Jujur.
Saya tak pernah mampu membangun sebuah hubungan bahkan untuk sekedar
devinisi imajiner yang sanggup diangan-angankan bahkan hampir setiap orang. Kemampuan
atau sebutlah keberanian itu purna setelah hidup saya dijejali tentang
pemahaman sebuah rasa yang dikonversi menjadi selembar kertas yang sama sekali
tak sarat makna (untuk saya). Legalitasnya juga menghalalkan hal-hal yang tak
sanggup dicerna oleh nalar menjadi begitu skeptis.
Saya sendiri terjebak di dalamnya.
Untuk kesalahan masa silam yang dosanya ditanggung hingga tua. Tak apa
(sepertinya). Semua ini mengajarkan saya untuk selalu mencari celah menemukan
kesenangan sendiri diantara begitu banyak pengertian yang tidak mampu saya
telaah satu persatu.
Kamu.
Mungkin menjadi salah satu pengait hubungan yang satu sisinya saya
retas. Entah apa atau siapa yang berada di ujung lainnya. Tapi saya memang tak
mau menerterjemahkan apapun diantara kamu dan saya menjadi lingua yang dipahami
oleh banyak orang, pun kode-kode yang menuntun pemahaman menuju arti itu
sendiri.
Sebuah hubungan terbangun, terjalin. Tapi tak pernah terikat.
Seperti saya dan entah apa darimu yang tak pernah punya pola pasti,
tapi hampir tak pernah runtuh.
Biar saja ya?
Biar saja seperti ini.
Keharusan begini begitu ini itu tak pernah membuat kamu dan saya
lebih baik (nyatanya). Pun tak perlu mencatut kesamaan arti dari pengertian
pikir yang lain. Menjadikannya patokan yang lantas mengecap kamu dan saya
menjadi yang miring diantara mereka.
Bagaimana ini dinikmati dan dipelajari, itu saja.
Ditulis pada 19 Februari 2016
“Slow Dancing in A Burnin’ Room”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar