Jumat, 18 Oktober 2013

Kamar


Kamar adalah rumah, di dalam rumah. Tempat dimana saya menjadi diri saya. Mendengarkan The Magic Flute yang kamu kirimkan ke handphone saya beberapa hari lalu. Tempat saya menghindari keriuhan sebuah pesta pernikahan yang hanya tinggal beberapa hari saja, tak sampai seminggu.
Pernikahan yang saya maksud ini adalah gambling yang saya katakan padamu, meski kamu menyangkalnya mentah-mentah. Kamu tak setuju jika saya mempertanyakan harapan seperti apa yang mampu dijanjikan sebuah pernikahan sampai begitu banyak orang menganggapnya begitu agung. Saya katakan padamu jika pernikahan hanya sebuah perjudian dimana dengan modal sedikit mungkin; biasanya cinta, saya bertaruh untuk untuk mendapatkan pasangan, mas kawin, keturunan, janji-janji, seks, pembantu, sopir dan banyak lagi.
Saya mengerti penolakanmu, tapi saya tak sedang jatuh hati pada laki-laki bodoh_meski menikahi laki-laki yang tak sepintar kamu.
Apa yang harus saya katakan, sayang?
Yah, saya sama sekali tidak sedang berusaha membuatmu berpikir dengan sudut pandang saya. Saya hanya butuh kamu, seperti kamar ini.
Kamu yang membiarkan saya menjadi apapun, membuat saya nyaman. Saya jatuh cinta pada itu darimu. Dan seperti kamar ini, saya tak menceritakan apapun tapi kamu tahu_seharusnya kamu tahu.
Pernikahan ini bukan apapun untuk saya, tapi kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar