Berlari terhuyung dan terhempas,
pada keterbataan kata,
pada lafal tanpa arti selain namamu
Tangan ini, sayang...
Menggapai bias senja dimana jejakmu tertinggal
Mengais sisa-sisa kecupanmu dalam deru angin
Katanya aku gila, matahari bilang
Katanya aku sekarat, sahut tanah
Tapi tak ada yang mengatakan
Kemana kau bawa hatiku
Kemudian ku tanya pada secawan anggur
"Berapa lama aku mabuk? Apa lukaku kering sudah?"
Anggur sama diamnya,
dengan perdu-perdu pengelana
yang padanya kutitipkan rinduku padamu
apa kau sudah berjumpa dengan mereka?
Jangan pergi dulu sayang...
Jangan pergi lagi
Duduklah dekat-dekat denganku, di sini
Menikmati secangkir kopi
Dalam simfoni airmata
Karena aku merindukanmu sayangku...
Teramat rindu
Dan aku...
Berjelaga kerinduan pada semesta bayanganmu
Ditulis dalam nyanyian Melody of Tears
Untuk seorang kekasih di kota Kau Puisi
Rabu, 27-11-2013
Pada suatu saat nanti, aku ingin kau mendengarnya Hujanku...
Aku akan membacakannya sendiri untukmu, dengan diiringi Melody of Tears seperti saat aku menulisnya. Aku akan berdiri dihadapanmu dan membuatmu melihat tentang betapa rindunya aku padamu. Karena kamu adalah mantra pengusir sepiku, maka aku sekarat jika kamu menghilang.
Karena menulis seperti ini membuat saya tetap waras dalam kemarau di musim hujan yang sangat lama. Suatu saat nanti kamu akan melihat saya membacanyauntukmu. Entah kapan, tapi saya tak pernah sabar untuk segera bertemu denganmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar