Saya percaya itu.
Kalau sedikit banyak apapun yang saya baca akan mempengaruhi yang
saya tulis. Meskipun proses kreatif yang terjadi pada saat pengolahan
(sebutlah) data akan turut mengubah hasil menjadi seperti bagaimana karakter si
empunya.
Gelombang (Dee Lestari)
Pulang (Tere Liye)
Selingkuh (Paulo Coelho)
Norwegian Wood (Haruki Murakami)
Go Set A Watchman (Harper Lee)
Kesatria Cahaya (Paulo Coelho)
Sempat membaca buku-buku ini dalam beberapa bulan terakhir. Dua yang
teratas mengkontemplasikan cara pandang saya pada bagaimana sisi maskulin dari
sebuah karater dibentuk dengan cara yang begitu berbeda.
Adalah Alfa dan Bujang, dua karaker utama dalam dua novel tersebut,
yang sama-sama diceritakan sebagai putra daerah yang meninggalkan kampung
memulai kehidupan baru di tempat yang juga sama sekali baru. Meskipun demikian
penulisnya sama-sama memasukkan beberapa unsur kedaerahan untuk mencegah dua
karaker ini tercerabut dari masa lalunya yang juga ihwal dari dimulainya
cerita.
Bujang. Karakter yang dibentuk cerdas dalam hal strategi perempuran
oleh penulisnya. Sedikit bumbu politik ekonomi dan lebih dominan perannya dalam kelompok. Shadow economy (yang
belum saya paham hingga saat ini) mendandani karakter Bujang ini menjadi
laki-laki maskulin yang identik dengan adu otot, adu jotos. Pencitraan yang
acap kali disebut dengan “cowok macho” bisa didapatkan dengan segala kekuatan
fisik yang ditempel Bujang. Di dukung dengan penciptaan lingkungan khas mafia
yang tak jauh-jauh juga dengan kekerasan.
Lain Bujang lain Alfa. Saya mencoba untuk objektif, meskipun saya
pribadi menyukai laki-laki semacam karakter si Alfa ini. Alfa lekat dengan
citra cerdas secara empirik dan emosional. Tak terlalu ada kekerasan (bahkan
hampir tak ada). Sama sekali berbeda dengan tokoh sebelumnya. Alfa identik
dengan mimpi, buku, seks (tak terlalu juga), gitar dan teori-teori. Tapi Dee
menciptakan karakter maskulin dengan caranya sendiri. Maskulin yang menurut
saya...PAS! tidak melulu otot begitu yang disematkan ketika yang disebut adalah
laki-laki. Alfa cenderung cerdas secara intelektual. Saya suka!
Dan...
Ketika dihadapkan pada karakter maskulin yang saya bentuk sendiri.
Dua tokoh di atas sedikit banyak mempengaruhi saya. Tapi entah bagaimana saya
merasa karakter ini tak pernah cukup maskulin. Keterbatasan pengetahuan yang
saya miliki juga membuatnya tak cukup seperti yang sya inginkan. Lagi-lagi saya
berlari pada komparasi ini itu lagi, yang begini begitu lagi. Bagaimana cerita
dan lingkungan yang saya bangun turut menempa karakter ini seperti yang saya
mau.
Sepertinya saya harus lebih banyak membaca lagi! Fix!
Kau tahu? Hal paling menyenangkan
dari menulis karangan adalah kau bisa menjadi siapapun yang kau mau. Dan
menjadikan apa saja seperti kehendakmu. You’re the BOS!
Ditulis pada 13 Februari 2016
Setelah sebuah kontemplasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar