PAGI mendung
selalu membawa ingatan yang ditinggalkan dalam saku-saku yang ditinggalkan. Seperti
pagi ini ketika membuka album foto pada salah satu folder komputer jinjing, ada cerita-cerita rahasia
yang kembali bertutur pada kebisuan.
Entah sejak
kapan saya mengenalnya. Rokok, buku, kopi dan alkohol. Mereka seperti teman
baik yang tak pernah menuntut apapun kecuali kenikmatan yang mereka tawarkan
sendiri. Betapa hebatnya waktu dan society yang menghimpit kehidupan seorang
manusia hingga menjadi pribadi yang berbeda. Pemikiran yang berbeda!
Saya menolak
dikatakan pecandu rokok maupun tukang mabok seperti sekumpulan geng bocah-bocah
yang mabuk di perempatan. Tapi kerinduan saya tentang kedua hal itu mungkin
sama atau lebih kuat dari mereka.
Bulu kuduk bisa
sampai merinding ketika menahan kangen dan mengingat di sebuah kamar dengan
seorang kawan berdiskusi ngalor ngidul. Menciptakan karakter-karakter fiktif
atau beradu argumen tentang apapun yang mampu kami pikirkan. Kepul asap rokok,
aroma khas alkohol yang memberi kehangatan pada jiwa-jiwa kami yang merindu,
buku-buku yang telah habis dibaca tapi dibaca lagi dan kadang kopi.
Apa kabarmu
SEXY?
Apa kabarmu
PUTIH?
Sementara di
belahan lain cerita ini ada banyak orang yang juga merindu seperti saya. Semoga
arak yang tidak terlalu enak dibandingkan buatan Rusia itu sedikit mengobati
rindumu, Bung. Orange juice sepertinya kawan yang tepat untuk arakmu itu,
meskipun tak seenak buatan Rusia.
Nanti, di pagi
mendung lain, bagilah shot glassmu denganku (yang dibikin Rusia lebih enak).
Selamat
menikmati pagi terakhir di kota itu, dengan arak lokal (besok kalau pulang yang
dibikin Rusia lebih enak).
Down it!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar