Sabtu, 24 Mei 2014

Tercuri, Lagi-lagi_



Sudah lebih dari sebulan saya dan Hujan tidak bertemu. Hal terakhir yang mampu saya ingat adalah tatapan matanya yang menghujam jantung saya tanpa ampun ketika saya memintanya pergi. Sedetik kemudian kegelapan malam yang begitu saya cintai membawanya dan menyisakan bayangan punggungnya yang semakin menghilang. 

Meski telah lama mengenal satu kata itu, saya tidak pernah dengan begitu fasih menterjemahkan maknanya. Bahkan cenderung gagap dan sangat abstrak. Bagi saya rindu adalah beberapa detik, menit, jam atau seumur hidup saya yang tercuri dari sesuatu yang saya lakukan saat itu. Beberapa detik yang saya curi ketika saya dengan secangkir kopi dan seorang kawan tapi pikiran saya berlari pada sebuah ingatan tentang kardus bekas dengan tulisan “HBD, Honey.... I LOVE U” yang diletakan bersebelahan dengan buku Dunia sophie di atas WC duduk. Beberapa menit  yang saya curi ketika saat saya dengan kerlip kursor tapi pikiran saya melayang pada sebuah sore di alun-alun kota Batu. Ketika jalanan membawa kami mencari hujan yang turun hanya sekedar untuk berbasah-basahan tapi kami justru basah di arena air mancur alun-alun kota Batu. Beberapa jam yang saya curi ketika saya sedang sikat gigi tapi pikiran saya menerawang pada melati dan pandan wangi dalam gelas-gelas kaca yang sudah mengering dan tak pernah berarti apapun untuk saya.
Dan rindu (mungkin) adalah seumur hidup yang saya curi dari jatah napas saya untuk tak pernah melupakan suatu senja  ketika saya memintamu duduk di tepi jalan dan saya di tepi lainnya. Banyak nyanyian tonggeret tangis dan burung-burung malam yang mulai mengeliat bangun, tapi saya masih memintamu mendengarkan alunan Melody of Tears yang membuat saya menulis sebuah puisi untukmu. Bukan puisi pertama, tapi senja itu kali pertama saya membacakannya sendiri untukmu. Yah, groginya setengah mampus. Bukan lantaran saya sudah lama tak memverbalkan puisi-puisi yang saya tulis, lebih karena saya takut kamu menemukan alur untuk menyusuri kemana habisnya detik hidup saya selama ini. Iya, saya masih saja menyelipkan kamu dalam ribuan kata yang diperas menjadi satu kata. Rindu.
Rasanya senja itu tak pernah menjadi kabur dari hidup saya. Meski setelahnya hidup saya hanya seperti orang melindur. Somniloquy. Melewatkan setiap malam dengan bayangan hitam yang menggantung, merangkak di langit-langit kamar, merayap di dinding dan mencekik. Rasa sakit cekikkannya masih bersisa hingga kata orang saya sudah bangun. Sementara tak ada yang kamu bicarakan, tak ada yang lebih kamu inginkan daripada mati.
Mati.
Nalar dan nurani saya tak pernah mampu memahami konsep dan fase-fase mati yang selalu kamu bicarakan. Atau Requiem yang menjelma menjadi nyanyian jarum jam yang melentingkan saya pada ketakutan jika bumi menelanmu, mayatmu. Entah berapa kali saya mencoba membuatmu melihat tak hanya sekedar dengan mata, yang semua orang bisa lakukan. Yang semua orang bisa lihat tentang kehidupan yang saya jalani. Tapi buatmu apapun yang saya katakan tak punya arti sampai saya melakukannya. Yah, kamu bilang kamu butuh tindakan. Lebih butuh tindakan daripada apapun yang saya katakan.
Tulisan ini, sungguh! Saya tak bermaksud hanya sekedar berkata-kata saja tanpa tindakan atau terlebih mengkomersilkannya untuk membuat lukamu (dan saya) dinikmati. Tulisan ini adalah tidakan saya. Untuk membuatmu bertahan hidup. Untuk membuat semua yang membacanya membuatmu bertahan hidup. Tindakan kecil yang tak mampu menyuapimu tempe goreng hangat. Tindakan kecil yang tak mampu menyelipkan jemarinya diantara gemeretak gigi dan badanmu yang kejang. Tindakan kecil yang tak mampu menyeka darah mimisan dari hidungmu. Tindakan kecil yang tak mampu membersihkan bekas muntah di lantai kamarmu. Tindakan kecil yang tak mampu menjawab jantung siapa yang berdetak di bawah jantungku.
Tentang tulisan-tulisan dan hidup saya yang kamu bilang seperti novel, hidup saya yang kamu bilang fiktif. Entahlah, tapi saya memilih untuk terus hidup meski saya sendiri tak pernah tahu kehidupan seperti apa yang saya jalani.
Hujanku....
Ada saat dimana harapan dan kebahagiaan cukup datang dari satu alasan saja, satu orang saja. Ada juga saat dimana harapan dan kebahagiaan datang dari alasan yang berbeda-beda. Tapi ada juga saat dimana kita bahkan tak pernah tahu darimana harapan dan kebahagiaan itu datang.
Ada dua hal di dunia ini.
Yang kita yakini tanpa perlu kita tahu.
Dan yang kita tahu tapi tak pernah kita yakini.

Ah,
Rupanya kali ini rindu membuat saya mencuri beberapa detik dari suara beradu rel dan roda besi  kereta Tawangalun untuk kembali pada Hujan. Hujan di kota Kau Puisi.


Sabtu, 10 Mei 2014

Hear Me, Here Us_



Rain sudah banyak bergerak, Hujanku....
Kami sering berbincang saat malam, sampai larut. Rain selalu punya cara untuk membuatku tetap terjaga dan diam-diam memikirkanmu. Dia selalu tahu itu, ketika aku menangis dan merindukanmu. Aku dan Rain juga sering mendengarkan The Ninth Symphony bersama, dia selalu bergerak kesana kemari. Entah suka atau hanya sekedar ingin menegaskan padaku kalau dia mirip denganmu. Tapi Rain paling suka mendengar The Magic Flute. Dia bisa bergerak sampai membuat perutku sedikit kaku atau bahkan begitu tenang sama sekali tak bergerak.
Aku sering mengajaknya menunggu kereta yang lewat saat sore, itu kereta Tawangalun. Kereta ke kotamu. Ingin sekali mengajak Rain bertemu denganmu sekali dan berkali-kali lagi, dengan kereta itu.
Sekarang.
Jika kamu menyentuhnya, kamu akan merasakan dia hidup. Dia akan menendang sampai hatimu pun akan sakit kena kakinya. Jantungmu akan sedetik dua berhenti demi merasakannya sekali lagi menendangmu.
Hujanku...
Betapa ingin mengenggam tanganmu dan membiarkanya menyentuh Rain. Membiarkan kalian berdua bicara tentang hari-hari yang terlewatkan. Sesekali aku akan menguping rencana-rencana besar kalian di masa depan.
Rain bergerak!
Sayang, apa Nak?
Kamu mau bicara juga? Mau ngomong apa nak?
Kangen juga ya?
Sabar ya nak ya....
Pasti nanti bisa ketemu.
Bob.
Kamu mau memanggilnya seperti itu, Nak?
Iya, boleh.
Seperti Lentra memanggil Ayahnya.
Sabar dulu ya Nak ya....
Hujanku, aku tak punya terlalu banyak kata untuk bisa menjelaskan apa yang ku sebut sebagai rindu. Meski demikian aku tahu Rain mampu mengejawantahkan setiap maknanya meski tanpa kata. Seperti saat kami bicara meski tanpa kata.
Bertahanlah sayang, bertahanlah Hujanku....
Demi Rain!
Demi pertemuan dan hari-hari yang akan kalian lewatkan bersama.
Aku memohon atas nama nyawa dan hidup anakku.
Demi satu hari saat Rain bersenandung dalam hidupmu tentang ajaibnya Ode to Joy yang membuat kalian begitu mirip.
Bertahanlah Hujanku, demi Rain....


Sabtu, 10 Mei 2014
18:59