Selasa, 17 November 2015

Menyelam Sambil Tenggelam Bersama Kekasih_



Iseng membuka file-file lama di komputer itu seperti kelaparan lewat tengah malam dan membuka setiap laci yang ada untuk menemukan sedikit makanan. Selalu ada yang manis disana:

Adegan seorang kekasih menyelamatkan belahan jiwanya yang tenggelam adalah salah satu bagian romantis dalam cerita yang akan selalu dipilih untuk dikisahkan kembali. Tapi percayalah kamu tidak pernah ingin merasakannya dalam dunia nyata.

Menyaksikan orang yang kamu kasihi kehabisan napas di dalam air, menggapai-gapai sekenanya dan hampir mati. Terlebih dengan kemampuan berenangmu yang pas-pasan menengah ke bawah, yang tiba-tiba menghilang entah kemana ketika kamu membutuhkannya untuk sekedar menarik kekasihmu ke tepian.

Semua logika dipadamkan ketika kamu hanya berpikir untuk terjun menolongnya. Bahkan lebih tepatnya kamu mungkin hanya ingin bersamanya entah bisa menolong atau tidak.

Ketololan macam apa yang bisa kamu pertontonkan andai kekasihmu bisa membuka mata dalam air ketika dia menendangmu, menjambakmu, menjadikanmu pijakan demi menggapai-gapai daratan. Seketika itu pula ada ketulusan yang membimbingmu untuk memohon, ‘’lakukan apa saja padaku, asal kau selamat. Apa saja!”

Dan ketika tubuhmu mulai lemas, seperempat lambung dan paru-parumu terisi air. Bahkan sepersekian detik terpikir kematian mungkin mempersatukan kalian di neraka. Samar-samar bisa kamu lihat dari dalam air kekasihmu terengah kembali menemukan napasnya di darat dan berbalik kembali menarikmu.

Detik itu juga serasa ada kematian yang sedang kalian tertawakan berdua, we are alive honey!

Sayang,
entah kau rasa bualan macam apa ini. Tapi aku mengatakannya dengan kejujuran maut yang hampir saja mengambilmu dariku. Dengan kedinginan kolam 3,5 meter diantara bule dan pribumi yang meleluconkanmu denganku sore tadi.

Bersamamu adalah hal sederhana yang sangat rumit yang aku inginkan. Tapi melihatmu hampir saja mati denganku, tiba-tiba saja aku merasa mencintaimu adalah tanggung jawab yang begitu besar. Aku belum cukup kuat untuk menjagamu. Bagaimana ku katakan pada cintaku jika aku sampai membuatmu tak bahagia? Bagaimana kupertanggung jawabkan pada hidupku jika kau mati karenaku?

Aku tak sanggup melihatmu hampir mati di sisiku.

Menikahlah, bersenang-senanglah, tinggalkan aku, atau lakukan apapun sesukamu. Asal kau tetap hidup! TETAP HIDUP!

Meski melihatmu tak denganku tak kalah menyesakkan dengan hampir mati denganmu, lebih baik ku lihat kau dengan bahagia pura-pura di sisinya asal kau hidup. Entah hidup seperti apa yang ku bicarakan, tapi bukan hidup hampir mati bersamaku.

Sayang,
Aku ingin sekali terus berada di sisimu.

Tapi lebih ingin hati ini membahagiakanmu sebahagia-bahagianya.

Meski tak pernah kau katakan kau mencintaiku_hingga aku yang merengek_aku tak pernah ragu untuk mencebur sekali lagi dan berusaha menjagamu untuk lebih dari sekedar hidup. Sekali lagi aku akan ada disana meski tak tahu harus berbuat apa. Mati sekali lagi pun tak apa.

You have to keep alive, honey!

Have to be alright, always………


Jika tak salah ingat,
ini adalah hari kamis tanggal keempat minggu pertama pada bulan sepuluh 2012.
Hari dimana aku diperingatkan tentang keberadaanku
yang seharusnya mampu membahagiakanmu.

Senin, 16 November 2015

SalvatoRain_



Ya ampun!

Aku memang sudah membayangkan seperti apapun bentuknya, rasanya pasti tak kalah busuk dengan taik sapi. Benarlah! Cairan kuning itu menipu dengan warna yang cantik, sekilas aroma jeruk dan manis tipu-tipu. Belum lagi sekomplotannya. Lima belas bungkus serbuk puyer yang sudah pasti antibiotik dan beberapa bungkus lain yang sepertinya lebih manusiawi, beberapa bungkus suplemen.

Entah sejak kapan aku selalu terbiasa mencicipi makanan atau minuman apapun yang masuk ke mulut Rain. Terinspirasi oleh jongos-jongos raja yang harus mencicipi makanan tuannya kalau-kalau ada racun di dalamnya. Manis palsu! Itu yang pertama kali terasa ketika sirup kentalnya masuk ke tenggorokan. Campa kasar! Itu rasa saudaranya si puyer antibiotik. Dan si suplemen itu, aku sudah pernah mencobanya beberapa bulan lalu. Iseng saja. Untukku yang alergi anibiotik, mencoba berarti berjudi dengan reaksi tubuhku sendiri. Tapi ya, aku merasa harus melakukannya. Paling tidak sekali aku harus merasakan seperti apa tersiksanya Rain ketika harus meminumnya. Asu!

Aku seperti setan!

Kupaksa Rain meminum semua obat itu. Tangannya berontak. Tubuhnya. Kakinya. Ketika tangisnya pecah, airmataku sudah meleleh sampai leher. Untunglah kami hanya berdua, kalau tidak akan sulit membedakan siapa yang meminumi obat siapa. Aku bisa dengan mudah meremukkan tubuh Rain kalau saja kami lawan di ring tinju. Tapi lelaki kecilku itu begitu tangguh dengan tubuhnya yang lemas. Jadilah obat yang hanya sesendok itu tumpah rata di pipinya, pipiku. Rambutnya, dadaku. Bajunya, tanganku. Dengan tangis tak bersuara aku tak henti mengutuki diriku sendiri yang membuat Rain seperti sapi digelonggong.

Waktu yang semenit itu,
Terasa tak juga berakhir....

Kupeluk tubuhnya setelah sendok obat itu kosong. Entah terminum atau terbuang.

“we’ve done, kiddo. Done, Rain.”

Kubisikan itu ditelinganya yang terasa pahit. Lelakiku itu sudah tidak menangis, tapi isak-isak kecil masih membuat dada dan perutnya terengah naik turun. Aku mencoba menenangkannya dengan segelas air putih kesukaannya. Berhari-hari Rain dilarang makan. Oralit, air gula dia tak mau. Bahkan ASI yang biasanya jadi hal paling dicintainya di dunia sekarang tidak lagi. Hanya air putih, yang botolnya saja sampai dipeluk-peluknya.

Tak berani rasanya membayangkan hari-hari yang masih harus aku dan Rain lewati berdua seperti ini, sehari tiga kali. Belum juga kuseka airmatanya, tiba-tiba byuaaarrr......

Bibir kecilnya kembali memuntahkan semua obat yang sanggup kuminumkan padanya. Bodoh atau ideot, tapi entah bagaimana aku merasa lega.

“it’s okay, kiddo. It’s okay.”

Kutepuk-tepuk pundaknya. Ada kengerian yang terkait dibuku-buku jariku tiap kali punggungnya bertumbukan dengan telapak tanganku. Aku biarkan Rain tetap begitu, bersandar di pundakku sampai tertidur. Dia tertidur dengan cepat, tangannya lunglai terjatuh bahkan sebelum aku bernyanyi seperti biasa.

“bubuk yang nyenyak ya, Le. Biyung disini.”

Kalau bukan karena ingin Rain sehat lagi. Sudah kulempar kemukaku sendiri obat-obat itu

***

Aku merasakan dadaku berdenyut nyeri dengan masih menggendong Rain. Sejak sakit lelakiku ini jadi sedikit manja. Tak apa, matanya sudah terpejam meski sesekali bola mata di balik kelopak itu masih bergerak ke kanan  kiri. Aku selalu bertanya-tanya apa yang ada di balik kelopak mata itu ketika si empunya terpejam. Apa yang dilihatnya sampai bola mata itu bergerak ke kanan kiri. Benar, batas antara gelap dan terang itu hanya sebatas kelopak mata. Setipis itu pula jarak dunia di sisi lain yang tak mampu digapai saat terjaga.

Matamu, Nak. Juga telingamu. Mereka adalah para penjaga rahasia, tapi mulutmu adalah kran yang bisa kapan saja mengalirkan rahasia itu jika kamu! Ya, kamu! Tidak mampu memegang kendali atas dirimu sendiri.

Aku meletakkan Rain setelah benar-benar yakin tidurnya lelap. Sementara itu aku bisa merasakan suhu tubuhku naik, semakin panas. Dadaku semakin nyeri. Aku berbaring di samping Rain dan bisa merasakan dadaku menonjok sampai ke leher. Membuat napas semakin berat dan keringat dingin jatuh satu-satu.

Sejak Rain sakit, lelakiku ini jadi susah menyusu. Aku didorong-dorongnya ketika kugoda dia dengan menawarkan minum susu seperti biasa. Kadang dia menangis pura-pura kalau sudah kupaksa-paksa menyusu. Benar-benar hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya bahwa menyusui Rain akan jadi sesulit ini. Hari ini, terakhir dia menyusu saja sudah siang tadi sekitar pukul satu siang. Sampai sekarang pukul tujuh malam dia tak juga mau menyusu. Mulutnya tak bermasalah, mungkin efek muntah dan obat itu yang membuat mulutnya pahit.

Aku hampir saja sesak menahan sakit kalau saja tidak iseng membuka surel dan menemukan “iklan” breastpump yang kubuat sendiri. Merasa tak lagi butuh breastpump itu lagi, aku berpikir untuk menjualnya saja. Tapi detik itu juga aku mengerti kenapa alam merespon niatku itu dengan membiarkannya tetap menjadi “iklan” saja. Seketika aku menoleh pada Rain dan mengecup keningnya.

“you’re my lucky me, kiddo.”

Aku beranjak pelan dari sisinya karena takut ia akan terbangun dengan suara decit per kasur. Dengan masih kesakitan aku mencoba menemukan breastpump itu di lemari Rain. Oh, thanks Love!

Dengan alasan takut sewaktu-waktu Rain akan menyusu, aku memang menolak membuang air susu meskipun sudah terasa begitu sakit. Sakitnya bahkan mengingatkanku seperti pertama kali air susunya akan keluar, sampai mirip punya Julia Perez. Mak! Kamu mungkin geli mendengar ini, atau jijik. Tapi itulah yang dirasakan perempuan, ibu. Oke, back.

Dua puluh menit aku memompa satu payudara sebelah kiri dan wow...
Aku sedikit terkejut jika ternyata untuk memompa sampai tak terasa begitu nyeri, aku bisa mendapatkan dua botol asi perah sebanyak 200ml. Kalau dua payudara? Itungen dewe....

Baiklah. Cerita ini mulai jadi agak panjang.
Rain itu laki-laki yang kuat. Dia jarang sakit dan nerimo. Keadaan biyungnya yang tak terlalu bisa banyak hal yang membuatnya seperti itu. Dan hari ini, serta beberapa hari kedepan akan menjadi hari-hari yang berat sampai obat-obat sialan itu habis.

Rain, Le....
Kalau kamu sudah mengerti nanti. Biyung harap kamu paham kalau bukan hanya hal manis yang akan kita lewatkan berdua. Ada hal pahit juga yang mungkin terpaksa harus biyung gelonggong-gelonggongkan padamu seperti obat itu. Tapi biyung pastikan kamu tidak akan pernah sendiri. Pahit itu juga menjadi milik biyung, Nak. Biyung tidak akan membohongimu dengan bualan bahwa hidup itu selalu punya jalan keluar di setiap masalahnya. Jalan buntu itu ada, Le. Kalau kamu berada di jalan buntu itu nanti. Pilihanmu cuma dua, hadapi atau pasrah. Jadi sebelum sampai di jalan itu, kenali dirimu. Jadi kamu tahu kapan harus bertarung atau pasrah.

Itu hanya obat-obat tak berarti. Tapi jalan buntu itu mengharuskan biyung untuk memilih mengalahkan ketakutan itu, Nak. Kamu yang kuat membuat biyung berani, atau sebutlah tega untuk membiarkanmu mencecap pahit dengan tangan biyung sendiri. Biyung tak bilang semua sudah baik-baik saja, tapi kita akan jadi lebih kuat.

Cepat sembuh, Le...
Selain jalan keluar dan jalan buntu itu, ada jalan lain yang juga bisa kamu temukan sendiri nanti. Jalan yang mendengar namanya saja biyung belum pernah.
Get well soon, my SalvatoRain...

Ditulis pada Rabu, 11 Nopember 2015

Hidup Basi_



Kenapa seseorang bersedia hidup tanpa tahu sedetikpun tentang hidup yang dijalaninya? Bagaimana seorang bayi bisa menangis ketika merasa haus? Kenapa tak membiarkannya saja tanpa susu? Tahu darimana kalau bayi itu ingin hidup? Atau jaminan apa ia tak memilih mati jika kelak merasa hidupnya sia-sia?

Kenapa perempuan harus mengandung ketika berahinya hanya sebatas having sex, bukan making love? Kenapa seseorang harus hidup kemudian mati? Darimana asalnya sebelum kehidupan dimulai? Apa ketika mati ia kembali pada dunia sebelum ia hidup? Atau ia pergi ke dunia yang baru lagi?

Mana yang lebih dulu ada? Agama? Atau hidup?

Bagaimana bisa ada begitu banyak tuhan sementara hidup cuma satu? Mati juga cuma setelah habis hidup. Kenapa manusia tidak berbuat salah pada satu tuhan dan berlari pada tuhan yang lain saja? Apa tuhan-tuhan itu seakur agama-agama yang katanya berdampingan dalam hidup?

Apa yang dipikirkan tuhan-tuhan itu ketika menciptakan hidup?

Membuat yang satu begini, yang lainnya begitu, yang sebagian bagaimana.

Untuk apa, hidup?

Apa itu hidup?

Kenapa harus hidup? Kalau sudah tahu pasti mati.

Kenapa harus mati?

Basi!

Ditulis pada malam basi menjelang pagi,
Bersama Rain
Sabtu, 07 Nopember 2015

Senin, 26 Oktober 2015

Gelombang dan Semalam Tanpamu_



Satu-satunya yang terpikir olehku adalah kamu telah memutuskan sesuatu-entah apa, setelah pertemuan terakhir kita. Itulah kenapa kamu mendiamkanku. Yah, aku mencoba sadar diri dengan memberimu waktu untuk siap mengatakannya padaku. Bukan! Sebenarnya akulah yang butuh waktu untuk menyiapkan diriku sendiri tentang apapun yang akan kamu katakan nanti. Itupun jika masih ada dialog yang akan mempertemukan kita lagi.

Aku kelimpungan.

Sampai mataku tertumbuk pada sebuah buku yang telah lama berderet di rak koleksi, tapi bahkan sampul plastiknya belum kubuka. Entahlah. Aku menjadi begitu sombong pada rinduku sendiri. Rindu pada buku-buku yang menyita habis perhatianku tanpa perduli pada apapun. Aku mendekati buku dengan cover hitam yang tak tebal itu. Ku taksir ada sekitar 400-500 halaman. Ada gambar, eh, entahlah. Simbol mungkin- di bagian depannya. Berwarna orange keemasan. Simbol yang dengan sekali melihat mampu membuatku memvisualisasikan dalam kepala seperti apa wujudnya dalam alam yang masih kupijak.

Saat itu pukul setengah delapan malam, setelah aku menidurkan Rain.

Kemampuan membacaku jauh berkurang semenjak Rain menyedot habis perhatianku hanya untuknya. Beberapa buku yang coba ku baca malah berakhir naas di tangannya kena kencing, sobek atau bahkan menjadi lauk dalam mangkuk buburnya. Untuk aku yang melihat halaman buku dilipat-lipat saja sudah jengkel setengah mati, lebih bijak aku memilih ulang waktu tidur Rain yang mungkin bisa kupakai untuk membaca.

Malam ini.

Aku mau membaca lagi.

Seketika aku terkesima menyadari diriku sendiri telah berada pada dimensi yang berbeda begitu mulai membaca. Aku kenal perasaan ini, aku karib dengan kecanduan ini. Perasaan menggebu, meletup-letup seperti aku akan mati besok. Jadi buku ini harus kurampungkan sekarang. Sekarang!

Tidak, bukan seperti itu!

Aku hanya terlena. Tersihir masuk pada setiap lini ceritanya. Meninggalkan tubuhku dan menjelma sosok tak terlihat dalam cerita.

Aku jatuh hati, Hujanku....

Sumpah!

Entah pada apa. Tapi, maaf-aku sanggup melupakanmu. Ketika kutengok jam dinding yang menunjuk angka diantara empat dan lima. Buku itu habis kubaca. Meski untuk ukuran jatuh hati, itu waktu yang terlalu lama. Harusnya aku bisa membaca lebih cepat dari itu. Meski membacaku harus diinterupsi-dengan ikhlas, ketika Rain bangun untuk sekedar menyusu atau panggilan alamku yang tak lagi bisa ku tahan.

Aku jatuh hati padanya, Hujanku....

Gelombang.

Ishtar.

Bintang Jatuh.

Si Jaga Portibi.

Oh, demi langit! Entah karena ini euforia pertama kalinya aku kembali membaca atau otakku sudah orgasme padanya-mereka. Tapi aku benar-benar menyukai rasa ini (Ingin terus seperti ini, selamanya). Meskipun begitu habis cerita, aku kembali mengingatmu. Bahkan beberapa saat menciptakan sosok imaginer gabungan citramu yang kusimpan dan penokohan yang kusimpan dari cerita.

Inilah serangan fajarku, Hujanku....

Bulu halus di tengkukku menegak. Seperti merasakanmu dan dia-mereka, sedang mencumbuku. Menciumiku lewat sisa-sisa cerita yang mampu ku rangkai kembali. Aku sampai ingin buru-buru menelponmu, entah untuk apa. Kamu juga tak akan terlalu antusias pada ceritaku. Padaku yang sedang jatuh hati, lagi.

Sumpah, lagi!

Terpujilah yang menciptakan makhluk-makhluk itu begitu abstrak tak tersentuh. Hingga aku bisa menikmatinya seperti apapun yang kubutuhkan. Yang meramu mimpi basahku ketika fajar dan membuat kursorku berlari begitu kencang, berkelip sebentar kemudian kembali berlari.

Sungguh.

Aku merindukan disiksa seperti ini.

Kamu pasti sudah membacanya, kan?

Kadang aku menangkap arah pembicaraanmu yang mulai nyleneh. Bertanya ini itu seolah aku ini ensiklopedia atau kamus berjalan. Tapi aku juga sering seperti itu. Dengan tak tahu waktu bertanya pada seseorang yang kupikir akan sanggup meladeniku.

Baiklah.

Aku harus tidur. Sebelum Rain bangun dan duniaku diambil alih olehnya-dengan ikhlas. Sampai kapan kamu mau mendiamkanku?

Ditulis pada pagi,
Setelah jatuh hati
Jumat, 23 Oktober 2015