Rabu, 05 Maret 2014

For One Night, Before Sunrise..



Tidak banyak sebenarnya yang diceritakan dalam cerita yang ditulis oleh Richard Linklater ini, hanya tentang berbincang dan terus berjalan. Plotnya juga tergolong sederhana bagi saya—film lama pula. Tapi film ini menarik menurut saya karena tak banyak pencerita yang mampu bertutur begitu lama mengenai satu malam hanya dengan dua karakter dengan cara yang tidak membosankan dan sangat natural. Kebanyakan dari penutur ini memberikan sekian banyak kebetulan disana sini untuk tetap mempertahankan ceritanya tetap panjang.
Mengharuskan akhir yang begini dan begitu untuk menciptakan kesan pada akhirnya.

Berbeda dengan film ini. Saya suka sekali dengan akhir yang diceritakan. Ketika si pemeran laki-laki, Jesse, berada di dalam bis. Saat untuk beberapa detik dia dengan setengah-setengah dan kelihatan takjub menoleh ke belakang tapi urung. Memejamkan mata dan seolah masih menikmati kecupan terakhirnya dengan Celine dengan ekspresi yang natural. Bibirnya menerbitkan sekilas senyum dan saling membasahi. Saya suka sekali.
Di sisi lain Celine yang harus kembali ke Paris dengan kereta, entah apa yang dipikirkannya ketika lanskap-lanskap yang dibingkai dengan jendela kaca kereta satu persatu ia lewati. Lanskap yang seharusnya ia nikmati kemarin. Saya suka rambut Celine.
Oh ya, mungkin ada juga beberapa penonton yang memperhatikan adegan terakhirnya ketika Jesse di bis dan Celine di kereta, mereka duduk berhadapan. Yah, maksud saya Celine duduk di sisi kereta dan Jesse di sisi lainnya di bis. Yah, mereka berhadapan.
Saya bisa membayangkan jika cerita ini di bukukan, dituliskan. Butuh kemahiran untuk bertutur tentang banyak ekspresi yang tidak di verbalkan dalam film ini. Akan butuh kelihaian mengolah bahasa untuk menceritakan satu malam yang hanya dilewati oleh dua orang yang menginginkan sesuatu yang berbeda dari hari-hari mereka yang biasa.
Saya menangkap protes dan kejenuhan pada keseharian dari film ini, disajikan dengan elegan melalui dialog-dialog sederhana dan tidak terlalu dibuat-buat oleh kedua tokohnya. Tentu saja dengan romansa yang dominan. Saat itu saya berpikir mungkin akan lebih keren lagi jika tokohnya bukan sepasang. Maksud saya bukan laki-laki dan perempuan. Tapi laki-laki dan laki-laki atau sebaliknya.
Saya jadi penasaran apa ceritanya akan tetap semenarik itu. Karena di sisi lain film ini juga seperti sedikit mengangkat isu kesamaan gender. Saya juga tidak yakin, tapi ada semacam keseimbangan antara pemikiran perempuan dan laki-laki yang coba ditampilkan. Cukup intens sekalipun tidak terlalu berat dan membuat ceritanya jadi membelot ke tema lain.
Yah,
Saya bisa merasakan protes itu. Tentang sebuah hubungan yang selalu diharapkan untuk abadi. Tentang setiap orang yang selalu kita temui dan ketika itu pula kita berharap menemukan orang yang lain.
Jadi film ini, pertemuan mereka yang semalam itu, bercerita tentang satu waktu dimana kita berada di dunia nyata yang selama ini kita khayalkan terlepas dari kehidupan nyata atau sebutlah rutinitas yang setiap hari kita jalani. Dimana tidak ada seorangpun yang akan menilai kita karena di dalamnya tidak seorangpun mengenal kita. Dimana tidak ada keharusan begini begitu seperti yang seharusnya begini dan begitu jika ini dan itu kita jalani.
Ada cerita semalam yang bahkan ditulis selama bertahun-tahun dan tak pernah selesai diverbalkan. Ada yang membuat kita jatuh hati karena itu adalah bagian dari diri kita yang kita kenanali lewat yang bukan kita.

Filmya bagus.
Harus ada yang lebih bagus lagi J
Milkshake!

Ditulis ditemani nasi pecel.
Rabu, 05 Maret 2014
08:15