Rabu, 09 September 2015

Belum Juga Tenggelam_



Cemburuku yang terakhir belum juga padam,
Sudah kau tambah lagi dengan yang ini.
***
Panjang sungguh kemarau yang ini, dan kering-kering mulai menggersang, hujan tak juga sudi datang menengok, gerimis pun tidak.
Hujan, sudah hilangkah kau dari musim? Bila mendung saja tak ada kau tampakkan, harus ku apakan kegersangan ini?
Yang kudapati tak bisa lain hanya fatamorgana, dan setiap detik-detik nyata adalah kemarau. Dan detik-detik itu sungguh panjang. Dan semakin lama semakin jelas, apapun kutemui, dimanapun detik-detik itu juga yang kudapati.
Lagi-lagi yang terpikir adalah, siapakah sahaya ini hingga berharap kau merindukanku?
Dalam harap kehadiran embun ini, aku bicara pada diriku sendiri:
Hai diriku, kau menuntut bulan di siang hari. Mengertilah, dan katakan ini padanya: siapapun, atau apapun yang kau rindukan, semoga kau selalu berbahagia dengan itu
***
Telah kuceburkan diriku dalam perelaan, meski belum juga tenggelam.

Belum Juga Tenggelam
Tulisan Hujan
Pada sisa-sisa malam
Dipagi yang masih gelap
27 Agustus 2015
Hujanku....
Apalagi yang kau cemburui dari kehidupan palsu perempuan ini?
Bukankah segalanya telahmenjadi jelas bagimu ketika selaksa rindu ini hanya kamu anggap bualan. Sederet kata yang lantas kamu kira kebohongan hanya karena aku tak juga bisa mewujudkannya seperti yang kamu inginkan.
Aku tahu ini sudah lebih dari setahun yang kuminta darimu. Dan hari-hari setelah itu menjadi semakin berat buatku. Aku merasa menjadi perempuan paling tamak yang tak mampu melepasmu ataupun lepas darinya. Aku menjadi perempuan tak punya hati yang membuiarkanmu sendiri disana sementara kebersamaan kami diikat oleh kebohongan.
Aku masih saja pengecut!
Masih saja perempuan yang sering bermimpi, tanpa punya keberanian untuk bangun dan menghadapi.
Apalagi? (sebenarnya) yang bisa dicemburui dari kepura-puraan ini, Hujanku? Memikirkannya saja badan ini sudah gemetar, ketakuan setengah mati. Tapi toh aku harus tetap bertanya.
Apa sebaiknya aku melepasmu?
Dan tak pernah mengganggu hidupmu (lagi)?
Karena aku tak punya apapun. Bahkan pembenaran pun tidak. Jadi apalagi yang bisa kuberikan padamu, Hujanku? Aku tak mau menipumu. Aku memang tak punya apapun.
Ditulis pada 28 Agustus 2015
Dalam ketakutan_



Banyak keajaiban yang saya saksikan sejak kehadiran Rain dalam hidup saya. Satu-persatu takjub iu tak ada alpanya menyita perhatian saya.
Seperti sehari yang lalu.
Hari pertama di bulan September. Bulan yang selalu membuat saya menjadi lebih sentimentil. Saya sedang membaca beberapa buku fabel milik Rain ketika tiba-tiba Rain sudah duduk di samping saya dengan wajah khas bayi bangun tidur. Alangkah terkejutnya saya, kagum lebih tepatnya. Mengetahui laki-laki kecil ini bisa bangun sendiri, turun dari tempat tidurnya dan langsung mencari saya.
Tak henti-henti saya ciumi pipinya. Memujinya, meskipun tak berlebihan. Lebih dari itu saya bangga pada diri saya sendiri.
Rain memang sudah jago naik turun kursi, tempat tidur dan tempat-tempat yang bisa dijangkaunya. Saya tak pernah terlalu khawatir ketika dia mengambil mainannya sendiri di kasur atau asyik dengan krupuknya di atas kursi sambil leyeh-leyeh. Sementara orang-orang meneriakinya dengan kalimat-kalimat kekhawatiran, saya hanya bilang “ Hati-hati yaaa...” dengan suara lantang yang kata “ya”nya di panjangkan. Kemudian orang-orang itu redam khawatirnya ketika Rain menyahut “yaaaa” dengan “ya” yang dipanjangkan juga. Setelah itu saya tinggal mengawasinya saja dari jauh sambil sesekali memintanya hati-hati. Kalau dia butuh saya, dia pasti memanggil “tcaaaaa....tcaaaaa...”. orang-orang akan memprotes caranya memanggil saya. Tapi saya suka dipanggil seperti itu olehnya. Saya memang Biyungnya, tapi dia boleh memanggil saya seperi itu. Suatu saat dia juga akan tahu. Saya hanya ingin dihormati dengan secangkir kopi yang kami minum berdua dengan tangannya merangkul pundak saya. Bukan dengan tetek bengek peraturan ala patriarkal yang seperti itu. Kami akan menghabiskan waktu berdua dengan bercerita. Itu saja, saya ingin jadi temannya juga.
Rain juga suka sekali bermain tanah. Saya senang melihatnya bermain. Tak jarang saya juga ikut berkotor-kotor ria. Saya penasaran dengan yang sedang dikerjakannya. Saya sering diolok karena itu. Dibilang nggak bisa ngurus anak lah apalah. Palingan saya cuma senyum. Biar saja Rain berkotor-kotor. Bermain tanah sepuasnya. Kelak saat dia dewasa mungkin tak ada lagi waktu yang kami miliki untuk seperti itu atau tanahnya yang sudah tak ada. Hahahaha
Dan saya bangga pada diri saya sendiri unuk semua yang saya banggakan dari Rain.
Karena jauh-jauh hari sebelum dia “fasih” naik turun tempat tidur dan kursi, saya mengajarinya untuk turun dari tempatnya dengan posisi kaki yang didahulukan. Kami pernah jatuh bersama. Tertawa. Kemudian mencoba lagi. Bukan hanya sekali dua.
Ahh sudahlah. Tak ada habisnya bercerita tentang Rain. Suatu saat mungkin dia juga akan membaca tulisan ini. Saya tak mau membuatnya jadi malu karena saya terlalu banyak bercerita sementara kekasihnya turut membaca di sisinya. Hahahaha
Le...
Semoga Biyung masih punya waktu sama kamu.
Jangan lupa untuk bahagia ya.

Ditulis pada Rabu, 02 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar