Sudah lebih
dari sebulan saya dan Hujan tidak bertemu. Hal terakhir yang mampu saya ingat
adalah tatapan matanya yang menghujam jantung saya tanpa ampun ketika saya
memintanya pergi. Sedetik kemudian kegelapan malam yang begitu saya cintai
membawanya dan menyisakan bayangan punggungnya yang semakin menghilang.
Meski telah lama mengenal satu kata
itu, saya tidak pernah dengan begitu fasih menterjemahkan maknanya. Bahkan
cenderung gagap dan sangat abstrak. Bagi saya rindu adalah beberapa detik,
menit, jam atau seumur hidup saya yang tercuri dari sesuatu yang saya lakukan
saat itu. Beberapa detik yang saya curi ketika saya dengan secangkir kopi dan
seorang kawan tapi pikiran saya berlari pada sebuah ingatan tentang kardus
bekas dengan tulisan “HBD, Honey.... I LOVE U” yang diletakan bersebelahan
dengan buku Dunia sophie di atas WC duduk. Beberapa menit yang saya curi ketika saat saya dengan kerlip
kursor tapi pikiran saya melayang pada sebuah sore di alun-alun kota Batu. Ketika
jalanan membawa kami mencari hujan yang turun hanya sekedar untuk
berbasah-basahan tapi kami justru basah di arena air mancur alun-alun kota
Batu. Beberapa jam yang saya curi ketika saya sedang sikat gigi tapi pikiran
saya menerawang pada melati dan pandan wangi dalam gelas-gelas kaca yang sudah
mengering dan tak pernah berarti apapun untuk saya.
Dan rindu (mungkin) adalah seumur
hidup yang saya curi dari jatah napas saya untuk tak pernah melupakan suatu
senja ketika saya memintamu duduk di
tepi jalan dan saya di tepi lainnya. Banyak nyanyian tonggeret tangis dan
burung-burung malam yang mulai mengeliat bangun, tapi saya masih memintamu
mendengarkan alunan Melody of Tears yang membuat saya menulis sebuah puisi
untukmu. Bukan puisi pertama, tapi senja itu kali pertama saya membacakannya sendiri
untukmu. Yah, groginya setengah mampus. Bukan lantaran saya sudah lama tak
memverbalkan puisi-puisi yang saya tulis, lebih karena saya takut kamu
menemukan alur untuk menyusuri kemana habisnya detik hidup saya selama ini.
Iya, saya masih saja menyelipkan kamu dalam ribuan kata yang diperas menjadi
satu kata. Rindu.
Rasanya senja itu tak pernah menjadi
kabur dari hidup saya. Meski setelahnya hidup saya hanya seperti orang
melindur. Somniloquy. Melewatkan setiap malam dengan bayangan hitam yang
menggantung, merangkak di langit-langit kamar, merayap di dinding dan mencekik.
Rasa sakit cekikkannya masih bersisa hingga kata orang saya sudah bangun.
Sementara tak ada yang kamu bicarakan, tak ada yang lebih kamu inginkan
daripada mati.
Mati.
Nalar dan nurani saya tak pernah mampu
memahami konsep dan fase-fase mati yang selalu kamu bicarakan. Atau Requiem
yang menjelma menjadi nyanyian jarum jam yang melentingkan saya pada ketakutan
jika bumi menelanmu, mayatmu. Entah berapa kali saya mencoba membuatmu melihat tak
hanya sekedar dengan mata, yang semua orang bisa lakukan. Yang semua orang bisa
lihat tentang kehidupan yang saya jalani. Tapi buatmu apapun yang saya katakan
tak punya arti sampai saya melakukannya. Yah, kamu bilang kamu butuh tindakan.
Lebih butuh tindakan daripada apapun yang saya katakan.
Tulisan ini, sungguh! Saya tak
bermaksud hanya sekedar berkata-kata saja tanpa tindakan atau terlebih
mengkomersilkannya untuk membuat lukamu (dan saya) dinikmati. Tulisan ini
adalah tidakan saya. Untuk membuatmu bertahan hidup. Untuk membuat semua yang
membacanya membuatmu bertahan hidup. Tindakan kecil yang tak mampu menyuapimu
tempe goreng hangat. Tindakan kecil yang tak mampu menyelipkan jemarinya
diantara gemeretak gigi dan badanmu yang kejang. Tindakan kecil yang tak mampu
menyeka darah mimisan dari hidungmu. Tindakan kecil yang tak mampu membersihkan
bekas muntah di lantai kamarmu. Tindakan kecil yang tak mampu menjawab jantung
siapa yang berdetak di bawah jantungku.
Tentang tulisan-tulisan dan hidup saya
yang kamu bilang seperti novel, hidup saya yang kamu bilang fiktif. Entahlah,
tapi saya memilih untuk terus hidup meski saya sendiri tak pernah tahu
kehidupan seperti apa yang saya jalani.
Hujanku....
Ada saat dimana harapan dan
kebahagiaan cukup datang dari satu alasan saja, satu orang saja. Ada juga saat
dimana harapan dan kebahagiaan datang dari alasan yang berbeda-beda. Tapi ada
juga saat dimana kita bahkan tak pernah tahu darimana harapan dan kebahagiaan
itu datang.
Ada dua hal di dunia ini.
Yang kita yakini tanpa perlu kita
tahu.
Dan yang kita tahu tapi tak pernah
kita yakini.
Ah,
Rupanya kali
ini rindu membuat saya mencuri beberapa detik dari suara beradu rel dan roda
besi kereta Tawangalun untuk kembali
pada Hujan. Hujan di kota Kau Puisi.
nice story...
BalasHapusterimakasih :)
HapusTerima Kasih sudah ikutan GA kami, saam kenal, semoga sukses ya!
BalasHapussalam kenal :) terimakasih
Hapuslove the diction!
BalasHapusterimakasih :D
Hapus