Di antara ketiga jarum, yang satu itu berputar lebih cepat dari dua sisanya. Yang dua tercepat sisanya bekerja sesuai dengan kecepatan yang satu tercepat ini juga. Warnanya biasanya paling berbeda dari dua kawannya. Yah, mereka kawanan. Tidak pernah berpisah dan berdiri sendiri. Manusia menyebutnya jam. Seringkali jam menunjukan waktu untuk banyak orang. Waktu makan, waktu tidur, waktunya kencan dan banyak lagi waktu-waktu yang lain. Meskipun demikian jam bukanlah waktu. Ada perjanjian sederhana yang tidak secara tertulis disepakati oleh semua orang tentang waktu ini. Jarum jam hanya seperti bahasa lain untuk.....entah apa. Sulit sekali menjabarkan apa yang disepakati, padahal saya juga ada di dalamnya. Tahu tapi tidak bisa menjabarkan, payah! Sementara waktu bekerja dalam pikiran. Di balik kesadaran sebuah cermin rekonstruksi yang dibangun sejak ingatan pertama diciptakan. Karena itu waktu tak pernah sama meskipun jarum jam menunjuk pada angka yang sama. Meski jarum jam berputar sampai angka 12 dan kembali lagi setiap satu putaran dan begitu lagi seterusnya. Waktu tidak pernah berputar, dia berjalan lurus dan angkuh. Tak akan pernah perduli pada orang-orang yang terluka ataupun bahagia. Dua hal yang bisa dilakukan waktu adalah terus berjalan dan habis ketika ingatan terakhir melengkapi cerita sebelum sekarat dan mati. Belakangan banyak orang bilang bahwa waktu juga bisa mengobati, entah apa.
Ketika Hujan bertanya pada saya apa yang sanggup
membuatnya mabuk selain wiski, saya tidak punya nyali untuk mengatakannya.
Waktu Hujanku...
Waktu sanggup membuat setiap orang mabuk. Sayangnya
waktu, tidak ada satu pabrik pun yang mampu mengemasnya dalam sebuah botol
untuk dinikmati kapan saja. Dan hanya mereka yang terus bertanya-tanya dan
tidak pernah berhenti berpikir yang bisa menyesap waktu dengan cita rasa yang
jauh lebih memabukkan, bahkan terkadang mematikan.
Meskipun saya tidak pernah tahu arti kata itu,
“waktunya sudah habis”, tapi saya tidak pernah berhenti berpikir tentang apa
yang bisa saya perbuat untuk sampai pada frase itu. Apa yang sudah saya buat
selama menghabiskan waktu.
Statistik perhitungan saya menunjukan hampir semua
waktu saya habis untuk menjadi yang diinginkan orang lain. Saya bahkan lupa
berapa kali waktu saya pernah menjadi diri saya sendiri, memutuskan untuk diri
saya sendiri tanpa pertimbangan apapun selain diri saya sendiri. Tiba-tiba
merasa sia-sia dan ditinggalkan terlampau jauh oleh waktu.
Saya mencoba berlari mengejar waktu-waktu yang hilang
paksa diambil dari saya. Berharap bertemu dengan Hujan dalam satu momentum yang
akan menyatukan kami dalam kecepatan konstan jarum jam. Tapi waktu itu tak
pernah terkejar, meski saya sudah ada di dalamnya.
Hujanku....
Bertahanlah!
Dalam waktumu yang singkat namun berjalan lebih lambat
dari sekelilingmu. Sayapun tak kalah sakitnya denganmu mendapati kita berdiri
dalam situasi yang kacau, yang hampir nihil untuk memihak pada harap sederhana
kita untuk bisa bersama.
Bertahanlah!
Karena saya butuh kamu hidup dalam waktu dan ruang
penyiksaan rindu yang panjang ini. Dalam Kemarau yang tak kunjung habis
waktunya.
Jangan pergi...