Tidak banyak
sebenarnya yang diceritakan dalam cerita yang ditulis oleh Richard Linklater
ini, hanya tentang berbincang dan terus berjalan. Plotnya juga tergolong sederhana
bagi saya—film lama pula. Tapi film ini menarik menurut saya karena tak banyak
pencerita yang mampu bertutur begitu lama mengenai satu malam hanya dengan dua
karakter dengan cara yang tidak membosankan dan sangat natural. Kebanyakan dari
penutur ini memberikan sekian banyak kebetulan disana sini untuk tetap
mempertahankan ceritanya tetap panjang.
Mengharuskan akhir
yang begini dan begitu untuk menciptakan kesan pada akhirnya.
Berbeda dengan
film ini. Saya suka sekali dengan akhir yang diceritakan. Ketika si pemeran
laki-laki, Jesse, berada di dalam bis. Saat untuk beberapa detik dia dengan
setengah-setengah dan kelihatan takjub menoleh ke belakang tapi urung. Memejamkan
mata dan seolah masih menikmati kecupan terakhirnya dengan Celine dengan
ekspresi yang natural. Bibirnya menerbitkan sekilas senyum dan saling
membasahi. Saya suka sekali.
Di sisi lain
Celine yang harus kembali ke Paris dengan kereta, entah apa yang dipikirkannya
ketika lanskap-lanskap yang dibingkai dengan jendela kaca kereta satu persatu
ia lewati. Lanskap yang seharusnya ia nikmati kemarin. Saya suka rambut Celine.
Oh ya, mungkin
ada juga beberapa penonton yang memperhatikan adegan terakhirnya ketika Jesse
di bis dan Celine di kereta, mereka duduk berhadapan. Yah, maksud saya Celine
duduk di sisi kereta dan Jesse di sisi lainnya di bis. Yah, mereka berhadapan.
Saya bisa
membayangkan jika cerita ini di bukukan, dituliskan. Butuh kemahiran untuk
bertutur tentang banyak ekspresi yang tidak di verbalkan dalam film ini. Akan butuh
kelihaian mengolah bahasa untuk menceritakan satu malam yang hanya dilewati
oleh dua orang yang menginginkan sesuatu yang berbeda dari hari-hari mereka
yang biasa.
Saya menangkap
protes dan kejenuhan pada keseharian dari film ini, disajikan dengan elegan
melalui dialog-dialog sederhana dan tidak terlalu dibuat-buat oleh kedua
tokohnya. Tentu saja dengan romansa yang dominan. Saat itu saya berpikir
mungkin akan lebih keren lagi jika tokohnya bukan sepasang. Maksud saya bukan
laki-laki dan perempuan. Tapi laki-laki dan laki-laki atau sebaliknya.
Saya jadi
penasaran apa ceritanya akan tetap semenarik itu. Karena di sisi lain film ini
juga seperti sedikit mengangkat isu kesamaan gender. Saya juga tidak yakin,
tapi ada semacam keseimbangan antara pemikiran perempuan dan laki-laki yang
coba ditampilkan. Cukup intens sekalipun tidak terlalu berat dan membuat
ceritanya jadi membelot ke tema lain.
Yah,
Saya bisa
merasakan protes itu. Tentang sebuah hubungan yang selalu diharapkan untuk
abadi. Tentang setiap orang yang selalu kita temui dan ketika itu pula kita
berharap menemukan orang yang lain.
Jadi film ini,
pertemuan mereka yang semalam itu, bercerita tentang satu waktu dimana kita
berada di dunia nyata yang selama ini kita khayalkan terlepas dari kehidupan
nyata atau sebutlah rutinitas yang setiap hari kita jalani. Dimana tidak ada
seorangpun yang akan menilai kita karena di dalamnya tidak seorangpun mengenal
kita. Dimana tidak ada keharusan begini begitu seperti yang seharusnya begini
dan begitu jika ini dan itu kita jalani.
Ada cerita
semalam yang bahkan ditulis selama bertahun-tahun dan tak pernah selesai
diverbalkan. Ada yang membuat kita jatuh hati karena itu adalah bagian dari
diri kita yang kita kenanali lewat yang bukan kita.
Filmya bagus.
Harus ada yang
lebih bagus lagi J
Milkshake!
Ditulis
ditemani nasi pecel.
Rabu,
05 Maret 2014
08:15
