Selasa, 17 Desember 2013

Dalam 5 Menitku Denganmu_




Ada banyak hal yang ingin aku lakukan dalam 5 menitku denganmu. Jika bisa aku ingin mengatakan aku merindukanmu. Jika bisa aku ingin mengatakan betapa kacaunya hari-hari disini tanpamu. Jika bisa aku ingin mengatakan aku hampir gila. Jika bisa aku ingin kamu di sini atau aku yang di sana denganmu. Jika bisa aku akan ke pengadilan agama dan memberimu surat ceraiku. Jika bisa aku akan bercerita tentang hari-hari matiku dengannya.

Dalam 5 menitku denganmu, aku hanya bisa mendengar detik-detik berlalu. Ada napasmu di sana, timbul tenggelam oleh deru mesin kipas angin.

Dalam 5 menitku denganmu, aku hanya bisa terus bertanya tentang menit-menit untuk kembali denganmu.

Dalam 5 menitku denganmu, aku melepasmu...

Hujanku,
Pagi ini begitu riuh dengan lalu lalang begitu banyak orang. Sedangkan aku merindukan hari-hari sepi saat aku denganmu. Hari-hari kita yang habis untuk menghayalkan anjing-anjing kita kelak. Hari-hari yang habis untuk berkeliling tanpa tujuan dan berburu hujan.

Dan 5 menitku denganmu sudah habis...

Terimakasih sudah menelpon...
5555_




ditulis dalam menit-menit
setelah telpon ditutup

Senin, 16 Desember 2013

Down It!



PAGI mendung selalu membawa ingatan yang ditinggalkan dalam saku-saku yang ditinggalkan. Seperti pagi ini ketika membuka album foto pada salah satu folder  komputer jinjing, ada cerita-cerita rahasia yang kembali bertutur pada kebisuan.
Entah sejak kapan saya mengenalnya. Rokok, buku, kopi dan alkohol. Mereka seperti teman baik yang tak pernah menuntut apapun kecuali kenikmatan yang mereka tawarkan sendiri. Betapa hebatnya waktu dan society yang menghimpit kehidupan seorang manusia hingga menjadi pribadi yang berbeda. Pemikiran yang berbeda!
Saya menolak dikatakan pecandu rokok maupun tukang mabok seperti sekumpulan geng bocah-bocah yang mabuk di perempatan. Tapi kerinduan saya tentang kedua hal itu mungkin sama atau lebih kuat dari mereka.
Bulu kuduk bisa sampai merinding ketika menahan kangen dan mengingat di sebuah kamar dengan seorang kawan berdiskusi ngalor ngidul. Menciptakan karakter-karakter fiktif atau beradu argumen tentang apapun yang mampu kami pikirkan. Kepul asap rokok, aroma khas alkohol yang memberi kehangatan pada jiwa-jiwa kami yang merindu, buku-buku yang telah habis dibaca tapi dibaca lagi dan kadang kopi.
Apa kabarmu SEXY?
Apa kabarmu PUTIH?
Sementara di belahan lain cerita ini ada banyak orang yang juga merindu seperti saya. Semoga arak yang tidak terlalu enak dibandingkan buatan Rusia itu sedikit mengobati rindumu, Bung. Orange juice sepertinya kawan yang tepat untuk arakmu itu, meskipun tak seenak buatan Rusia.
Nanti, di pagi mendung lain, bagilah shot glassmu denganku (yang dibikin Rusia lebih enak).
Selamat menikmati pagi terakhir di kota itu, dengan arak lokal (besok kalau pulang yang dibikin Rusia lebih enak).
Down it!

Kamis, 12 Desember 2013

Musikmu Tahun Ini, Sama Denganku :)



SENANG rasanya mendengarmu bercerita tentang banyak hal, apapun yang mampu kamu katakan pada saya. Seperti ketika tahun lalu kamu bilang pada saya kamu suka sama band legendaris Dream Theater. Kamu kirim beberapa lagunya untuk saya. SPIRIT CARRIES ON,  I WALK BESIDE YOUdan satu yang paling kamu suka. OCTAVARIUM.
Kamu dan saya pernah menghabiskan semalaman untuk membahas lagu itu. Kata-katanya dan sekian banyak makna yang kamu dan saya ciptakan dengan hipotesa-hipotesa yang ngawur dan serius. Apapun, tapi saya menyukainya.
Terlebih ketika tahun lalu Dream Theater sambang ke Indonesia, ke Jakarta. Kamu dan saya sepakat itu adalah kesempatan langka. Saya juga bersikukuh kamu harus nonton. Rugi, kalau sampai kamu nggak nonton. Kapan lagi Dream Theater ke Indonesia, merasakan euforianya secara langsung. LIVE!
Pikiranmu pun tak jauh beda dengan saya. Bukan hal yang meranirk ditebak memang. Yang menarik adalah ternyata kamu memutuskan untuk tidak berangkat, fuck! Padahal saya berharap bisa mendengar ceritamu, suka cita dalam kata-katamu. Saya juga lupa  kenapa kamu batal berangkat waktu itu. Itu sudah tahun lalu...
Tahun ini,
Ketika kamu dan saya kembali dipertemukan dalam keadaan yang berbeda musik yang kamu dengarkan pun ternyata juga sudah berbeda. Entah bagaimana awalnya kamu dan saya membicarakan musik-musik ajaib ini. Kamu bilang sama saya kalau kamu menyesal tak mengenalnya dari dulu, musik-musik ini. Banyak sekali yang kamu ceritakan tentang musik-musik ini, saya suka mendengarnya. Ceritamu.
Ludwig Van Beethoven
Wolfgang Amadeus Mozart
Joseph Haydn
Dan semua composer yang kamu dengar, yang kamu ceritakan. Saya juga mendengarnya sejak beberapa waktu terakhir. Meski hanya mendengarnya dan tidak sepiawai kamu menceritakannya, tapi saya kenal dengan symphony-symphony yang kita bicarakan. Mulai dari Moonligt Sonata dan Fur Elise yang sudah kapalan di kuping banyak orang, iklan yang awalnya mirip dengan A Little Night Music, keceriaan dalam The Magic Flute yang pernah kamu kirimkan pada saya sampai dengan The Ninth Symphony; the amazing Ode To Joy.
Dan tentang yang satu itu, si Lacrimosa. Kamu bahkan menjadikan judulnya sebgai status di Whatsapp-mu selama berhari-hari. Kamu juga bilang nama tokoh perempuan yang sedang saya garap sekarang mungkin cocok jika namanya diganti menjadi Constanze, padahal saya jelas-jelas bilang karakter perempuan ini berdarah biru. Hahahahaha. Atau tentang anjing-anjing kita, kamu bilang namanya Wolfie, stands for Wolfgang Amadeus Mozart. Hahahahaha
Hingga akhirnya pada satu hari di bulan kesebelas tahun ini pekerjaan menuntutmu untuk bertugas di Jakarta selama beberapa minggu, dan hari-hari selanjutnya di kota besar itu adalah nol besar untukmu. Hari-hari dimana yang kamu ceritakan adalah kebosanan, jenuh dan lagi-lagi bosan.
Tapi ada saat dimana saya seperti menemukan semangatmu kembali. Ketika saat itu kamu mengirimkan sebuah foto. Foto dengan kualitas rendah dan terkesan asal motret saja. Tapi dari foto itu saya bisa melihat sudut pandangmu, dimana kamu duduk saat itu. Menyenangkan mendengarmu bercerita bahwa kamu menemukan konser musik klasik di Jakarta. Kamu bilang pergi ke konser itu  lebih enak sendiri. Selain itu tak ada kata-ka yang mampu kamu pakai untuk melukisnya dalam perasaanmu. Saya senang mendengarnya...
Suatu saat nanti kamu harus kembali ke tempat itu untuk nonton konser musik-musik ajaib itu, meski kamu bilang kamu nggak suka Jakarta. Saya mendukung J
Bahkan mimpi-mimpimu untuk pergi ke Austria atau Vienna, saya yakin kamu bisa kesana. Seperti saya yakin kamu akan kembali.
Musik-musik ajaib itu seperti jalan yang akan membawamu pulang suatu saat nanti kita akan pulang Hujanku...

Rabu, 04 Desember 2013

Bagaiman Kamu Bertemu Kay?

Sudah berhari-hari sejak namanya diciptakan saya tetap masih sangat kesulitan untuk membuk karakternya. Terutama pertemuannya dengan Kay, itu yang paling menyedot habis kekuatan menulis fiksi saya. Bukan pertemuan-pertemuan picisan yang seringkali saya nilai sama sekali tidak natural dan lemah. Saya mau pertemuanya dengan Kay itu kuat dan natural. Tetap lengkap dengan kontras yangsaya mau, yaitu dunianya yang jauh dari khayalan dan dunia Kay yang hidup dalam fiksi.

Saya ingin Kay adalah nyanyian KINJENG TANGIS yang dapat di dengarnya, yang memanggilnya setelah 17 tahun bertahan hidup di dalam tanah pada beberapa minggu saja di atas permukaan dalammusim kawinnya. Dia dan Kay akan bertemu seperti itu.

Tapi BAGAIMANA?
FUCK!

Sekian banyak lini penghubung yang saya obrolkan dengan beberapa teman tak juga memuaskan saya, menjawab pertanyaan saya! Saya masih seperti itu, berspekulasi tentang suatu hal dan mengeluarkan begitu banyak hipotesa tapi kemudian membantahnya sendiri. Saya masih seperti itu!

Kalau hanya karakternya yang dengan kondisi finansial yang mapan, kehidupan rumah tangga yang mulus-mulus saja, karir yang terus meningkat, otak yang cerdas, otoritas dan segambreng cetakan penokohan yang bisa saya buat. Itu semua hanaya untuk menciptakan kejenuhan pada hidupnya yang nyaris sempurna.

Pertemuannya dengan Kay saya mau sebagai titik balik diman dia "kembali hidup"!

Opsi terkuat hingga saat ini tentang pertemuan itu adalah melalui pekerjaannya. Yah, dengan pekerjaan yang mengharuskannya menghadapi benda mati dan meng-convert bahasa manusia dalam kode-kode yang dipahami oleh komputer dan diterjemahkan kembali dalam bahasa yang dimengerti manusia. Nihil rasanya ia bertemu dengan Kay. Opsi ini yang paling kuat dan natural menurut saya.

Kerja keras pembentukan pertemuan Kay dengannya tampaknya harus lebih keras lagi. Mengingat dia dan pertemuannya dengabn Kay adalah resolusi tahun depan yang sudah harus rampung minimal 60% di tahun ini.

Sabar ya...
Saya janji bikin kamu dan Kay bertemu, tidak dengan pertemuan murahan :)

Saya memanggilmu Silencio, il...

Dalam Melody of Tears

Aku berjelaga kerinduan pada semesta bayanganmu
Berlari terhuyung dan terhempas,
pada keterbataan kata,
pada lafal tanpa arti selain namamu
Tangan ini, sayang...
Menggapai bias senja dimana jejakmu tertinggal
Mengais sisa-sisa kecupanmu dalam deru angin
Katanya aku gila, matahari bilang
Katanya aku sekarat, sahut tanah
Tapi tak ada yang mengatakan
Kemana kau bawa hatiku
Kemudian ku tanya pada secawan anggur
"Berapa lama aku mabuk? Apa lukaku kering sudah?"
Anggur sama diamnya,
dengan perdu-perdu pengelana
yang padanya kutitipkan rinduku padamu
apa kau sudah berjumpa dengan mereka?

Jangan pergi dulu sayang...
Jangan pergi lagi
Duduklah dekat-dekat denganku, di sini
Menikmati secangkir kopi
Dalam simfoni airmata
Karena aku merindukanmu sayangku...
Teramat rindu

Dan aku...
Berjelaga kerinduan pada semesta bayanganmu

Ditulis dalam nyanyian Melody of Tears
Untuk seorang kekasih di kota Kau Puisi
Rabu, 27-11-2013

Pada suatu saat nanti, aku ingin kau mendengarnya Hujanku...
Aku akan membacakannya sendiri untukmu, dengan diiringi Melody of Tears seperti saat aku menulisnya. Aku akan berdiri dihadapanmu dan membuatmu melihat tentang betapa rindunya aku padamu. Karena kamu adalah mantra pengusir sepiku, maka aku sekarat jika kamu menghilang.
Karena menulis seperti ini membuat saya tetap waras dalam kemarau di musim hujan yang sangat lama. Suatu saat nanti kamu akan melihat saya membacanyauntukmu. Entah kapan, tapi saya tak pernah sabar untuk segera bertemu denganmu.

Masih Dalam Pengaruh Sejarah Tuhan

                  manusia dan tuhan = GAP
            Buktinya tuhan yang sering dibicarakan orang itu selalu menampakkan diri melalui wahyu atau sebagai KAMBING HITAM setiap hal yang tak mampu dijangkau oleh nalar. Cara untuk memperpendek gap ini adalah dengan MENGADAPTASIKAN konsepsi tuhan dengan konsepsi manusia itu sendiri. Padahal yang sering ditemukan adalah konsepsi tuhan itu sendiri merupakan pemikiran imaginatif.
               Saya setuju dengan perkataan seorang rabi: TUHAN TIDAK DATANG KEPADA MANUSIA DENGAN PENUH PAKSAAN, TAPI SELARAS DENGAN KEKUATAN PEMAHAMAN SEORANG MANUSIA TERHADAPNYA (jadi ingat saya seperti pernah mengatakan kata-kata semacam ini dengan objek yang berbeda dengan seorang teman, tentang sebuah perasaan yang tak punya formula sepertinya).
pandangan ini bermaksud bahwa tuhan tidak dapt dijelaskan dalm suatu formula (nah kan!) yang sama bagi semua orang. Karena tuhan secara esensial merupakn pengalaman subjektif. setiap individu akan mengalami realitas tuhan dalam cara berbeda demi memenuhi kebutuhan tempramental khas individu (Sejarah Tuhan : 127).
            Bisa jadi MISTERI TUHAN yang selama ini belum tersentuh sebenarnya TERBENTUK dari PERBEDAAN KESELARASAN KEKUATAN PEMAHAMAN MANUSIA terhadap tuhan itu sendiri. Dan mermuara pada kesimpulan bahwa seluruh gagasan tentng tuhan adalah untuk MEMOTIVASI lahirnya RASA PENASARAN (misteri), bukan meraih solusi sejati.

Tuhan Itu Pencemburu, Bukan Kekasihku!


Tuhan itu pencemburu, karena setiap kali saya berpaling maka setiap kali itu pula ia melaknat saya dan murka pada apapun yang saya cintai selain dia. Sifat manjanya yang selalu ingin dipuji, diingat dalam setiap deti hidup saya semakin membuat saya yakin. SAYA TIDAK MAU MEMILIKI KEKASIH PENCEMBURU DAN MANJA SEPERTI ITU!
Kekasih adalah APA YANG TIDAK DIUCAPKAN DALAM KATA-KATA, TETAPI SESUATU YANG DENGANNYA KATA-KATA DIUCAPKAN. APA YANG TIDAK BISA DIPIKIRKAN OLEH AKAL, TETAPI SESUATU YANG DENGANNYA AKAL BERPIKIR. Kekasih yang pencemburu dan manja itu hanyalah objek pikiran semata, tidak bisa dicerna! Ia seperti bentukan sebuah pikiran dari sebuah kebudayaan saja. Tidak pernah melingkupi semuanya kecuali golongannya saja.
Sukanya jadi kambing hitam dengan membubuhkan kata TAKDIR dalam setiap hal yang hasilnya tidak sesuai proses. Wajar jika seseorang mulai enggan dan berpaling atau mencari kekasih-kekasih lain. Kekasih yang tidak MENGIPAS-NGIPAS angin yang katanya surga, membuai dalam indahnya mimpi. Karena kekasih saya dalah REALITAS dalam puncak keterjagaan yang melampaui kesadaran diri.
Tetapi tetap saja konsep tentang kekasih ini masih terlalu terbatas untuk menuangkan konsepsi tentang REALITAS tertinggi. Yah tentu saja! Karena bahasa tidak mampu membahas REALITAS yang berada di luar jangkauan konsep akal! FUCK!
Satu lagi, tuhan itu pemarah!
Ditulis dalam pengaruh Sejarah Tuhan: Karen Armstrong
Pada kemarau di musim hujan
Sabtu, 02-11-2013