Jumat, 19 Februari 2016

Being Affected_



Saya percaya itu.

Kalau sedikit banyak apapun yang saya baca akan mempengaruhi yang saya tulis. Meskipun proses kreatif yang terjadi pada saat pengolahan (sebutlah) data akan turut mengubah hasil menjadi seperti bagaimana karakter si empunya.

Gelombang (Dee Lestari)

Pulang (Tere Liye)

Selingkuh (Paulo Coelho)

Norwegian Wood (Haruki Murakami)

Go Set A Watchman (Harper Lee)

Kesatria Cahaya (Paulo Coelho)

Sempat membaca buku-buku ini dalam beberapa bulan terakhir. Dua yang teratas mengkontemplasikan cara pandang saya pada bagaimana sisi maskulin dari sebuah karater dibentuk dengan cara yang begitu berbeda.

Adalah Alfa dan Bujang, dua karaker utama dalam dua novel tersebut, yang sama-sama diceritakan sebagai putra daerah yang meninggalkan kampung memulai kehidupan baru di tempat yang juga sama sekali baru. Meskipun demikian penulisnya sama-sama memasukkan beberapa unsur kedaerahan untuk mencegah dua karaker ini tercerabut dari masa lalunya yang juga ihwal dari dimulainya cerita.

Bujang. Karakter yang dibentuk cerdas dalam hal strategi perempuran oleh penulisnya. Sedikit bumbu politik ekonomi dan lebih dominan  perannya dalam kelompok. Shadow economy (yang belum saya paham hingga saat ini) mendandani karakter Bujang ini menjadi laki-laki maskulin yang identik dengan adu otot, adu jotos. Pencitraan yang acap kali disebut dengan “cowok macho” bisa didapatkan dengan segala kekuatan fisik yang ditempel Bujang. Di dukung dengan penciptaan lingkungan khas mafia yang tak jauh-jauh juga dengan kekerasan.

Lain Bujang lain Alfa. Saya mencoba untuk objektif, meskipun saya pribadi menyukai laki-laki semacam karakter si Alfa ini. Alfa lekat dengan citra cerdas secara empirik dan emosional. Tak terlalu ada kekerasan (bahkan hampir tak ada). Sama sekali berbeda dengan tokoh sebelumnya. Alfa identik dengan mimpi, buku, seks (tak terlalu juga), gitar dan teori-teori. Tapi Dee menciptakan karakter maskulin dengan caranya sendiri. Maskulin yang menurut saya...PAS! tidak melulu otot begitu yang disematkan ketika yang disebut adalah laki-laki. Alfa cenderung cerdas secara intelektual. Saya suka!

Dan...

Ketika dihadapkan pada karakter maskulin yang saya bentuk sendiri. Dua tokoh di atas sedikit banyak mempengaruhi saya. Tapi entah bagaimana saya merasa karakter ini tak pernah cukup maskulin. Keterbatasan pengetahuan yang saya miliki juga membuatnya tak cukup seperti yang sya inginkan. Lagi-lagi saya berlari pada komparasi ini itu lagi, yang begini begitu lagi. Bagaimana cerita dan lingkungan yang saya bangun turut menempa karakter ini seperti yang saya mau.

Sepertinya saya harus lebih banyak membaca lagi! Fix!

Kau tahu? Hal paling menyenangkan dari menulis karangan adalah kau bisa menjadi siapapun yang kau mau. Dan menjadikan apa saja seperti kehendakmu. You’re the BOS!



Ditulis pada 13 Februari 2016
Setelah sebuah kontemplasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar