Apakah
kamu juga pernah bertanya-tanya seperti saya tentang apakah itu jarak? Waktu?
Dua
kata yang sering kamu dan saya persalahkan atas keadaan yang membuat saya tidak
bisa menjadikan kamu prioritas. Menemukan jawaban tak lantas memberikan solusi untuk
keduanya, jarak dan waktu.
Entahlah.
Tapi saya merasa kedua kata itu tak terlalu punya arti kecuali dalam KBBI. Ketika
kamu dan saya merasa yang jauh sebenarnya dekat, atau yang dekat kemudian
terasa jauh. Yang lama terasa sebentar, dan yang sebentar ternyata begitu lama.
Ketika
manusia terjebak dalam kenangan. Ia memiliki konverter yang berbeda dengan
manusia kebanyakan yang berada di alam sadar sepenuhnya. Bukan lantaran kenangan
membuat seseorang kehilangan kesadaran, melainkan lebih karena kenangan adalah
saat dimana jarak dan waktu dilipat menjadi seperti apapun yang diperlukan oleh
si empunya kenangan.
Kenangan
bukan sederet aksara kuno yang dituliskan pada sebongkah batu dan dapat
dinikmati oleh siapapun. Ummm, mingkin saja. Tapi kenangan adalah jenis yang
hidup dan tak pernah jadi sejarah. Ia menggelinding seperti bola salju yang
semakin besar. Seperti secangkir kopi yang semakin dinikmati maka rasanya
semakin pekat. Kenangan itu sejarah yang punya rasa.
Seperti
kamu yang hanya mampu saya nikmati dalam kenangan yang membuat saya tak lagi
mempermasalahkan jarak dan waktu, meski saya tak pernah berhenti bertanya-tanya.
Apa
sebenarnya?
Jarak?
Waktu?
Untuk
kamu dan saya.