Iseng membuka file-file lama di
komputer itu seperti kelaparan lewat tengah malam dan membuka setiap laci yang
ada untuk menemukan sedikit makanan. Selalu ada yang manis disana:
Adegan
seorang kekasih menyelamatkan belahan jiwanya yang tenggelam adalah salah satu
bagian romantis dalam cerita yang akan selalu dipilih untuk dikisahkan kembali.
Tapi percayalah kamu tidak pernah ingin merasakannya dalam dunia nyata.
Menyaksikan
orang yang kamu kasihi kehabisan napas di dalam air, menggapai-gapai sekenanya
dan hampir mati. Terlebih dengan kemampuan berenangmu yang pas-pasan menengah
ke bawah, yang tiba-tiba menghilang entah kemana ketika kamu membutuhkannya
untuk sekedar menarik kekasihmu ke tepian.
Semua
logika dipadamkan ketika kamu hanya berpikir untuk terjun menolongnya. Bahkan
lebih tepatnya kamu mungkin hanya ingin bersamanya entah bisa menolong atau
tidak.
Ketololan
macam apa yang bisa kamu pertontonkan andai kekasihmu bisa membuka mata dalam
air ketika dia menendangmu, menjambakmu, menjadikanmu pijakan demi
menggapai-gapai daratan. Seketika itu pula ada ketulusan yang membimbingmu
untuk memohon, ‘’lakukan apa saja padaku, asal kau selamat. Apa saja!”
Dan
ketika tubuhmu mulai lemas, seperempat lambung dan paru-parumu terisi air.
Bahkan sepersekian detik terpikir kematian mungkin mempersatukan kalian di
neraka. Samar-samar bisa kamu lihat dari dalam air kekasihmu terengah kembali
menemukan napasnya di darat dan berbalik kembali menarikmu.
Detik
itu juga serasa ada kematian yang sedang kalian tertawakan berdua, we are alive honey!
Sayang,
entah kau rasa bualan macam apa ini.
Tapi aku mengatakannya dengan kejujuran maut yang hampir saja mengambilmu
dariku. Dengan kedinginan kolam 3,5 meter diantara bule dan pribumi yang
meleluconkanmu denganku sore tadi.
Bersamamu adalah hal sederhana yang
sangat rumit yang aku inginkan. Tapi melihatmu hampir saja mati denganku,
tiba-tiba saja aku merasa mencintaimu adalah tanggung jawab yang begitu besar.
Aku belum cukup kuat untuk menjagamu. Bagaimana ku katakan pada cintaku jika
aku sampai membuatmu tak bahagia? Bagaimana kupertanggung jawabkan pada hidupku
jika kau mati karenaku?
Aku tak sanggup melihatmu hampir mati
di sisiku.
Menikahlah, bersenang-senanglah,
tinggalkan aku, atau lakukan apapun sesukamu. Asal kau tetap hidup! TETAP
HIDUP!
Meski melihatmu tak denganku tak kalah
menyesakkan dengan hampir mati denganmu, lebih baik ku lihat kau dengan bahagia
pura-pura di sisinya asal kau hidup. Entah hidup seperti apa yang ku bicarakan,
tapi bukan hidup hampir mati bersamaku.
Sayang,
Aku ingin sekali terus berada di
sisimu.
Tapi lebih ingin hati ini
membahagiakanmu sebahagia-bahagianya.
Meski tak pernah kau katakan kau
mencintaiku_hingga aku yang merengek_aku tak pernah ragu untuk mencebur sekali
lagi dan berusaha menjagamu untuk lebih dari sekedar hidup. Sekali lagi aku akan
ada disana meski tak tahu harus berbuat apa. Mati sekali lagi pun tak apa.
You have to keep alive, honey!
Have to be alright, always………
Jika tak salah ingat,
ini adalah hari kamis tanggal keempat minggu pertama pada
bulan sepuluh 2012.
Hari dimana aku diperingatkan tentang keberadaanku
yang seharusnya mampu membahagiakanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar