Kamu tahu, Rain?
Sebelum Biyung benar-benar siap untuk menyapihmu.
Biyung banyak bertanya pada beberapa orang tentang bagaimana mereka menyapih
anak-anaknya. Sebagian besar memberi jawaban logis tapi tidak sedikit yang
memilih magic atau apalah itu
namanya. Biyung juga membaca sedikit referensi yang Biyung pikir bisa membantu.
Sampai entah bagaimana tiba-tiba Biyung merasa
inilah waktunya. Sebenarnya bukan tentang kamu, ini tentang Biyung sendiri.
Kalau kamu mau tahu ceritanya, malam itu Biyung
memang membawamu ke rumah seseorang. Kamu tampan dengan baju itu. Setelan kaos
dan celana berwarna merah bergambar Boboi Boy, jagoan favoritmu. Rabutmu
tersisir rapi dengan belahan bergaris di sebelah kanan dan sandal jepit setia
berwarna biru gambar Boboi Boy (juga). Setelah sounding yang seperti biasa kamu dan Biyung lakukan. Sekali lagi
Biyung menatap matamu. Badanmu meronta geli dan senyummu itu, Le. Siapa yang
sanggup mengabaikannya. Kamu ingat apa yang Biyung katakan?
It’ll be painfull, Rain!
Not only for you but us.
Weep,
But don’t be long.
We’ve to face another phase.
You and i. Us!
Kalau kamu masih ingat, Rain. Pilihan pertama yang
Biyung ini gagal. Magic yang Biyung pikir bisa membuatmu sedikit melupakan
sakitnya gagal. Laki-laki itu memberi Biyung sebotol air untuk dibawa pulang
dan meminumkannya padamu setiap kali kamu ingat untuk menyusu. I don’t know how but it doesn’t work on you.
Biyung kapok dan TIDAK AKAN memilih cara ini untuk yang kedua.
Perang kita belum selesai, Le. Biyung terus mencari
cara setelah pilihan kunyit, kecap, jahe dan kunci juga tak mempan padamu.
Brotowali dan temuireng??? Big NO, Rain! Biyung tak mau menyapihmu dengan
kenangan bahwa susu Biyung pahit. Biyung mau kamu tetap mengingatnya sebagai
hal manis yang begitu kamu inginkan. Meski kelak kamu juga akan lupa seperti
apa rasanya.
Lagi-lagi selama masa pencarian cara baru itu
Biyung hanya mampu memilih sounding
denganmu dengan intensitas yang lebih sering.
Sampai siang itu Biyung berbenah dan menemukan
kotak kecil yang masih terbungkus pita. LA Girl Matte No. 12 dan Wet and
Wild Cherry Picking. Ide iseng-iseng sedap itu begitu saja muncul. Kau tahu
Biyung tidak karib dengan hal-hal macam itu, memilikinya saja Biyung pasti
tidak ingat. Tapi kali ini keberadaan mereka sepertinya menjadi sebuah harapan
penolong untuk menyapihmu.
Iya.
Itu bukan darah seperti yang kamu pikir, Le.
Itu lipstick.
Biyung memang sengaja mengoleskannya tanpa
mengatakan bahwa itu darah karena Biyung tak mau nanti kamu berpikir jika ada
seorang perempuan bergincu warna sama dengan yang kamu lihat, perempuan itu
vampire.
Biyung memang hanya mengatakan Biyung sakit dan
kamu tidak bisa menyusu. Entah japa mantra seperti apa yang mengkomposisi
lipstick-lipstick itu untuk membuat bibir perempuan menjadi seksi, katanya. Tapi
jopa japu itu memang berhasil membuatmu berpikir kalau Biyung memang sedang
sakit dan kamu ttida bisa menyusu.
Biyung tak kegirangan meski tujuan Biyung memang
sudah tercapai.
Malam pertama itu Biyung dan kamu berjibaku, Le! Renjana
menghisap dan menghidupi saling berteriak. Dinding setebal bata tak mampu
menghalangi kuping Biyung mendengarmu menangis. Biyung tahu kalau kamu pun tahu
Biyung tak pernah pergi kemanapun. Ada di sebelah kamarmu seperti biasa kamu
dan Biyung bermain peekaboo.
Biyung kalah, Le! Pada jiwa seorang perempuan yang
dipanggil putranya. Biyung menghampirimu dan menggendongmu meski tak bisa
menyusuimu. Kamu tidur dalam gendongan Biyung dengan napas masih sesenggukan.
But we did it, Rain!
Beberapa kali menangispun kamu masih ingat bahwa
Biyung sakit dan tidak bisa menyusuimu.
Biyung juga tak akan lupa bagaimana ketika pagi
datang kamu bangun lebih dulu dari Biyung yang pura-pura masih tidur. Mengambil
botol telon dan mengolesi kaki Biyung.
“Dah embuh dah embuh.”
Betul, Le!
Biyung sudah sembuh dari macam apapun sakit kalau
kamu obatnya.
Ini memang masih sakit, tapi kita sudah sampai
Rain.
Selamat datang di fase baru kita Nak.
Peekaboooo.....
Ditulis pada
malam kedua
09 Agustus 2016

