Ramai bunga berbaur dengan kilau emas
cahaya di bilik-bilik kayu. Harumnya berterbangan memenuhi teduh hari dalam dekapan
tenda-tenda sukacita. Ramai orang yang datang dan pergi seperti riang burung di
pagi musim semi. Setiap mereka mengaitkan damai pada kalian.
Hari
itu kamu menikah dengan dia. Aku sudah tidak mampu menahanmu lagi. Baru tadi
malam kita berbicara, tentang mimpi-mimpi pada jalanan yang akan kita lalui,
tentang kamu yang tidak menginginkan dia, hari ini kamu bersanding dengannya,
dengan pendar-pendar cahaya. Obrolan kita semalam masih jelas aku mengingatnya,
ini tidak lebih darisekedar sorak sorai untuk mengirimmu kembali padaku. Karena
kamu akan pergi begitu saja, meninggalkan dia setelah pesta ini selesai.
“Ini
hanya untuk orang tuaku, Hujanku... setelah ini aku akan datang padamu.” Ya,
itu hanya bius.
Kamu
melarangku datang, mungkin kamu tak sanggup melihatku, aku mungkin juga sama. Aku
hanya melihat kalian dari tempat yang hanya bias-bias keramaian saja yang ada. Melihatmu
bersanding dengan wajah itu, senyum itu. Ingin aku bakar saja rumahmu. Biarkan membara
seperti api melahap pohon-pohon di gunung gersang.
Seandainya
aku bisa
Akhirnya
juga hanya rokok yang aku habiskan daritadi, hampir tak ada jeda kepul asap
sejak aku datang.
“Apa
kamu tidak mengingatku yank, aku seperti apa disini? Bagaimana kamu masih bisa
tersenyum di sana?”
Jantungku
terus berpacu dari tadi, meledak-ledak, keringat dingin, berkali-kali rokokku
jatuh. Tanganku gemetar. Bumi ini serasa dihampar gempa dahsyat yang meratakan
gunung. Bajuku sudah mulai basah, wajah ini begitu deras.
Bagaimana
tidak, melihatmu seperti itu, bersanding dengannya. Belum lagi pada malam-malam
kalian nanti. Pada hari-hari yang akan kalian lalui. Pada melati di ranjang
kalian, pada wangi-wangi yang memenuhi kamar.
Aku
nggak tahu bagaimana aku akan melewati itu, aku bahakana tidak tahu apa aku
masih bisa sampai pada waktu itu. Rapuh jiwa ini terus meminta untuk segera
mencukupkan hidup.
“Untuk
apalagi aku hidup? Untuk apalagi Yank?” kata-kata itu terus mengalir sejak
sembilan hari yang lalu.
Aku
adalah kelam duka. Aku adalah rintih karang yang terbisukan dengan hantaman
badai kesakitan. Aku adalah luka pada remang-remang hari yang tertelan gelap. Aku
adalah sepenggal angin lara yang tersayat-sayat. Aku adalah serpih-serpih
reruntuhan yang diabaikan waktu. Aku adalah sepenggal kata pada baris-baris
puisi. Aku adalah rasa sakit yang meronta ketakutan pada manis kelam hidup yang
akan usai.
***
Aku
menemukannya ketika sorak sorai bumi mulai memudar, di tepi danau yang airnya
merona menelan senja. Ketika kilau bunga sejati mulai mengembang pada beberapa
ruang yang mulai terbebas, mengaromakan wangi-wangi yang masih tersisa dari
kejam waktu sebelumnya.
Riang
angin berebut menelisik helai-helai rambut yang dia biarkan terurai. Sepipih
demi sepipih mengantarkan senja menjemput penuh bulan.
Hari
sudah mulai gelap, hanya beberapaa serpih sinar bulan yang sampai di sini. Tapi
entah,kali ini itu terabaikan. Gelap hari yang biasa menyeretku pulang tak
sedikitpun terlihat. Mataku terpaku padanya, yang berdiri di tebing danau, di
tempat yang tak biasa ditemukan orang. Menikmati pandangannya sepertijernih air
di gunung perawan. Malam terus memenuhi sela-sela bebatuan, tak sedikitpun
ruang yang dibiarkannya tercerahkan. Basah udara menelusup di antara
tulang-tulang yang meletih, membawa dingin.
Dia,
masih disana, seperti meluluh menjadi sandaransinar bulan yang kemudian
berpendar ketika sampai padanya. Dia seperti mendengar lantunan melodi malam. Nyanyian
sukacita angin dan riang sinar bulan.
Gemerisik
air membawa pandanganku sejenak terlepas darinya....
Semakin
gelap, sudah malam, waktunya pulang. Tapi aku masih tertuju padanya, masih
ingin tetap disini melihat bagaiman dia begitu mencair. Setelah langkah
pertama, aku berteriak.
“Hai,
kamu ngapain disana?”
Dia
terkejut, baru kali ini pandangannya teralihkan dari entah apa yang dia lihat
sejak senja.
“Bunga
di malam hari, hanya mereka yang terjaga yang dapat menikmatinya.”
Terdengar
lembut. Kemudian dia tersenyum dan mengabaikanku lagi.
Aku
tercengang, entah darimana dia mendapatkan kata-kata itu. Satu hal yang pasti,
perempuan itu mencintai malam....
Dua puisi ini
ditulis oleh Hujan,
Pada hari
dimana hatinya terluka.
Ketika waktu
tak pernah memihaknya_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar