Hari
ini, setahun yang lalu....
Laki-laki
ini untuk pertama kalinya datang dalam kehidupan saya. Mulai mengacaukan jadwal
hidup saya. Saya tidak lagi bisa menikmati malam-malam dengan tumpukan buku dan
secangkir kopi, tidak pula bisa menikmati terbangun dengan matahari yang sudah
pas di ubun-ubun. Hahahahaha
Tapi
entahlah...
Pada
saat itu pula saya mulai jatuh hati padanya. Pada matanya. Pada lesung pipit di
pipi kanannya. Pada sembilan helai “rambut emas” yang selalu tumbuh lebih
panjang dari yang lain. Pada jari-jarinya. Pada senyumnya. Pada caranya
merajuk. Pada....semua darinya.
Terkadang
mata kami saling beradu untuk beberapa saat sebelum perhatiannya tertuju pada
yang lain dan mulai mengabaikan saya. Saya cemburu setengah mati. Saya benci
ada selain saya yang mencuri perhatiannya. Tapi kemudian saya dibuatnya
terpingkal dengan lambaian tangannya yang “aneh” agar saya tetap dengannya.
Hari
ini, setahun yang lalu....
Saya
merasakan sakit yang entahlah seperti apa. Dalam kesakitan itu saya masih
sempat membawa serta novel Dunia Sophie di ranjang Rumah Sakit. Meski tak lagi
mampu membacanya saya hanya berharap pelukan itu bisa sedikit mengurangi rasa
sakit yang tak lagi mampu saya tahan. Saya tak akan terlalu berlebihan dengan
ini. Bukan hanya saya yang pernah merasakan pastinya. Dan hari ini, setahun
yang lalu nyawa saya dan laki-laki ini dipertaruhkan. Untuk pertama kalinya
jantungnya tak lagi berdetak di bawah jantung saya.
Tubuhnya
kecil saat itu. Pucat dan membiru. Saya sendiri tak mampu mendengar apapun
ketika itu, bahkan suara tangisnya...
Dan
detik ini kami meringkuk dalam selimut yang sama. Menikmati malam, dengannya
saja. Dia teman yang menyenangkan....
Saya
berusaha menulis tenang kami. Tapi rupanya begitu banyak di antara kami yang
tak bisa diverbalkan. Yah, beginilah jadinya...
Saya
hanya sanggup memandangi wajahnya sambil sesekali menoleh pada monitor. Sekian
detiknya lagi saya kembali menoleh padanya, kalau-kalau dia terganggu dengan
suara saya terbatuk atau barangkali ada serangga yang mengganggunya.
Rain...
Baru
setahun yang lalu laki-laki ini menyita habis perhatian saya. Saya masih punya
seumur hidup yang bisa Rain minta kalau dia mau.
Sungguh.
Saya tidak pernah mengajarkan Rain untuk selalu menjadi pemenang dalam setiap
kompetisi. Saya hanya Biyungnya yang ingin mengajarinya untuk bahagia dan
mencintai semesta. Rain memang baru satu tahun beberapa menit yang lalu. Tapi
saya yakin dia akan perlahan belajar hingga nanti pada saanya Rain dewasa, dia
akan menghargai setiap hal yang dimilikinya dan berbahagia dalam hidup yang
dipilihnya. Karena Rain bukan saya! Sulit memang menanamkan itu pada cara saya
mendidiknya. Mengingat Rain dikelilingi oleh lingkungan yang tidak terlalu
membuat saya dengan mudah menerapkan cara didik yang seperti itu.
Menjadi
orang baik itu harus! Tapi kalau Rain pintar itu bonus saja untuk saya dan Rain
:D
Rain
nggak harus bersaing dengan siapapun kecuali dengan dirinya sendiri. Saya pun
juga nggak akan sibuk membanding-bandingkan dia dengan siapa atau apapun. Saya
cuma ingin Rain bahagia, menikmati apapun yang dipilihnya dengan bertanggung
jawab.
Selamat ulang tahun, Le...
Biyung selalu berharap untuk segala kebaikan buat
kamu. Segala harap yang disemogakan oleh seorang ibu kepada anaknya. Biyung hanya
bisa jadi perempuan yang selalu ada di sisimu sampai suatu saat nanti kamu
memutuskan untuk tidak lagi membutuhkan Biyung.
Selamat ulang tahun, Rain. Jangan lupa untuk
selalu bahagia ya, Le...
Jangan lupa untuk selalu berbagi dan mencintai
semesta.
July, 31st 2015
I love you
for a thousand years.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar