Ya ampun!
Aku
memang sudah membayangkan seperti apapun bentuknya, rasanya pasti tak kalah
busuk dengan taik sapi. Benarlah! Cairan kuning itu menipu dengan warna yang
cantik, sekilas aroma jeruk dan manis tipu-tipu. Belum lagi sekomplotannya.
Lima belas bungkus serbuk puyer yang sudah pasti antibiotik dan beberapa bungkus
lain yang sepertinya lebih manusiawi, beberapa bungkus suplemen.
Entah
sejak kapan aku selalu terbiasa mencicipi makanan atau minuman apapun yang
masuk ke mulut Rain. Terinspirasi oleh jongos-jongos raja yang harus mencicipi
makanan tuannya kalau-kalau ada racun di dalamnya. Manis palsu! Itu yang
pertama kali terasa ketika sirup kentalnya masuk ke tenggorokan. Campa kasar!
Itu rasa saudaranya si puyer antibiotik. Dan si suplemen itu, aku sudah pernah
mencobanya beberapa bulan lalu. Iseng saja. Untukku yang alergi anibiotik,
mencoba berarti berjudi dengan reaksi tubuhku sendiri. Tapi ya, aku merasa
harus melakukannya. Paling tidak sekali aku harus merasakan seperti apa
tersiksanya Rain ketika harus meminumnya. Asu!
Aku
seperti setan!
Kupaksa
Rain meminum semua obat itu. Tangannya berontak. Tubuhnya. Kakinya. Ketika
tangisnya pecah, airmataku sudah meleleh sampai leher. Untunglah kami hanya
berdua, kalau tidak akan sulit membedakan siapa yang meminumi obat siapa. Aku
bisa dengan mudah meremukkan tubuh Rain kalau saja kami lawan di ring tinju.
Tapi lelaki kecilku itu begitu tangguh dengan tubuhnya yang lemas. Jadilah obat
yang hanya sesendok itu tumpah rata di pipinya, pipiku. Rambutnya, dadaku.
Bajunya, tanganku. Dengan tangis tak bersuara aku tak henti mengutuki diriku
sendiri yang membuat Rain seperti sapi digelonggong.
Waktu
yang semenit itu,
Terasa
tak juga berakhir....
Kupeluk
tubuhnya setelah sendok obat itu kosong. Entah terminum atau terbuang.
“we’ve done, kiddo. Done, Rain.”
Kubisikan
itu ditelinganya yang terasa pahit. Lelakiku itu sudah tidak menangis, tapi
isak-isak kecil masih membuat dada dan perutnya terengah naik turun. Aku
mencoba menenangkannya dengan segelas air putih kesukaannya. Berhari-hari Rain
dilarang makan. Oralit, air gula dia tak mau. Bahkan ASI yang biasanya jadi hal
paling dicintainya di dunia sekarang tidak lagi. Hanya air putih, yang botolnya
saja sampai dipeluk-peluknya.
Tak
berani rasanya membayangkan hari-hari yang masih harus aku dan Rain lewati
berdua seperti ini, sehari tiga kali. Belum juga kuseka airmatanya, tiba-tiba
byuaaarrr......
Bibir
kecilnya kembali memuntahkan semua obat yang sanggup kuminumkan padanya. Bodoh
atau ideot, tapi entah bagaimana aku merasa lega.
“it’s okay, kiddo. It’s okay.”
Kutepuk-tepuk
pundaknya. Ada kengerian yang terkait dibuku-buku jariku tiap kali punggungnya
bertumbukan dengan telapak tanganku. Aku biarkan Rain tetap begitu, bersandar
di pundakku sampai tertidur. Dia tertidur dengan cepat, tangannya lunglai
terjatuh bahkan sebelum aku bernyanyi seperti biasa.
“bubuk yang nyenyak ya, Le. Biyung disini.”
Kalau
bukan karena ingin Rain sehat lagi. Sudah kulempar kemukaku sendiri obat-obat
itu
***
Aku
merasakan dadaku berdenyut nyeri dengan masih menggendong Rain. Sejak sakit
lelakiku ini jadi sedikit manja. Tak apa, matanya sudah terpejam meski sesekali
bola mata di balik kelopak itu masih bergerak ke kanan kiri. Aku selalu bertanya-tanya apa yang ada
di balik kelopak mata itu ketika si empunya terpejam. Apa yang dilihatnya
sampai bola mata itu bergerak ke kanan kiri. Benar, batas antara gelap dan
terang itu hanya sebatas kelopak mata. Setipis itu pula jarak dunia di sisi lain
yang tak mampu digapai saat terjaga.
Matamu, Nak. Juga telingamu. Mereka adalah para penjaga rahasia,
tapi mulutmu adalah kran yang bisa kapan saja mengalirkan rahasia itu jika
kamu! Ya, kamu! Tidak mampu memegang kendali atas dirimu sendiri.
Aku
meletakkan Rain setelah benar-benar yakin tidurnya lelap. Sementara itu aku
bisa merasakan suhu tubuhku naik, semakin panas. Dadaku semakin nyeri. Aku
berbaring di samping Rain dan bisa merasakan dadaku menonjok sampai ke leher.
Membuat napas semakin berat dan keringat dingin jatuh satu-satu.
Sejak
Rain sakit, lelakiku ini jadi susah menyusu. Aku didorong-dorongnya ketika
kugoda dia dengan menawarkan minum susu seperti biasa. Kadang dia menangis
pura-pura kalau sudah kupaksa-paksa menyusu. Benar-benar hal yang tidak pernah
aku bayangkan sebelumnya bahwa menyusui Rain akan jadi sesulit ini. Hari ini,
terakhir dia menyusu saja sudah siang tadi sekitar pukul satu siang. Sampai
sekarang pukul tujuh malam dia tak juga mau menyusu. Mulutnya tak bermasalah,
mungkin efek muntah dan obat itu yang membuat mulutnya pahit.
Aku
hampir saja sesak menahan sakit kalau saja tidak iseng membuka surel dan
menemukan “iklan” breastpump yang kubuat sendiri. Merasa tak lagi butuh
breastpump itu lagi, aku berpikir untuk menjualnya saja. Tapi detik itu juga
aku mengerti kenapa alam merespon niatku itu dengan membiarkannya tetap menjadi
“iklan” saja. Seketika aku menoleh pada Rain dan mengecup keningnya.
“you’re my lucky me, kiddo.”
Aku
beranjak pelan dari sisinya karena takut ia akan terbangun dengan suara decit
per kasur. Dengan masih kesakitan aku mencoba menemukan breastpump itu di
lemari Rain. Oh, thanks Love!
Dengan alasan takut sewaktu-waktu Rain akan menyusu, aku memang
menolak membuang air susu meskipun sudah terasa begitu sakit. Sakitnya bahkan
mengingatkanku seperti pertama kali air susunya akan keluar, sampai mirip punya
Julia Perez. Mak! Kamu mungkin geli mendengar ini, atau jijik. Tapi itulah yang
dirasakan perempuan, ibu. Oke, back.
Dua puluh menit aku memompa satu payudara sebelah kiri dan wow...
Aku sedikit terkejut jika ternyata untuk memompa sampai tak terasa
begitu nyeri, aku bisa mendapatkan dua botol asi perah sebanyak 200ml. Kalau
dua payudara? Itungen dewe....
Baiklah. Cerita ini mulai jadi agak panjang.
Rain itu laki-laki yang kuat. Dia jarang sakit dan nerimo. Keadaan
biyungnya yang tak terlalu bisa banyak hal yang membuatnya seperti itu. Dan
hari ini, serta beberapa hari kedepan akan menjadi hari-hari yang berat sampai
obat-obat sialan itu habis.
Rain, Le....
Kalau kamu sudah mengerti nanti.
Biyung harap kamu paham kalau bukan hanya hal manis yang akan kita lewatkan
berdua. Ada hal pahit juga yang mungkin terpaksa harus biyung
gelonggong-gelonggongkan padamu seperti obat itu. Tapi biyung pastikan kamu
tidak akan pernah sendiri. Pahit itu juga menjadi milik biyung, Nak. Biyung
tidak akan membohongimu dengan bualan bahwa hidup itu selalu punya jalan keluar
di setiap masalahnya. Jalan buntu itu ada, Le. Kalau kamu berada di jalan buntu
itu nanti. Pilihanmu cuma dua, hadapi atau pasrah. Jadi sebelum sampai di jalan
itu, kenali dirimu. Jadi kamu tahu kapan harus bertarung atau pasrah.
Itu hanya obat-obat tak berarti.
Tapi jalan buntu itu mengharuskan biyung untuk memilih mengalahkan ketakutan
itu, Nak. Kamu yang kuat membuat biyung berani, atau sebutlah tega untuk membiarkanmu
mencecap pahit dengan tangan biyung sendiri. Biyung tak bilang semua sudah
baik-baik saja, tapi kita akan jadi lebih kuat.
Cepat sembuh, Le...
Selain jalan keluar dan jalan buntu
itu, ada jalan lain yang juga bisa kamu temukan sendiri nanti. Jalan yang
mendengar namanya saja biyung belum pernah.
Get well soon, my SalvatoRain...
Ditulis pada Rabu, 11 Nopember 2015