Beberapa hari
lalu seorang teman lama memposting status di sosial media yang lumayan sering
saya kunjungi. Bukan status yang wow tentang buah pikirnya atau cara pandangnya
terhadap sesuatu. Saya sendiri tergelitik untuk memberi komentar di statusnya
karena dia mengutip tanpa menyertakan penulis aslinya, saya benci plagiat. Di dunia
ini bukan orang bodoh saja isinya, informasi sudah setara kecepatannya dengan
kebutuhan akan informasi itu sendiri.
Siapa yang
tak tahu puisi singkat Sapardi Djoko Damono yang berjudul Aku Ingin.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
Kepada api yang telah menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat dikirimkan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada
Saya sendiri
termasuk salah satu pengagum puisi yang singkat tapi tidak sederhana itu. Pertama
kali berkenalan dengan puisi ini saya langsung jatuh hati pada ironi yang
sangat pekat. Yang bisa langsung dirasakan oleh setiap orang yang membacanya.
Cinta sederhana
yang dibicarakan oleh penulisnya justru menyimpan kerumitan luar biasa di
dalamnya untuk saya. “Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang telah menjadikannya abu”, kata apa itu? Atau “Seperti isyarat yang tak
sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”, isyarat macam
apa? Tentang apa?
Puisi singkat
yang membuat pembacanya justru tidak akan berpikir sederhana seperti
sesederhana analogi yang dibuat oleh penulisnya. Bertahun mengenal puisi itupun
tak akan ada bosannya.
Tapi rupanya
apa yang saya pikirkan ketika membaca puisi itu berulangkali pun tidak terpikir
oleh teman saya, mungkin saya ketinggalan beberapa langkah di belakangnya
(mungkin). Kata-katanya yang indah ternyata membuat teman saya itu asal catut dan
asal tempel di dinding akunnya tanpa menyertakan siapa penulisnya. Saya pikir
dia lupa. Tapi obrolan kami di sini membuat saya yakin kalau dia tidak lupa,
malah memilih menutup mata.
Adakalanya mencari
tahu tentang sesuatu yang membuat kita jatuh hati itu perlu. Terlebih kalau
kita ingin “dekat” denganya.
Ya ampun!
Saya maluuuuu....
Itu Sapardi
Djoko Damono, teman! Bukan Kahlil Gibran!
Bukan Cuma Kahlil
Gibran yang ada di dunia ini. Oh no....
Oh No!
Jauh-jauh sampai Lereng Semeru hanya untuk memberitakan bahwa....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar