Rain sudah
banyak bergerak, Hujanku....
Kami sering
berbincang saat malam, sampai larut. Rain selalu punya cara untuk membuatku tetap terjaga dan
diam-diam memikirkanmu. Dia selalu tahu itu, ketika aku menangis dan
merindukanmu. Aku dan Rain juga sering mendengarkan The Ninth Symphony bersama, dia selalu bergerak kesana kemari. Entah
suka atau hanya sekedar ingin menegaskan padaku kalau dia mirip denganmu. Tapi Rain
paling suka mendengar The Magic Flute.
Dia bisa bergerak sampai membuat perutku sedikit kaku atau bahkan begitu tenang
sama sekali tak bergerak.
Aku
sering mengajaknya menunggu kereta yang lewat saat sore, itu kereta Tawangalun.
Kereta ke kotamu. Ingin sekali mengajak Rain bertemu denganmu sekali dan
berkali-kali lagi, dengan kereta itu.
Sekarang.
Jika
kamu menyentuhnya, kamu akan merasakan dia hidup. Dia akan menendang sampai
hatimu pun akan sakit kena kakinya. Jantungmu akan sedetik dua berhenti demi
merasakannya sekali lagi menendangmu.
Hujanku...
Betapa
ingin mengenggam tanganmu dan membiarkanya menyentuh Rain. Membiarkan kalian
berdua bicara tentang hari-hari yang terlewatkan. Sesekali aku akan menguping
rencana-rencana besar kalian di masa depan.
Rain
bergerak!
Sayang, apa Nak?
Kamu mau bicara juga? Mau ngomong apa
nak?
Kangen juga ya?
Sabar ya nak ya....
Pasti nanti bisa ketemu.
Bob.
Kamu mau memanggilnya seperti itu,
Nak?
Iya, boleh.
Seperti Lentra memanggil Ayahnya.
Sabar dulu ya Nak ya....
Hujanku,
aku tak punya terlalu banyak kata untuk bisa menjelaskan apa yang ku sebut
sebagai rindu. Meski demikian aku tahu Rain mampu mengejawantahkan setiap
maknanya meski tanpa kata. Seperti saat kami bicara meski tanpa kata.
Bertahanlah
sayang, bertahanlah Hujanku....
Demi
Rain!
Demi
pertemuan dan hari-hari yang akan kalian lewatkan bersama.
Aku
memohon atas nama nyawa dan hidup anakku.
Demi
satu hari saat Rain bersenandung dalam hidupmu tentang ajaibnya Ode to Joy yang
membuat kalian begitu mirip.
Bertahanlah
Hujanku, demi Rain....
Sabtu, 10 Mei
2014
18:59
Tidak ada komentar:
Posting Komentar