Hari
itu ternyata sudah enam tahun yang lalu. Tapi nyatanya waktu tak pernah mampu
sedikitpun membuat saya melupakan kamu.
Saat
itu saya sedang makan lalapan lele ketika menelponmu di balkon kamar kos yang
menjadi tempat favorit saya untuk sendirian. Saat pagi saya sering berdiri di
sana dan berharap matahari menendang saya ke kotamu, tepat di sisi ranjangmu.
Untuk menikmati wajahmu yang tak pernah karib dengan pagi dan mataharinya,
seperti juga saya. Tapi berapa lamapun saya berdiri matahari tetap saja terlalu
angkuh untuk meladeni keinginan pemudi jatuh hati yang sedang merindu. Ah!
Sebelum
malam itu sudah saya katakan padamu untuk menghubungi saya. Sekedar untuk
memastikan kalau saya masih pacar kamu. Satu minggu! Ya, saya memberimu waktu
satu minggu untuk menghubungi saya. Meski hanya sekalimat pendek SMS. Tapi nyatanya
hingga saya menelpon, kamu tetap tidak menghubungi saya.
Saya
benci setengah mati dengan lalapan lele setelah malam itu.
Saya
jatuh sakit.
Minum
obat ini itu, yang seharusnya tidak boleh saya minum. Sampai over dosis dan
masuk rumah sakit. Alkohol! Yah, sepertinya sejak saat itu saya mulai
berkenalan denganya.
Saya
memulai perjalanan-perjalanan tanpa tujuan pasti dengan kereta. Ke kotamu, kota
Kau Puisi. Berjalan tanpa tahu harus apa, kemana. Saya bahkan tak tahu harus
mencarimu kemana.
Beberapa
tahun setelahnya saya baru tahu. Ketika saya melewati setiap perjalanan itu,
mungkin kamu sedang tidur dengan kekasihmu. Perempuan yang kamu pikir bisa
menggantikan saya.
Kamu
mungkin bingung menata bagaimana isi cerita saya selama enam tahun itu. Saya sendiri
juga tidak menuturkannya dengan baik, karena saya sendiri juga kehilangan
begitu banyak bagiannya. Saya mulai menulis sejak itu. Sekedar untuk tetap
waras. Di antara hidup saya yang terlanjur berantakan.
Hari
ini saya kembali berada di tanggal itu meski bukan di hari yang sama seperti
enam tahun lalu. Parahnya, saya tak lagi punya alkohol atau sekedar aspirin
untuk meredakan sakit yang sama setiap mengingatnya. Ngilu yang semakin tahun
semakin ngilu.
Menyadari
kenyataan bahwa saya tak pernah ingat tanggal jadian kamu dan saya (saya bahkan
tak tahu apa kita pernah jadian atau tidak), tapi tak pernah lupa sejak malam
itu kita putus dan cerita yang sebenarnya tengah dimulai. Hingga saat ini.
Ditulis pada 15
Desember 2014
Enam tahun
setelah putus
Putus?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar