Saya suka pedas entah sejak kapan. Kalau diingat
dulu bahkan jika ingin makan bakso dengan rasa pedas saya hanya berani
mengambil kuah sambal tanpa bijinya. Itupun tak lebih dari sepucuk sendok.
Sekarang? Jangan ditanya!
Sehari tanpa pedas laksana sewindu tanpamu bwahaha
Sehari tanpa pedas laksana sewindu tanpamu bwahaha
Beberapa hari yang lalu saya sempat mengikuti iklan
dari seorang teman yang mempromosikan dagangan barunya. Sambal. Saya tergoda
karena dia lihai mengaduk resep dalam kata. Iming tentang rasio cabai dan
daging yang digunakan satu dibanding satu. Satu kilo cabai dan satu kilo
daging. Tampilan dagangannya juga lumayan. Jadilah saya pesan dua botol.
Sebotolnya berisi kurang lebih dua ratus gram dengan harga tiga puluh ribu.
Beberapa hari kemudian sambal itu datang.
Tanpa menunggu lama langsung saya panaskan-karena
memang begitu saran penjualnya. Kemudian tanpa apapun (nasi, tempe, lauk dan
sejenisnya)langsung saya coba. Hal pertama yang terpanggil di kepala saya adalah
mie ayam Pak Setu. Hahaha entahlah bagaimana saya bisa merasakan mie ayam Pak
Setu di dalam sambal itu. Mungkin karena saya mencium aroma minyak wijen. Saya
memang bukan koki handal atau ahli kuliner. Tapi aroma minyak wijen yang
dicampur saat makanan masih terlalu panas aromanya sedikit “aneh” di hidung
saya. Tak puas mencobanya dengan “tangan kosong”, saya campur sedikit nasi
panas.
Pedes? Iya.
Enak? Biasa aja.
Hahaha
Saya mengklaim bisa memasak sambal yang sama dengan
rasa yang lebih enak. Hahaha sungguh!
Rasa memang tidak universal.
Tapi kesombongan dimana saja akan jadi omong kosong
kalau tidak dibuktikan.
Kamu boleh coba. Sambal yang ini kuncinya selain
ada di rasio cabai dan dagingnya, adalah terasi hahaha. Saya yakin bin yakin
sekali.
Tiba-tiba saya ingin menciummu, dengan masih
kepedasan yang nggak pedas-pedas amat. Ups!
Kamu mau? Sambelnya.
Juni, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar