Kamar
adalah rumah, di dalam rumah. Tempat dimana saya menjadi diri saya.
Mendengarkan The Magic Flute yang kamu kirimkan ke handphone saya beberapa hari lalu. Tempat saya menghindari keriuhan
sebuah pesta pernikahan yang hanya tinggal beberapa hari saja, tak sampai
seminggu.
Pernikahan
yang saya maksud ini adalah gambling
yang saya katakan padamu, meski kamu menyangkalnya mentah-mentah. Kamu tak
setuju jika saya mempertanyakan harapan seperti apa yang mampu dijanjikan
sebuah pernikahan sampai begitu banyak orang menganggapnya begitu agung. Saya
katakan padamu jika pernikahan hanya sebuah perjudian dimana dengan modal
sedikit mungkin; biasanya cinta, saya bertaruh untuk untuk mendapatkan pasangan,
mas kawin, keturunan, janji-janji, seks, pembantu, sopir dan banyak lagi.
Saya
mengerti penolakanmu, tapi saya tak sedang jatuh hati pada laki-laki
bodoh_meski menikahi laki-laki yang tak sepintar kamu.
Apa
yang harus saya katakan, sayang?
Yah,
saya sama sekali tidak sedang berusaha membuatmu berpikir dengan sudut pandang
saya. Saya hanya butuh kamu, seperti kamar ini.
Kamu
yang membiarkan saya menjadi apapun, membuat saya nyaman. Saya jatuh cinta pada
itu darimu. Dan seperti kamar ini, saya tak menceritakan apapun tapi kamu
tahu_seharusnya kamu tahu.
Pernikahan
ini bukan apapun untuk saya, tapi kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar