul di baliknya. Sekitar kelopak
itu sudah cekung berwarna kemerahan seperti kulit bayi iritasi. Itulah kenapa
taik matanya tidak bisa sembarangan saya bersihkan.
Mata itu meminta untuk potongan melon kedua.
Tapi saya belum lagi lupa.
Beberapa hari kemarin ada yang menuruti keinginannya
untuk terus makan sampai akhirnya semua yang dimakannya kembali dimuntahkan. Kondisinya
memburuk setelah itu.
Alhasil saya terpaksa menggeleng.
Sepertinya ia paham dan mengalihkan pandangan ke
arah lain sebelum beberapa menit kemudian mengabaikan saya dan tertidur.
Kuku-kukunya panjang.
Jari-jari tangannya yang sebelah kanan terlihat
lebih panjang daripada yang sebelah kiri, menurut saya. Meskipun hanya saya
yang merasa seperti itu.
Bulan kemarin perempuan ini masih bawel. Ia bisa
meriakkan apapun yang ia mau. Permintaan, perintah bahkan makian. Tidak pernah
terbesit sedikitpun bahwa hari ini tak ada satu katapun yang keluar dari
mulutnya yang pedas seperti masa silam. Dialog kami hanya sebatas tatapan mata
dan beberapa sentuhan kecil.
Ia masih mengingat saya, kadang. Entah kapan
terakhir kali saya dipanggil. Tapi dia
masih selalu ingat kamu, Le. Memanggilmu Ken...
***
Saya bangun dengan napas terengah dan meraih ponsel
di bawah bantal. Menekan beberapa nomer dengan tergesa. Nada tersambung meraung
dari telpon seberang. Baru setelah beberapa kali berdering ada suara perempuan di
seberang menyahut. Parau khas bangun tidur. Tapi ketegasan menjawabnya
menandakan ia siaga.
“Nyapo?”
“Aku ngimpi.”
“Opo?”
“Emak njaluk dulang gedhang.”
“Yo engko lek wonge tangi.”
Saya menutup telpon dan menengok ke arah jam
dinding. Pukul dua dini hari.
Janji. Entah ada apa dengan kata itu sampai ketika
ia diucapkan segalanya menjadi bergaransi. Sebenarnya ini hanya tentang janji
untuk sebuah “kencan” (?), dengan seorang perempuan. Ketika pagi menyuapinya
melon, saya berjanji untuk sebuah pisang di sore hari. Saya ingkar itu hal
biasa, sebenarnya. Tapi ketika janji itu saya buat dengan seorang perempuan tua
yang hampir mati. Masalah kami hanya soal waktu sempit yang dimilikinya. Walaupun
yang abu-abu dalam diri saya sebenarnya tak pernah yakin perempuan ini bisa
mati.
Tunggu...
Kencan kita dan pisang itu pasti terlaksana.
Tapi kamu harus menunggu.
Saya cuma dua hari.
Juli 2016
Di suatu tempat
yang jauh dari sebuah janji kencan.