Namanya Alesha, cantik ya? Dia mirip
Papanya, saya kenal betul dengan Mamanya. Tapi ini bukan Alesha yang pernah
kita bicarakan saat SMA dulu, sayang. Yah, Alesha yang namanya kita buat-buat
untuk nama anak kamu dan saya kelak. Anak yang entah akan ada atau tidak. Alesha
kita, dia sedang tidur dalam tujuh belas tiga harinya di dalam tanah bersama cicada lain. Suatu hari kamu dan saya
akan bernyanyi. Cicada’s Song.
It’s
a boy, Honey....
Our
blood is a boy.
Our
Rain is a boy.
Saya
ingin kamu memberinya nama. Seperti kamu memberinya darahmu dalam hidupnya.
Hingga suatu saat ia akan menemukan jalan menujumu dengan darahmu dalam
namanya. Rain akan membawakanmu kandil yang penuh berisi ingatan tentang
keberadaanmu dalam jantungnya, yang jika ia tumpahkan seluruh isi kandil itu di
hadapanmu. Ia akan menjadi hamparan afotik yang bahkan tak akan mampu ditembus
oleh cahaya yang melingkupimu.
Hujanku....
Apa
kamu ingat puisi ini?
Pada resepsi
pernikahan sahabat kita itu
Ku ingat ciuman
pertama kita Arya
Perutmu sudah
buncit lima bulan
Kelak kau akan
menamai anakmu berberda
Melupakan
nama-nama yang pernah kita rencanakan di masa muda
Kau menggandeng suamimu
Lalu aku pulang
menggandeng tangan bayanganmu
Puisi
yang diambil dari buku puisi Kepulangan Kelima karya Irwan Bajang halaman 38
ini, apa kamu mengingatnya?
Saya
ingin kamu memmberinya nama
It's a boy, Honey....
Our blood....
Barangkali
senyata-nyatanya rasa sakit adalah ingatan.
