Kamis, 11 Agustus 2016

Sebul Wet And Wild Cherry Picking_


Kamu tahu, Rain?

Sebelum Biyung benar-benar siap untuk menyapihmu. Biyung banyak bertanya pada beberapa orang tentang bagaimana mereka menyapih anak-anaknya. Sebagian besar memberi jawaban logis tapi tidak sedikit yang memilih magic atau apalah itu namanya. Biyung juga membaca sedikit referensi yang Biyung pikir bisa membantu.

Sampai entah bagaimana tiba-tiba Biyung merasa inilah waktunya. Sebenarnya bukan tentang kamu, ini tentang Biyung sendiri.

Kalau kamu mau tahu ceritanya, malam itu Biyung memang membawamu ke rumah seseorang. Kamu tampan dengan baju itu. Setelan kaos dan celana berwarna merah bergambar Boboi Boy, jagoan favoritmu. Rabutmu tersisir rapi dengan belahan bergaris di sebelah kanan dan sandal jepit setia berwarna biru gambar Boboi Boy (juga). Setelah sounding yang seperti biasa kamu dan Biyung lakukan. Sekali lagi Biyung menatap matamu. Badanmu meronta geli dan senyummu itu, Le. Siapa yang sanggup mengabaikannya. Kamu ingat apa yang Biyung katakan?

It’ll be painfull, Rain!

Not only for you but us.

Weep,

But don’t be long.

We’ve to face another phase.

You and i. Us!

Kalau kamu masih ingat, Rain. Pilihan pertama yang Biyung ini gagal. Magic yang Biyung pikir bisa membuatmu sedikit melupakan sakitnya gagal. Laki-laki itu memberi Biyung sebotol air untuk dibawa pulang dan meminumkannya padamu setiap kali kamu ingat untuk menyusu. I don’t know how but it doesn’t work on you. Biyung kapok dan TIDAK AKAN memilih cara ini untuk yang kedua.

Perang kita belum selesai, Le. Biyung terus mencari cara setelah pilihan kunyit, kecap, jahe dan kunci juga tak mempan padamu. Brotowali dan temuireng??? Big NO, Rain! Biyung tak mau menyapihmu dengan kenangan bahwa susu Biyung pahit. Biyung mau kamu tetap mengingatnya sebagai hal manis yang begitu kamu inginkan. Meski kelak kamu juga akan lupa seperti apa rasanya.

Lagi-lagi selama masa pencarian cara baru itu Biyung hanya mampu memilih sounding denganmu dengan intensitas yang lebih sering.

Sampai siang itu Biyung berbenah dan menemukan kotak kecil yang masih terbungkus pita. LA Girl Matte No. 12 dan Wet and Wild Cherry Picking. Ide iseng-iseng sedap itu begitu saja muncul. Kau tahu Biyung tidak karib dengan hal-hal macam itu, memilikinya saja Biyung pasti tidak ingat. Tapi kali ini keberadaan mereka sepertinya menjadi sebuah harapan penolong untuk menyapihmu.

Iya.

Itu bukan darah seperti yang kamu pikir, Le.

Itu lipstick.

Biyung memang sengaja mengoleskannya tanpa mengatakan bahwa itu darah karena Biyung tak mau nanti kamu berpikir jika ada seorang perempuan bergincu warna sama dengan yang kamu lihat, perempuan itu vampire.

Biyung memang hanya mengatakan Biyung sakit dan kamu tidak bisa menyusu. Entah japa mantra seperti apa yang mengkomposisi lipstick-lipstick itu untuk membuat bibir perempuan menjadi seksi, katanya. Tapi jopa japu itu memang berhasil membuatmu berpikir kalau Biyung memang sedang sakit dan kamu ttida bisa menyusu.

Biyung tak kegirangan meski tujuan Biyung memang sudah tercapai.

Malam pertama itu Biyung dan kamu berjibaku, Le! Renjana menghisap dan menghidupi saling berteriak. Dinding setebal bata tak mampu menghalangi kuping Biyung mendengarmu menangis. Biyung tahu kalau kamu pun tahu Biyung tak pernah pergi kemanapun. Ada di sebelah kamarmu seperti biasa kamu dan Biyung bermain peekaboo.

Biyung kalah, Le! Pada jiwa seorang perempuan yang dipanggil putranya. Biyung menghampirimu dan menggendongmu meski tak bisa menyusuimu. Kamu tidur dalam gendongan Biyung dengan napas masih sesenggukan.

But we did it, Rain!

Beberapa kali menangispun kamu masih ingat bahwa Biyung sakit dan tidak bisa menyusuimu.

Biyung juga tak akan lupa bagaimana ketika pagi datang kamu bangun lebih dulu dari Biyung yang pura-pura masih tidur. Mengambil botol telon dan mengolesi kaki Biyung.

“Dah embuh dah embuh.”

Betul, Le!

Biyung sudah sembuh dari macam apapun sakit kalau kamu obatnya.

Ini memang masih sakit, tapi kita sudah sampai Rain.

Selamat datang di fase baru kita Nak.

Peekaboooo.....


Ditulis pada malam kedua
09 Agustus 2016

Kamis, 04 Agustus 2016

No Pain, No Rain_





Bukan, Le! Bukan yang bisa dilihat mata. Yang selain itu butuh lebih dari sekedar mata.

 
Hey, Rain....

It’s okey, stay feel asleep. Ini masih jam setengah dua pagi. Biyung bangun karena harus melakukan sesuatu. Buat kamu.

Gigimu sekarang sudah hampir lengkap, Le. Ini juga harusnya jadi waktu yang tepat untuk menyapihmu. Tapi Biyung tak pernah tega rasanya. Biyung memang berpikir kalau ini adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diberikan orang selain Biyung, bounding yang kamu dan Biyung bangun sejak dua tahun yang lalu. Kalau Biyung menyapihmu rasanya seperti kamu mungkin tidak membutuhkan Biyung lagi. Selanjutnya apapun yang Biyung lakukan juga bisa dilakukan orang lain. Biyung juga pernah berpikir apakah yang dua tahun itu mampu membuatmu selalu tresno sama Biyung seumur hidupmu. Bukan, Biyung bukan ingin menyusuimu seumur hidup Le. Hahaha

Pasti ada saatnya kamu jatuh hati pada perempuan selain Biyung dan menyusu padanya. Dia juga mungkin yang akan menyusui anak kamu nanti. Sekarang Biyung yang ada di waktu itu, saat dimana Biyung belajar mencukupkan diri. Menyadari bahwa kamu sudah bisa sendiri.

Ini mungkin akan berat secara fisik untuk kamu dan Biyung, Rain. Bukan tega, tapi Biyung tahu kamu harus bisa. Jika suatu saat kamu dan Biyung ditempatkan pada posisi serupa ini. Paham-pahamlah, Le! Mungkin Biyung memang harus melakukannya untuk membuatmu tahu bahwa kamu bisa.

Hey, by the way...

Happy birthday kiddo.

I do love you

Biyung masak dulu ya, sudah jam 2!


Minggu dini hari.
Hari terakhir bulan ketujuh