Jumat, 22 Juli 2016

Sambal Banteng dan Berkecambahnya Kepongahan_



Saya suka pedas entah sejak kapan. Kalau diingat dulu bahkan jika ingin makan bakso dengan rasa pedas saya hanya berani mengambil kuah sambal tanpa bijinya. Itupun tak lebih dari sepucuk sendok.

Sekarang? Jangan ditanya! 
Sehari tanpa pedas laksana sewindu tanpamu bwahaha

Beberapa hari yang lalu saya sempat mengikuti iklan dari seorang teman yang mempromosikan dagangan barunya. Sambal. Saya tergoda karena dia lihai mengaduk resep dalam kata. Iming tentang rasio cabai dan daging yang digunakan satu dibanding satu. Satu kilo cabai dan satu kilo daging. Tampilan dagangannya juga lumayan. Jadilah saya pesan dua botol. Sebotolnya berisi kurang lebih dua ratus gram dengan harga tiga puluh ribu.

Beberapa hari kemudian sambal itu datang.

Tanpa menunggu lama langsung saya panaskan-karena memang begitu saran penjualnya. Kemudian tanpa apapun (nasi, tempe, lauk dan sejenisnya)langsung saya coba. Hal pertama yang terpanggil di kepala saya adalah mie ayam Pak Setu. Hahaha entahlah bagaimana saya bisa merasakan mie ayam Pak Setu di dalam sambal itu. Mungkin karena saya mencium aroma minyak wijen. Saya memang bukan koki handal atau ahli kuliner. Tapi aroma minyak wijen yang dicampur saat makanan masih terlalu panas aromanya sedikit “aneh” di hidung saya. Tak puas mencobanya dengan “tangan kosong”, saya campur sedikit nasi panas.

Pedes? Iya.

Enak? Biasa aja.

Hahaha

Saya mengklaim bisa memasak sambal yang sama dengan rasa yang lebih enak. Hahaha sungguh!

Rasa memang tidak universal.

Tapi kesombongan dimana saja akan jadi omong kosong kalau tidak dibuktikan.

Kamu boleh coba. Sambal yang ini kuncinya selain ada di rasio cabai dan dagingnya, adalah terasi hahaha. Saya yakin bin yakin sekali.

Tiba-tiba saya ingin menciummu, dengan masih kepedasan yang nggak pedas-pedas amat. Ups!

Kamu mau? Sambelnya.
Juni, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar