Mak...
Aku tahu sampai kapan pun Emak
tidak akan pernah membaca ini. Tapi biar saja, aku tetap ingin menulisnya.
Sekedar untuk mengurangi akumulasi setiap kesedihan yang tidak pernah mampu aku
katakan.
Rain, kau tahu nak? Biyungmu ini hanya pernah menikmati ASI selama
sepuluh bulan. Itu pun masih dengan susu formula dan segala macam makanan yang
sudah biyung makan sejak hari pertama biyung lahir. Mungkin itu juga sebabnya
biyung sakit-sakitan. Biyung dititipkan pada beberapa perempuan yang semuanya
hebat. Perempuan yang pertama mengajarkan biyung banyak hal sepele yang
kemudian hari menjadi hal yang seringkali biyung pergunakan. Merebus jantung
pisang biar tidak ungu, makan dengan “bondo luwe” bukannya “bondo duwe”,
mencuci baju di bagian lipatan-lipatannya, jalan-jalan rahasia untuk pulang
saat kecil dan banyak hal lain yang masih biyung pergunakan hingga saat ini.
Biyung memanggil perempuan ini seperti kamu memanggil biyung dan tak ada satu
pun yang berbeda kecuali biyung memang bukan putri kandungnya, itu saja. Bukan
hal yang besar.
Perempuan yang kedua ini juga tak akan pernah biyung lupakan sampai
kapanpun.
Dia perempuan yang culas, Rain. Dengan kebaya dan kain jarit serta
konde kecil dari rambut sambung. Ingatan itu memang kabur beberapa, tapi ada
juga yang masih biyung ingat. Saat biyung digendong-gendong, disuapi, dibentak.
Rasanya semua itu baru kemarin, Le....
Biyung sering berpikir kalau perempuan kedua ini akan terus seperti
itu selamanya. Anggaplah potraitnya dalam ingatan biyung selalu seperti itu.
Tuanya juga akan selalu tua yang seperti itu, tidak pernah bertambah. Masa
mudanya pun biyung tak tahu seperti apa. Bahkan biyung pernah berpikir bahwa
sejak dilahirkan perempuan kedua ini sudah seperti itu.
Tapi sekarang perempuan itu sudah renta. Tubuhnya kalah oleh usia,
rambutnya tersisa beberapa yang semuanya keperakan dan gigi-giginya sudah
tanggal semua. Biyung juga tidak bisa menjelaskan seperti apa rasanya
melihatnya seperti itu. Apa biyung akan menua dan sendirian seperti itu, Rain?
Biyung sering mendapatinya tiba-tiba
“lupa”, menyeret-nyeret tubuhnya yang sudah lumpuh di lantai. Semenit biyung
lihat ia di kasur, menit berikutnya ia sudah di lantai ruang tamu. Kadang di
ruang tengah. Kadang di tempat parkir. Kalau ia sudah “lupa” seperti itu,
biyung dan orang-orang di rumah sering mengangkatnya dan mendudukannya di kursi
agar tak kemana-mana. Tapi itu tak mengurangi apapun dari “lupa”nya kecuali
geraknya.
Sedikitpun tak pernah terpikir bagaimana rasanya hidup tanpa mampu
mengingat apapun seperti itu, Rain. Hidup dengan belas kasih. Jika biyung tua
dan tak lagi mampu mengingatmu, untuk apa Le? Apa kamu juga akan membentak
biyung jika biyung tak lagi bisa menjadi seperti yang kamu mau?
Berak yang ada di rambut. Nasi yang tumpah dikasur bersama kencing.
Diapers yang dilepas paksa dan semua isinya tumpah. Omongan ngelantur dan
maki-maki. Apa kamu akan membentak biyung untuk hal-hal seperti itu, Le?
Kau tahu nak? Kemarin kami duduk berdua menantang matahari pukul
10.00 siang. Teriknya menyengat kulit, tapi kami tetap duduk berdua disana.
Biyung terus bicara banyak hal, bercerita ini itu. Dia mendengarkan, entah
paham atau tidak. Mulutnya sibuk mengunyah makanan yang biyung suapkan. Awalnya
satu jam pertama dia menarik-narik lengan biyung karena biyung pikir memang
sudah terlalu panas. Tapi biyung bergeming dan terus bercerita. Tentang kamu,
tentang anak-anaknya, cucu dan cicitnya, kebun dan tanahnya yang disana disitu,
makanan ini itu sampai akhirnya satu jam selanjutnya biyung yang kelelahan.
Biyung menyerah, ini bukan kali pertamanya merajuk seperti itu pada biyung.
Kemudian biyung bertanya kalah padanya, apa yang dia inginkan?
Hanya satu yang dia katakan, pulang.
Dia ingin pulang.
Hanya pulang.
Mak....
Iki aku Mak. Sampean lali a? Cah
cilik sing sampean gendong-gendong. Sampean rumat nganti gedhe. Sampean
cewok’i. Iki aku Mak...
Sampean arep ngendi maneh? Lha iki
lak omah to. Kuwi lemari, jendelo, kasur, kamare sampean kabeh. Wes meneng kene
wae, dolanan karo Tole kuwi. Tole wes semunu gedhine opo ora pengen nggendong?
“Aku terno muleh ae.”
Muleh ngendi?
“Muleh nang omah.”
Sebuah rumah untuk pulang saat
tua nanti. Would you, Rain?_
Ditulis pada pertengahan bulan ketiga 2016
Rumah dan orang-orang yang ingin pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar